zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

Melewati Musim Paceklik

Dalam dunia tani, ada yang namanya panen raya tapi ada juga yang namanya musim paceklik. Berbanding terbalik dengan musim raya, musim paceklik adalah sebuah kondisi di mana hasil panen yang didapat tidak sesuai dengan kerja keras petani. Salah satu penyebabnya adalah kemarau panjang.

Melewati Musim Pacekliksumber: tabloid desa
Desember-Januari kemarin, itu adalah musim paceklik bagi saya. Seperti yang sudah saya analogikan, blogwalking bagi saya adalah cara bertani. Sementara kemarin, saya melewati kemarau yang cukup panjang sehingga baik menanam bibit saja sudah hampir tak bisa.

Untungnya, saya bisa membaca peta situasi sebelum melalui musim paceklik itu. Saya menyiapkan belasan draf tulisan baik yang siap publish maupun yang hanya gagasan mentah. Hal itu memudahkan saya untuk melewati musim paceklik ini. Tapi kali ini saya mau ngomongin hal lain, saya ingin meracau hal-hal yang saya lewati di musim paceklik kemarin.

Seperti yang sudah saya katakan, awal Januari kemarin adalah titik awal saya mulai dengan tugas dan UAS. Maka dari itu, intensitas saya pada kegiatan ngeblog sedikit menurun. Saya sebenarnya tidak ingin cerita hal ini, tapi kayaknya akan sia-sia jika pandemi ini dilewati tanpa catatan. Takut saya lupa pernah ada masa dimana orang lebih takut tidak pake masker ketimbang pake helm saat ke luar rumah.

Januari awal, itu masih biasa saja. Saya fokus ke tugas nyatat tiga penelitian. Itu catat manual, jadi saya mesti pintar-pintar memilih penelitian yang tipis-tipis biar tangan saya tidak keriting. Karena sudah keburu kelar satu skripsi dan satunya lagi sedang proses, saya meminta kawan untu mengirimkan file jurnal lewat WhatsApp biar saya tidak kelewat rajin nyatat tiga penelitian yang isinya skripsi semua.

Saya menyelesaikan tugas dengan jumawa. Tempat favorit saya adalah meja makan. Karena ketinggan kursi dan mejanya pas untuk saya. Tidak tinggi, tapi tidak pendek. Jadi saya tidak bungkuk dan sakit pinggang ketika lama mencatat. Setelah dari tugas nyatat, saya pindah ke tugas lain. Tugasnya kerja kelompok, satu kelompok isinya maksimal dua orang.

Dua orang tersebut merupakan dari dua suku berbeda. Perintah tugasnya adalah mencari kekerabatan dari dua bahasa suku dua orang tersebut. Ada rumusnya, tapi saya senang dan masih bisa ngerti dan tertarik. Tingkat kesulitannya agak nyebelin, saya mesti bertanya kepada teman saya yang memang senang dan ingin fokus ke linguistik.

Teman kelompok saya yang lama tak ada kabar, ternyata cukup kolektif. Karena saya malas nyusun makalahnya, kami sepakat saya bertugas untuk mencari dan menghitung persentase kekerabatannya. Ia bantu saya memetakan jumlah kata swadesh yang sudah ditentukan. Setelah itu, hasilnya saya kasih ke dia untuk disusun jadi makalah.

Tugas tersebut jadi dua bagian. Bagian pertama kami kirim lewat imel sebegai bentuk kerja kelompok. Bagian kedua kami kumpul manual dengan bentuk print out sebagai bentuk kerja individu UAS. Beruntung saya mengerjakan dengan fokus dan sungguh-sungguh. Beruntung saya punya teman keren yang mau saya recoki.

Setelah senang dengan tugas yang saya rasa agak berat itu, tugas berikutnya datang. Lagi-lagu tugas catat manual dua skripsi dari dua mata kuliah berbeda. Sejujurnya, saya tidak begitu masalah kalau tenggat waktu yang diberikan agak longgar. Sebab ada beberapa tugas lain yang minta fokus lebih.

Saya akhirnya datang ke sebuah warung kopi. Itu sebagai cara saya melepas penat setelah beberapa hari mengerjakan tugas di meja makan. Saya pesan kopi ong setengah, kayaknya diambil dari nama kopi liong. Lebih pahit dari kopi kapal api classic yang biasa saya minum. Saya rasa, kak Jane akan menyukainya. 

