zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

Kronik Masa Sekolah

Dalam perjalanan jenjang pendidikan TK-SMA, saya mempunyai banyak hal menyenangkan. Saya ingin bercerita, setidaknya satu hal yang saya ingat pada tiap jenjang tersebut. Saya masih ingat bagaimana tumbuh dari anak kecil yang diantar Mama ke depan gerbang sekolah, sampai menjadi anak remaja yang melompati pagar sekolah.

Ini bukan hal yang patut dibanggakan. Ini hanyalah kepingan masa lalu. Ada yang baik, ada juga yang buruk. Tidak menarik jika hanya menceritakan baik-baiknya saja. Lagipula, saya bukan tipe anak rajin yang rapornya bagus melulu. Saya pernah bandel, dan itu bukan kesalahan yang saya sesalkan. 

"Semoga menjadi bijaksana dengan tidak menghakimi masa lalu dengan keadaan dimasa kini."
Milea Adnan Husein

Tamparan Pertama

Ketika anak-anak lain sibuk mengerumuni Joko, teman saya yang memperkenalkan sosis so nice di sekolah, saya sibuk memperhatikan Alina, perempuan tercantik se-TK saya. Di sekolah, ia selalu bersama temannya, Madina.

Alina ini datang dari keluarga terpandang. Saat itu, Bapaknya punya hotel yang cukup terkenal. Makanya saya heran kenapa bisa masuk ke TK yang berada di dalam lorong. Asumsi saya karena Madina, temannya yang juga sekolah di sana. Mereka memang tidak pernah jalan sendiri-sendiri. Seperti dua kakak-adik yang siap menerkam jika ada yang menganggu mereka.

Sebagai gambaran, meski cantik dan manis, Alina cukup menyeramkan untuk beberapa orang. Apalagi bersama Madina, mereka tak segan-segan mencubit atau memarahi teman-teman yang mengusilinya. Mungkin karena saya terlalu cepat puber, Alina jadi cinta pertama saya.

Saat Joko masih bergelut dengan sosis ditangannya, saya mencoba mendekati Alina yang sedang mengambil sesuatu di dalam tasnya yang berada di semacam loker kayu. Saat itu, Joko sedang menunjukkan aksi membuka segel sosis yang terbuat dari bulatan besi itu. Alina yang melihat saya mendekat, seakan sudah memasang ancang-ancang. Ia bertanya,"ada apa?"

Alasan saya berani mendekati Alina karena ia sedang sendiri. Saya menjawab seadanya, sejujurnya, bahwa saya ingin mengajaknya bermain ayunan. Alina menolak. Alasannya karena panas matahari. Saya bersikukuh untuk tetap mengajaknya. Itu adalah waktu emas yang tidak boleh disia-siakan.

Tanpa saya sadari, Madina datang. Ia bertanya kepada Alina apakah saya menganggunya. Alina mengatakan hal yang sebenarnya. Mungkin karena mengira saya ingin mengusili Alina, Madina tegas bertanya langsung ke saya perihal apa maksud dan tujuan saya menghampiri Alina.

"Saya cuma mau ajak Alina main ayunan."

"Kamu mau usil? Mau goda Alina?"

Alina mendekat, menampar saya dengan sekejap, kemudian menarik Madina menjauh. Tamparannya tidak keras, apalagi dengan tangannya yang lembut. Asumsi saya, itu hanya cara Alina membebaskan saya dari Madina. Setelah itu, saya tidak pernah lagi mendekatinya. Benar teman-teman, Ji Chang-wook kalian pernah kena tampar perempuan.

Batu Ninja

Salah satu hal yang saya senangi saat SD, adalah kebebasan untuk keluar-masuk pagar. Kebetulan saat itu, tidak begitu banyak kantin sekolah. Itupun adanya waktu saya naik ke kelas 4 atau 5, seingat saya. Karena itu, guru-guru mengijinkan kami keluar-masuk pagar asal pada jam istirahat. Di depan gerbang biasanya ada penjual somai, buah, dan koke-koke (penjual mainan). 

Di penjual koke-koke itulah saya biasanya membeli komik dua ribuan. Kalo lagi ingin makan enak, saya biasanya ke samping sekolah, penjual nasi goreng yang harganya dua ribuan. Lauknya cuma dua: tempe yang dipotong kecil dan dibumbu manis dan telur dadar yang disuwir. Tentu kerupuknya ada, jadi pada masa itu, makan bisa semurah itu.

Terus kalau bosan nasi goreng, kita bisa ke warung yang jaraknya hanya beberapa meter dari warung nasi goreng itu. Menunya nasi kuning, tapi bukan seperti nasi kuning biasa. Ia disiram sayur dan air ikannya benar-benar menggugah selera. Terus dia ada lauk bakwan juga. Harganya mirip-miriplah dengan nasi goreng tadi.

Kronik Masa SekolahTidak sengaja nemu gambar ini di google. Foto penampakan SD saya masa itu, kurang lebih begini | sumber: sekolah kita

Saya biasanya selalu datang pagi sekali. Entah untuk main kelereng, ngobrol soal bola sebelum apel, atau agar dapat tugas membuang sampah. Biasanya kalau satu guru sudah datang, atau saat proses apel sedang berlangsung, beberapa murid laki-laki ditugaskan untuk membawa sampah. Biasanya tempat sampah yang dibawah itu dua-tiga tempat sampah. Setiap tempat sampah dipegang oleh dua-empat anak.

Dari dua-tiga tempat sampah itu, biasanya yang pergi keroyokan. Jadi kalo hari itu sampah yang mau dibuang ada dua tempat, yang pergi sepuluh orang atau lebih. Biasanya kami pake shift-shiftan. Shift pergi dan shift pulang. Paling enak buang sampah adalah saat apel, jadi kami ngga perlu mendengar lagi wejangan dan protokol pada saat apel pagi.

Jarak dari sekolah ke tempat sampah itu hanya melewati satu pertigaan. Ada dua jalur yang dipakai, yang pertama adalah jalur utama itu atau yang kedua adalah jalur tikus yang melewati dua pembelokan. Biasanya, kami saling lomba-lombaan siapa yang paling cepat dari dua rute itu. Setelah sampai dan tugas selesai, kami iseng ke pinggir laut. Jaraknya hanya dibatasi dua ruas jalan.

Di pinggir laut itu, kami biasa membuat semacam permainan batu ninja. Ini sebutan yang saya buat-buat saja. Aslinya nama permainan ini tidak ada, atau tidak pernah disebutkan. Jadi aturan permainannya kami melempar batu ke permukaan laut, batu siapa yang paling banyak meloncat dialah pemenangnya. Jadi batu yang dipakai benar-benar harus bagus, syarat utamanya mesti pipih.

Saya biasanya dapat tiga-empat lompatan. Tapi karena teman saya punya teknik lemparan yang cukup bagus, ia biasa dapat empat-enam lompatan. Permaianan ini jadi hal yang selalu kami lakukan saat membuang sampah. Menghabiskan waktu dengan hal ini ketimbang apel pagi. Jadi kalau saya katakan dulu saya adalah anak yang bandel, ini bisa jadi alasannya.

Monyet Simbal

Sewaktu SMP, saya masuk ekskul Marching Band. Sebenarnya bukan benar-benar keinginan saya, tapi waktu itu saat pulang sekolah, saya melihat teman seangkatan di satu ruangan kosong sedang bermain game NFS: Most Wanted. Karena terlihat seru, saya nimbrung nonton bareng yang lain. Karena lama di sana, kami jadi banyak ngobrol. Singkat cerita, orang tersebut yang bernama Sufyan, mengajak saya untuk ikut ekskul marching band.

Pada masa itu, ikut ekskul jadi salah satu batu loncatan menuju populer. Setidaknya untuk adik-adik kelas, kita bisa kelihatan lebih keren. Datanglah saya pada hari yang ditentukan. Saat turun di depan sekolah, saya masuk dengan hati-hati melewati gerbang sekolah. Di gerbang kedua, tepat di posko jaga, terdengar beberapa orang sedang ngobrol.

Saya memilih duduk saja di depan, menunggu Sufyan. Ketika sudah hampir ramai, saya mulai merasa tak enak. Sufyan sudah masuk, mengecek alat. Saya semapt diajaknya, tapi saya memilih ngobrol bersama Fadil, teman saya dari SD. Dia juga ikut marching band, memegang alat trompet. Dalam hati, saya berharap agar tidak mendapat alat tersebut.