Melewati Musim Paceklik
Di sana, saya nyari skripsi yang judulnya menarik biar pas ngerjain saya juga nemu hal baru. Saya ambil skripsi yang meneliti album Taifun-nya Barasuara dengan skripsi yang membahas wacana pemindahan Ibu Kota. Dua penelitian itu yang saya ambil sebagai tugas catatan.

Disela nyari penelitian itu, saya sebenarnya menemukan skripsi yang judulnya keren dan menarik. Tapi aksesnya terbatas dan pas saya imel admin websitenya, ternyata memang khusus untuk mahasiswa universitas tersebut. Bayangkan saya nemu judul skripsi yang keren membahas perspektif gender perempuan dan laki-laki dalam membuat keputusan terhadap kasus-kasus percobaan perkosaan kepada perempuan.

Karena tenggat waktu yang sangat terbatas, lima hari berturut-turut saya berada di meja makan dari waktu sarapan sampai pukul 1 pagi. Bergerak cuma untuk mandi, makan, dan berdiri sebentar karena pinggang mulai kaku dan sakit. Saya orangnya susah ngatur waktu, makanya ngerjain tugas sebisanya lebih awal, tidak ikut beragam organisasi internal maupun eksternal. Saya juga ngga ada ketertarikan sebenarnya.

Waktu remaja saya lebih senang saya pakai untuk main-main sama teman, belajar dan disiplin ilmu adalah hal yang lain. Saya mending jadi bodoh dan tidak usah belajar saja kalo harus memilah teman dari standar ilmu dan gelar pendidikannya. Itu bukan saya. Saya tidak ingin berusaha memeluk dunia, teman-teman saya saja sudah cukup.

Makanya ketika dihadapkan pada dilema mengerjakan tugas atau liburan bersama teman-teman, saya mengambil langkah yang paling moderat. Ikut bersama mereka tapi saya tetap ngerjain tugas di sana. Saya tetap ada untuk mereka, tugas saya juga tidak terkendala. 

Melewati Musim Paceklik
Singkat kata, tugas itu selesai dan saya beralih ke pembuatan tugas UAS bahasa Jepang yang mesti membuat dialog percakapan materi pertama sampai terakhir. Saya punya love-hate realitionship dengan mata kuliah ini. Kadang saya suka, kadang juga menyebalkan. Tugas ini dibantu oleh teman saya. Saya buat percakapan bahasa Indonesianya, dia bantu menerjemahkan sesuai kaidah dan materi yang sudah dikasih.

Setelah itu, saya mesti bikin video pengajaran. Perintahnya membuat video seolah-olah sedang mengajar sesuai RPP dan Silabus yang beberapa waktu kami kirim. Saya buat video di kamar, dibantu adik saya. Duduk di samping papan tulis bekas les privatnya kemarin. Saya nyiapin poin-poin yang saya mau bahas. Tapi kebanyakan baca teks karena dalam pengajaran itu saya membacakan cerita si kancil. 

Melewati Musim Paceklik
Setelah mengumpulkan tugas itu semua, totalnya ada tiga penelitian yang harusnya digabung tapi saya pisahkan. Terus ada dua skripsi, jadi totalnya tiga mata kuliah dan lima penelitian. Mata kuliah yang lain itu adalah video pengajaran, yang semuanya dikumpul lewat ketua tingkat. 

Sebenarnya dari situ, saya mau langsung pulang untuk merampungkan tugas yang lain. Tapi saya rindu suasana kampus. Duduk dan ngobrol sebentar bareng mereka sembari menunggu kepastian pendaftaran KKN untuk angkatan saya. 

Tugas berikutnya tinggal saya ketik, tapi mesti saya cari data pendukung dan ini tingkatannya lebih sulit dibanding tugas yang lain. Kalau yang biasanya cuma nyatat, ini mesti menganalisa data dalam karya sastra untuk menentukan keterkaitan dengan keagamaan, kemudian melihat perbandingannya. Tugas ini saya kerja belakangan, selain karena memang sulit, saya berusaha untuk mencari waktu yang banyak agar pengerjaannya bisa maksimal.