Ketika pelatihan sudah datang, saya buru-buru ikut yang lain mengambil alat. Penerimaan anggota baru sudah berjalan lama, mungkin satu semester seingat saya. Jadi mereka sudah memiliki alat masing-masing. Ketika selesai menunggu mereka mengambil alat, yang tersisa hanya beberapa alat sisa yang sudah rusak dan tidak layak pakai.

Mata saya liar mencari alat, seandainya menemukan satu alat yang bagus, akan buru-buru saya ambil. Sufyan yang memegang kunci saat itu sudah mau menutup pintu, ia bertanya kepada saya tentang apa masalah yang sedang saya alami. Setelah menjelaskan, ia lalu mengajak saya untuk turun saja ke bawah. Anggota baru yang belum memiliki alat tentu bisa diwajari.

Di bawah, saya bertemu dua pelatih. Satu gemuk brewok tipis, satu kurus dan lincah. Ketika sudah hendak berlatih, saya kemudian diinterogasi. Saya menjawab seadanya, bahwa saya diajak oleh Sufyan untuk menjadi anggota marching band di sini. Pelatih yang gemuk itu bernama Kak Uka. Ia menyuruh saya untuk naik ke atas, mengambil sebuah alat bernama simbal.

Karena tak tahu, saya ajak Fadil untuk menemani saya. Satu hal yang baru saya sadari adalah, alat bernama simbal itu adalah alat yang kastanya cukup rendah dibanding alat yang lain. Alat yang ada dimainan monyet-monyet anak kecil. Sampai saya turun, saya tidak menyangka akan mendapatkan banyak lirikan. Bukan ke arah saya, lebih tepatnya ke arah alat yang saya pegang.

Ketika latihan gabungan, saya sempat bertanya cara memainkan alat tersebut. Kalo alat macam pianika, blira, dan trompet kan mereka punya partitur. Kalo alat macam senar, bass, atau tenor mereka punya yang namanya ketukan. Nah, simbal ini agak berbeda. Ketika bertanya bagaimana cara memainkannya, pelatih hanya menjawab simpel,"ketika ada suara yang kosong, disitu kamu masuk."

Hal itulah yang saya terapkan. Teman-teman dan kakak kelas yang lain sudah melirik lebih dulu, menanti ketika saatnya tiba. Satu musik dimainkan, diiringi gitapati yang memimpin pasukan marching, mengatur tempo, dan mempunyai wewenang memulai dan memberhentikan lagu. Ketika musik sudah dimulai, saya menunggu fokus, menunggu jeda musik yang dimaksud.

Senar bermain. Jeng. Jeng. Jeng. Jerejeng. Jeng. Musik kosong. Saya akhirnya masuk. Diiringi tawa dari anggota dan pelatih. Seketika pelatih menyuruh gitapati untuk berhenti. Tidak ada yang salah. Hanya memang kalau diingat lagi, itu terlihat begitu lucu. Bagaimana sebuah stigma yang sudah mengakar, dikawinkan dengan anak polos yang tidak tau apa-apa.

Tiga hari berikutnya, saya dipindahkan. Saya masuk dan bergabung bersama Fadil, memegang alat trompet. Sampai tamat SMP, alat itulah yang setia saya pegang. Saya masih menghapal basicnya. Jika disuruh memainkan lagu dengan partitur saya juga masih yakin bisa. 

Kronik Masa SekolahKim Je-ha vibes | circa 2014

Dulu cita-cita saya adalah membeli trompet pribadi untuk saya pakai di rumah. Tapi setelah satu waktu saya membawa trompet ke rumah untuk latihan, saya malah di larang karena suaranya terlalu ribut.

Rumah Oma

Naik SMA, saya tidak lagi mengikuti ekskul apa-apa. Saya menjadi siswa biasa. Pada saat penjurusan, saya memilih IPS karena menghindari angka dan rumus. Sempat berpikir untuk pindah ke IPA, karena sebagian teman saya ada di sana. Tapi saat saya tanya ke guru, saya malah balik diceramahin.

Di SMA, saya masih cenderung bandel seperti kebanyakan remaja pada umumnya. Ijin ke toilet tapi ke kantin atau musalah. Tidak apel dan upacara karena atribut tidak lengkap. Sampai bolos dan lompat pagar. Itu cerita-cerita masa SMA yang cukup menyenangkan. Kelas tiga, itu saat sistem fullday diberlakukan. Datang jam 7 pagi dan pulang jam 3 sore.

Biasanya, setelah salat Jumat mata pelajaran Agama. Guru yang mengajar sering tidak masuk. Satu orang biasanya bertugas melihat di halaman sekolah, apakah mobil guru tersebut ada atau tidak. Kalau ada, setelah salat Jumat kami akan kembali. Tapi kalau tidak, kami menyusun rencana untuk bolos dan lompat pagar.

Kebetulan, di samping kelas kami adalah kantin. Kantin itu bersebrangan dengan gedung bulog, hanya dibatasi pagar yang diberi kawat. Satu orang yang membawa motor, biasanya sudah menunggu satu teman yang melompat pagar. Orang yang melompat ini bertugas membawa tas-tas kami. Setelah urusan tas beres, kami bisa bolos tanpa perlu melompat pagar semua. Cukup melewati gerbang sekolah seperti biasa.

Kami bertemu di Rumah Oma. Rumah Oma adalah rumah milik Oma teman kami, Aryo. Di sana, kami biasanya nongkrong untuk bolos. Kami duduk sampai jam 3 sore, jam pulang anak sekolah. Setelah salat Jumat, yang biasa kami lakukan adalah ngobrol. Kalau ada makanan, kami makan. Biasanya yang gerah bisa mandi, tapi siap-siap kami kerjai, kami rekam.

Di depan Rumah Oma ada sebuah pohon mangga. Pada saat musim mangga tiba, kami menyuruh Erdin untuk memetiknya. Sekalian untuk Jihan yang datang juga meminta. Di Rumah Oma, kami banyak menghabiskan waktu. Bahkan di luar waktu bolos, itu semacam base camp kami. Maka tak heran setelah lulus, saya sangat merindukan masa-masa bersama di Rumah Oma. Bersama kawan-kawan SMA yang tumbuh bersama saya saat itu. 


Tulisan ODOP hari ke-4 ini adalah tema dari kronik masa sekolah, pengalaman dari jenjang pengalaman saat sekolah. Baca juga tulisan teman-teman yang lain:

Related Posts

24 comments

  1. aku ngakak pas baca cinta pertama pas TK mas
    aku malah lupa pas TK ngapain aja saking lamany'a
    etapi kadang ada lo anak cewek yg entah kenapa sekolah di sekolah biasa padahal bisa dikatakan kaya atau terpandang
    main simbal itu emang susah
    dulu pas masih ngajar susah banget cari anak yg main simbal
    kelitannya si mudah tapi pas digabungin eh mesti bunyinya gemebreng

    lapangan SD jamanku dulu juga gitu kering dan belum dipaving
    eh pas lulus baru dipaving dan bagus heuhueu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pengalaman cinta pertama yang pait. Ha ha ha.

      Oh, menang kadang seperti itu yah? Soalnya heran, karena saat itu keluarganya cukup terpandang, dia bisa saja masuk ke TK dengan fasilitas terbaik. Tapi seakan-akan, dia masuk ke TK itu cuma untuk nampar saya. Ha ha ha.

      Tapi saya lebih senang dengan lapangan atau halaman yang seperti ini. Main bola jadi enak, bisa main kelereng juga

      Delete
  2. Hahaha kocak yg part simbal ituuu 😂
    Pasti kikuk banget ya diliatin gituuu
    🤣🤣🤣
    Yg difoto itu kamu saat tampil ya Rahul?? Kece sekali

    Rahul ini ya suka boloos ternyata!!! Eh tapi asik bgt itu deket lauuut. Kalo penat, pulang sekolah bisa liat lauut hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu saya kak Frisca, dengan tampang sok kece. Dulu saking polosnya, saya ngga tau bahwa diri saya jadi objek lelucon saat itu. Ha ha ha.

      Kalo ditarik garisnya, benar juga yah. Kebiasaan bolos itu sudah ada sejak SD

      Delete
  3. Wah, tamparan pertama pas TEKA! Gile sih bang.. Aku ga ingat tamparan pertama saya kapan :))

    Waktu SMP, ekskul drumband emang jadi panutan selain jadi paskibra ya.. Dulu jadi inget mantan saya jadi mayoret waktu itu.. Sayanya cuma melongo aja karna ga bisa masuk drumband karna ga ada bakat dan skill :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sudah sadboy sejak kecil mas Andie. Ha ha ha.