Sebenarnya, itu hanya sebagian dari tugas dan UAS yang ada. Masih ada beberapa, salah satunya UAS yang pake sistem kuis dengan durasi waktu tertentu. Jadi kita mesti login disebuah situs untuk memulai UAS kami mesti tekan tombol mulai dan soal berjalan dengan durasi yang sudah ditentukan. Nilai saya hancur di sini. Ha ha ha. Selain karena bingung, durasi waktu bikin saya deg-degan mesti jawab apa.

Kemarin, atensi saya nulis kayaknya karena memang kesal. Saya mencoba membiarkan waktu ini lewat untuk menurunkan intensitas kekesalan saya. Mencoba melihat sisi positif dari sana. Ternyata memang ada, meski cara dan sistemnya tidak teratur.

Tugas mencatat penelitian itu mungkin bertujuan agar kita akrab dengan format dan cara pengerjaan skripsi dan jurnal. Dengan mencatat, kita jadi lebih fokus dan ada rasa akrab karena tidak seperti membaca, mencatat membutuhkan waktu yang lebih lama. Dengan tugas membuat video pengajaran, itu bisa jadi praktek yang harusnya dilakukan. Tapi karena pandemi, jadilah penyesuaian itu.

Kalau dipikir-pikir, rasa kesal itu akan ada kalo kita masih berada dalam tekanan. Jika tidak, kita jadi bisa lebih menarik diri dan melihat hikmahnya. Tapi seperti yang saya katakan, tidak dapat saya pungkiri kalo cara dan sistemnya masih kacau. Dengan tugas yang menumpuk, bukan tameng untuk mengatakan "jangan jadi mahasiswa", tapi pengerjaan tugasnya akan tidak maksimal.

Nilai saya sudah keluar. Alhamdulillah baik semua. Saya hanya dapat dua nilai B, yang salah satunya adalah bahasa Jepang. Ha ha ha. Selebihnya A, yang mungkin dinilai dari kerajinan saya absen, kelas online, dan kumpul tugas. Hal ini bisa saya lakukan karena tidak ada kesibukan lain. Saya memilih hal itu karena sadar manajemen waktu saya memang kurang baik.

Lagipula setelah masa paceklik ini, saya masih bisa kembali pada pelukan kawan-kawan saya. Kami pergi ke sebuah pulau untuk berkemah seharmal. Untuk ceritanya akan saya tulis terpisah. Tulisan ini sudah kelewat panjang untuk sebuah rekap dan racauan. Ha ha ha.


Tulisan ini adalah draf beberapa bulan sebelumnya, saat awal-awal libur semester. Alhamdulillah sekarang sudah masuk semester baru. Mengurus banyak hal dan lain-lain. Agak keteteran dibanding sebelumnya, tapi menyenangkan. Dalam waktu dekat saya akan mempertimbangkan apakah akan vakum dalam beberapa bulan atau tetap jalan karena beberapa waktu kedepan saya sudah akan KKN.

Related Posts

12 comments

  1. Wah gila kayaknya tugasnya banyak banget dan berat yaa haha gokil juga bisa dapet nilai A, meskipun bahasa Jepangnya B

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga ngga nyangka, padahal semester sebelumnya tidak sebagus itu nilai-nilai saya. Kalo Bahasa Jepang, saya cukup sadar diri dengan kemampuan

      Delete
  2. Selamat atas nilai akhir yang Rahul dapatkan 😁 setelah bekerja keras selama beberapa lama, aku pikir mendapatkan nilai akhir yang demikian bagus jadi penyemangat dan kebahagiaan tersendiri untuk Rahul 😁

    Semester ini akan masuk dunia KKN ya? Wah, aku akan rindu tulisan Rahul kelak kalau Rahul vakum 😂. Tapi apapun keputusan Rahul nanti, tetap akan aku dukung karena Rahul pasti tahu yang terbaik untuk diri Rahul. Semangat Rahul! Perjalanan ini sebentar lagi menuju akhir ya 💪🏻

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah kak Lia, terimakaaih. Itu nilai yang tidak saya sangka juga sebenarnya. Bahasa Jepang saja sudah saya pasrahkan. Itu alhamdulillah dapat nilai B. Ha ha ha.