      Waktu SMP kayaknya belum ada Paski di sekolah. Jadi drumband jadi ekskul yang populer sendiri. Dibawahnya ada Pramuka yang punya saingan dengan PMR

      Delete
  4. Rahul udah naksir-naksiran dari jaman TK doong *yaa elu aja yang telat, Ya* wkwkwk. Astaga Aline kenapa galak banget main tampar aja?? Ini calon penerus Ji Changwook lho yang ditampar 😂

    Aduh Rahul maafin tapi aku ngakak banget bagian simbal. Kenapa langsung keinget simbalnya si monyet kecil siiih?? Jadi inget dulu beberapa kali punya mainan ini, dan si monyet bersimbal ini juga ada di Toy Story 3 WKWKWK... Mana ujungnya dapet alat yang ga diinginkan di awal wkwk tapi kayaknya Rahul jadi suka main terompet yaa akhirannya? Btw foto pas tampil kece banget Rahul! 👏👏

    Bolos abis sholat Jumat itu apa ga pernah ketahuan guru, Rahul? Jaman SMA dulu aku selalu punya keinginan buat nyobain bolos wkwkwk kayak lucu aja gitu, sayangnya aku takut dimarahin Bapake wkwkwk. Pernah pas berangkat mergokin temen-temen cowok kelasku lagi nongkrong di salah satu anak yang rumahnya deket sama sekolah, eh ternyata sampai jam terakhir mereka ga kelihatan batang hidungnya di sekolah dong! WKWKWK

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya yah, kecepatan akil balig atau gimana saya ini. Ha ha ha. Tapi setelah mikir, kayaknya alasan Alina nampar saya itu baik. Jadi tamparan itu jadi tamparan paling manis.

      Nah, iya, simbal memang identik dengan permainan monyet itu. Pas nonton Toy Story bagian itu, saya jadi ingat jaman pas masuk drumband pertana kali. Ha ha ha. Tapi akhirnya saya masuk trompet dan saya jadi suka. Mungkin karena itu, saya juga jadi kenal dengan jazz.

      Alasan bolos kak Eya itu lucu. Ha ha ha. Kalo orang-orang mah bolos karena bosan dengan mata kuliah tertentu, atau mungkin ada razia. Kalo ketauan pas waktu itu ngga pernah karena guru berikutnya kan tidak masuk. Itu seingat saya, tapi kayaknya memang bolos yang saya lakukan ngga pernah gagal

      Delete
  5. Hahahahahahaha, omaygad jadi ini kisah tamparannya 🤣

    Maaf saya baru baca sekarang, mas Rahul. Hahahahaha. Nggak. Kasihan banget sih Ji Chang Wook, eh tapi di drama dia yang kemarin pun dia sempat kena tampar tuuuh 😆

    Terus saya ngakak ngakak inih tengah malam baca cerita marching band. Ya amploooop, itu fotonya lucuuuk bangattttt. Gagah yaaa mas Rahul rupanya 😂 *dilempar simbal* dan saya tambah ngakak bagian ternyata mas Rahul nggak boleh beli terompet karena terlalu ribut. Ini betul banget siiih, dulu Ibu saya pun sering suruh saya diam ketika saya keseringan tiup-tiup suling 🤪

    Eniho, saya ingat cerita soal rumah OMAAAAA. Dulu mas Rahul pernah bahas pada post tersendiri mengenai masa-masa SMA mas Rahul di sana, hehehehe. Dan bagian lempar tas itu mengingatkan saya pada teman-teman laki saya di sekolah. Ternyata sengaja lempar tas biar saat ke luar pagar nggak disangka mau pulang, yaaa 🤣

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, cerita lengkapnya ini kak Eno. Ha ha ha.

      Oh iya, drama yang mana tuh kak Eno? Yang jadi arsitek itu yah?

      Itu salah satu cerita SMP yang cukup saya ingat. Foto itu adalah lomba pertama dan terakhir yang kami ikuti. Makanya, tampilannya sok keren gitu. Ha ha ha. Ngga bisa beli trompet akhirnya dibolehin beli pianika untuk praktek Seni Budaya.

      Iya, itu base camp pas SMA. Ada beberapa cerita yang sudah saya tulis tentang tempat itu, bersejarah untuk saya. Ha ha ha. Salah satu alasannya itu, soalnya kalo keluar pake tas pasti ditanyain satpam mau ke mana. Padahal boleh keluar kan cuma untuk salat Jumat terus mesti balik lagi

      Delete
  6. ASTAGAAAA anak TK zaman Mas Rahul kok ngeri sekaliii sudah main tampar-tamparan wkwkwk apa kabar Alina dan Madina sekarang, Mas?

    Waktu saya SMA banyak teman-teman kelas yang hobi bolos juga. Paling sering ngabur ke warteg belakang gedung sekolah dan kalau tukang bolosnya udah level kakap, ya ke warnet untuk main CS 😂 kebetulan saya sendiri anaknya cenderung alim alias takut cari masalah, jadi paling mentok bolos kelas olahraga dengan alasan "lagi dapet", dan nongkrong di kantin deh 🙈

    Dan saya ngakak lagi pas Mas Rahul dilarang main terompet karena berisik 🤣 tapi kayaknya hampir semua alat musik marching band itu berisik banget nggak sih? Nyaring semua suaranya wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setelah dipikir-pikir, kayaknya itu cara Alina melindungi saya dari Madina kak Jane. Ha ha ha. Saya sudah ngga pernah lagi kontakan. Bahkan mungkin Alina sudah lupa dengan saya. Kalo Madina, saya pernah satu SMP dan masih akrab.

      Itu jaman SMP sih kalo bolos ke warnet. Teman saya juga sering bolos ke warnet depan sekolah. Sering dipantau juga sama guru, makanya saya salut sama keberanian mereka. Ha ha ha. Teman cewek saya juga gitu, kalo ada praktek olahraga yang sulit ijinnya lagi dapet. Padahal olahraga itu pelajaran yang seru.

      Semuanya berisik tapi ngga ada yang seberisik terompet dan simbal. Ha ha ha. Kalo tenor dan pianika, kayaknya masih bisa ditolerir

      Delete
  7. Wah yang lain ngomentari soal Alina dan juga belaiannya, saya yang lain saja deh.

    Soal permainan batu ninja itu dulu waktu kecil juga kadang sering main. Cuma karena jauh dari laut biasanya aku sama teman main di sawah kalo pas musim hujan saja, sawah penuh air, kalo kemarau ya kering.

    Dekat sawah ada rel kereta api yang banyak batunya, tapi sayangnya jarang yang pipih, jadinya satu dua lemparan saja sudah nyemplung.😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belaian yah mas Agus? Pemilihan katanya halus sekali. Ha ha ha.

      Kalo di tempat saya yang cuma bisa satu-dua loncatan biasanya ditertawai mas Agus. Ha ha ha. Sepanjang jalan biasanya sudah ada yang dapat tugas ngumpulin batu pipih, jadi bukan ujug-ujug ke sana langsung cari batu juga

      Delete
  8. Kak Rahul, astaga aku ngakak parah 🤣 Itu ya ampun bisa gitu ditampar? Aduh, Alina ini beneran tipe cewek yang berani ya. Setelah itu reaksi Kak Rahul selain menjauh bagaimana? Kecewa tidak?

    Dulu sekali, jadi marching band adalah cita-citaku. Tapi sayang sekali, aku nggak pernah dapet kesempatan itu. Hahahah. Pertama waktu SD nggak ada ekskul marching band, SMP adanya setelah aku lulus dan SMA ku hebatnya juga tidak ada marching band. Ada, tapi suka dadakan semisal ada acara terdekat. Karnaval contohnya, dan itu juga yang terpilih hanya anak-anak yang dekat dengan guru musik. Hahahah 🤣

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dia memang berani, Syifana. Tapi menurut saya, dia nampar buat ngelindungin saya dari masalah lebih lanjut dengan Madina. Kalau saat itu yah kecewa, tapi saat ini memori itu jadi cukup ngebekas, jadi tamparan pertama paling manis yang saya terima. Ha ha ha.

      Itu SD-nya keren sekali sudah ada marching band segala. Di SD-ku kayaknya tidak ada ekskul saat itu, jadi waktu banyak dipake untuk les dan main