      Untuk vakum atau tidak masih dipertimbangkan. Saya harapnya tetap jalan semua, tapi saya manusia, cuma bisa berencana, tapi Tuhan yang menentukan. Terimakasih sekali lagi kak Lia

      Delete
  3. Lupa seperti apa rasanya ngerjain tugas kuliah. Gila juga udah 5 tahun berlalu sejak terakhir kuliah. Haha.

    Itu tugasnya cukup ribet ya, Hul, dari racauanmu. Kalau seumpama KKN bakal vakum, ada bagusnya dari sekarang menabung draf atau menjadwalkan tulisan.

    Bicara soal berteman, saya jelas masih pilih-pilih berdasarkan kecocokan dan minat. Tapi kalau melihat latar belakang pendidikan mah enggak, ya. Saya masih bisa berkawan dengan golongan mana pun, apalagi golongan bawah karena saya pun merasa ada di tingkat itu. Lalu, kini juga enggak minder lagi buat berteman dengan kalangan atas. Sekalipun ada beberapa hal yang enggak cocok, khususnya gaya hidup yang kontras, selama masih bisa ditoleransi dan tak membuat saya jadi manusia palsu mah tetap santai aja dalam meneruskan relasi itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lima tahun lagi saya akan berpikir demikian pas baca tulisan ini. Ha ha ha.

      Kalo dari yang saya jabarkan mungkin tidak ada apa-apanya. Tapi kalo dibanding orang lain saya juga ngga ada apa-apanya. Racauan ini cuma pengingat, pelepas rasa kesal. Mudah-mudahan tidak jadi energi negatif untuk yang baca. Kalo soal nabung tulisan, saya sudah menyiapkan beberapa, mudah-mudahan keburu untuk nyusun beberapa tulisan lagi.

      Saya masih agak kebingungan sebenarnya dalam definisi teman. Kalo misalnya orang mengatakannya sebagai orang yang kita kenal itu sebagai teman, tapi ada juga yang mengatakan teman itu hanya anggapan dari individunya saja. Tapi manapun definisinya, teman yang saya maksud adalah keduanya. Kalo masuk ke ranah ngobrol hal yang dalam, mungkin bisa dikategorikan sahabat

      Delete
  4. Waaah seneng bgd denger nilainya Mas Rahul, hanya 2 B dan sisanya A. Keren! Jangan2 bisa lulus cumlaude nih.. 😁

    Sukses terus Mas rahul di semester baru ini. Semoga bs mempertahankan semangat buat selalu menyelesaikan semua tugas2nya yaa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nilai itu hanya diatas kertas, lagipula saya juga ngga nyangka bisa dapat nilai segitu kak Thessa. Ha ha ha. Itu bukan ambisi saya, tujuan saya ngga dapat nilai jelek hanya agar orangtua bisa senang saja.

      Terimakasih doanya kak Thessa. Kebaikan untuk kita semua. Aamiin

      Delete
  5. jadi keinget masa-masa kuliah kalau baca post ini
    kalau udah masuk masa ujian, bawaannya rajinnn bener, tapi pas kuliah biasa terasa biasa aja kuliahnya hahaha
    wahh kak Rahul padet juga tuh kegiatannya, ada penelitiannya juga soalnya, biasanya kalau temenku yang kuliah di fakultas MIPA, atau yang berhubungan sama IPA sibuk di bagian praktikum biasanya.
    nggak nyangka bentar lagi udah mau KKN ya, pasti bakalan disibukkan dengan program kegiatannya ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya punya teman fakultas MIPA juga. Awal semester kerjaannya begadang ngerjain tugas, terus besoknya ngeluh karena mesti praktikum lagi.

      Mudah-mudahan tetap bisa update blog saat hari itu tiba

      Delete
  6. Gils mantap mas Rahul dapat banyak A! Semoga di semester baru jadi makin baik, baik di perkuliahan, pertemanan, dan pembagian waktu. Sukses untuk KKN-nya nanti ya! Ditunggu cerita tentang KKN soalnya aku dulu nggak ada KKN adanya magang kerja wkwkwkwk. *belum apa-apa udah nungguin ini gimana????*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah kebetulan kemarin dapat nilai yang cukup baik. Terimakasih doanya kak Endah.

      Rencananya, saya tetap akan ngeblog pas KKN nanti, untuk cerita KKN-nya pasti akan saya tulis, bagaimana bentuk dan caranya akan saya infokan segera :D

      Delete
Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.