      Delete
  9. gilaaaa kamu masih inget zaman2 TK yaaa hahahahaha. aku udh lupa blaaaas mas.. ;p

    kalopun inget hanya samar2, ga iget detilnya :D. yg paling berkesan sih tetep masa smu :D.. aku udh mulai bandel soalnya hahahaha. bolos sekolah, pacaran, trus jadi viral pas pacaran ama cowo paliiiiing buandeeeel se SMU huahahahaha . maklumlah, zaman dulu cowo bandel itu idola untuk dipacarin, krn biasanya cakep tapi playboy berat.. cuma bangga aja gitu kalo sampe bisa gaet perhatian dia wkwkwkwk

    tapi kuliah, aku tobat sih... kmbali lagi jd cewe baik2 :D

    Kalo urusan ekskul, drumband juga ekskul dgn kasta tertinggi di sekolahku mas. tapi aku ga suka ;p.. ga jago megang alat musik. jd aku lebih pilih pramuka, karena salah satu mantan dulu ambil ekskul itu, biar bisa deketan ceritanyaaa... kayaknya zaman dulu aku memang lbh fokus pacaran sih hahahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masih ingat beberapa hal kak Fanny. Soalnya rentang waktunya juga belum terlalu lama.

      Puncak bandel itu memang biasanya pas SMA. Kalo udah kuliah, bandelnya sudah agak beda. Kalo kata Sujiwo Tejo, mayoritas perempuan memang suka cowokm badboy. Ha ha ha.

      Pernah pengen ikut pramuka karena tertarik dengan camping-camping di luar. Terus, adik kelas perempuan juga banyak yang masuk di sana. Tapi ngga tau alasannya saat itu, kayaknya jadwalnya bertabrakan dengan ekskul drumband, saya juga lupa

      Delete
  10. Huahahaha Rahul pubernya cepat sekaliiii ya! Jewer ni! 🤣.

    Asik ya punya sekolahan yang dekat pinggir pantai gitu, jadi kalau mau kabur tinggal ke pantai 🤣. Tapi mungkin hawanya kalau udah sore jadi kurang nyaman sebab bikin badan jadi terasa cepat lengket. Iya nggak?
    Aku awalnya berpikir bahwa Rahul rajin banget suka buang sampah, ternyata ada udang dibalik batu 🤭 wkwkwk. Kalau main-main dulu di pantai gitu, waktu kembali ke sekolah, nggak pernah dimarahi?

    Terakhir mau ngomentari kacamata hitam Rahul wkwkw keren bangettt! Rahul mirip sama anak tetanggaku di foto itu 🤣. Itu kacamata Bapaknya Rahul ya? Wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kelewat cepat karena lingkungannya sudah seperti itu kak Lia. Ha ha ha.

      Ketika orang bilang hawa di pantai itu lengket karena kandungan garam, saya ngga terlalu ngerasain juga. Mungkin karena sudah terbiasa atau gimana saya juga ngga ngerti. Kalo buang sampahnya juga sendiri, saya sih ngga mau. Ha ha ha. Kalo pulang biasanya baru ditanyai darimana, biasanya kami punya banyak alasan. Jadi paling besoknya kami sudah diblacklist untuk buang sampah lagi.

      Kebetulan, malam sebelumnya saya sama kakak sepupu beli itu. Jadi memang kacamatanya khusus untuk tampil. Saya ngga tau kacamatanya sekarang ada di mana

      Delete
  11. Astagaaa ada yang lebih senior nih pedekatenya, waktu TK broooo. xD Keren amat sampai kena tampar juga, sip. xD

    Anyway masa-masa SMA tuh indah sih. Bolos, nggak pakai atribut lengkap kalau upacara, ngerasa cool banget kalau udah ngerasain yang seperti itu wkwkwkwk.

    Itu beneran foto mas Rahul???? Pangling euy. Wah ada bakat musik nih mas Rahul orangnya. Mas Rahul bisa main alat musik apa sekarang?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sih, rada aneh juga sama saya yang dulu bisa naksir cewe pas TK. Pubernya kecepetan. Ha ha ha.

      Indah kak Endah, apalagi masa bandelnya banyak. Jadi makin banyak yang dikangenin.

      Saya ngga bakat musik, cuma tau mak terompet aja. Pas praktek musik di SMA, saya pilih alat musik yang paling gampang dan praktis

      Delete
  12. hahahha masih inget betul cerita waktu TK ya
    aku lupa lupa ingat, nggak semua momen aku inget
    bahkan nama temen TK aja aku lupa. Nah tu kenapa ada cerita anak kecil main "tampar-tamparan" ya hahaha, yampun co cwitnya yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin karena kurun waktunya belum lama kak Ainun, jadi beberapa masih ada yang tersimpan diingatan. Kebetulan ingat, ditulis, biar kalo lupa bisa baca.

      Kayak adegan FTV yah? Ha ha ha

      Delete
Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.