zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

5 Permainan Favorit Masa Kecil

Bisa dibilang, saya adalah angkatan terakhir yang menikmati kehidupan sebelum era smartphone. Saya tidak ingin meromantisasi hal ini, tapi pada masa-masa itu dunia jauh lebih baik ketimbang peradaban smartphone ini. Katanya, smartphone memudahkan, mempermudah, atau apalah pilihan kata yang kalian inginkan.

5 Permainan Favorit Masa Kecil

Dulu, tanpa bilang 'oke, saya otw', orang bisa datang dengan tepat waktu tanpa banyak alasan tidak jelas. Sekarang, dengan kemudahan yang diiming-imingi itu, orang jadi gampang cari alasan. Macet lah. Ketiduran lah. Motor masih dipake lah. Padahal aktivitas dari waktu ke waktu, jaman ke jaman tidak banyak berubah.

Peralihan dari satu era ke era yang lain tidak lantas membuat kita lebih sibuk. Makanya, jika ditanya menyenangi era yang mana, saya dengan yakin menjawab bahwa era-era sebelum smartphone (khususnya pada masa TK-SMP) adalah era yang menyenangkan. 

Bicara soal era sebelum smartphone, tentu banyak pertanyaan lanjutan. Salah satunya adalah hiburan sebelum era smartphone. Pada era itu, kira-kira saya masih diusia anak SD, yang paling hanya tau main dan belajar. Untuk usia seorang anak SD, inilah permainan favorit masa kecil yang turut andil menemani masa-masa pertumbuhan saya.

Kelereng

Saya sempat menulis sebuah tulisan tentang masa-masa kejayaan saya sebagai pemain kelereng. Pada masa itu, bisa dibilang saya adalah anak yang from zero to hero. Setiap pulang dari pengajian dan membawa pulang kelereng, saya selalu dihabiskan dengan orang-orang yang jago main kelereng.

Hal ini membuat saya terpacu untuk belajar. Saya sering latihan menggunakan teman dan saudara sendiri yang lebih lemah dari saya. Keuntungannya, saya bisa menang dari mereka. Selain itu, saya juga sering melakukan latgab bersama Bapak dan sepupu untuk sekadar hiburan. Tapi dari itu, saya banyak belajar teknik dan itu membantu portofolio dan jam terbang saya.

Singkatnya, saya jadi jago main kelereng. Saya menghabiskan anak-anak sepantaran usia saya. Pergi dari satu wilayah ke wilayah lain untuk menantang kelompok atau individu jagoan di sana. Hasil menangnya akan saya jual kembali dan saya dapat keuntungan di sana karena setelahnya, saya bisa menang dan dapat banyak lagi kelereng.

Saking senangnya dengan permainan ini, saat mulai lepas dari hal ini saat SMP, saya kembali terpancing ketika melihat beberapa orang bermain kelereng mengisi waktu kosong. Saya tidak ikut bermain, hanya menonton dan menikmati keseruan. Disela-sela permainan, saya sedikit mendengus sombong seakan-akan ngomong bahwa kemampuan mereka tidak sepadan dengan saya. Ha ha ha.

Kartu Buang

Saya tidak begitu yakin permainan ini cukup populer, tapi ini salah satu permainan favorit saya masa kecil. Kartu buang adalah permainan kartu yang di mana dua atau lebih pemain memberikan kartu yang akan mereka gunakan sebagai kartu main. Satu orang bertugas membuang kartu ke udara, jika kartu mendarat dengan posisi depan artinya pemain berhak mendapat taruhan kartu dari pemain yang kartunya mendarat pada posisi belakang.

Untuk jumlah taruhan, biasanya disepakati oleh para pemain. Kadang 1, 2, atau bahkan 5 dan 10 tergantung kesepakatan. Permainan kartu buang ini tidak membutuhkan kemampuan khusus. Sebab penilaiannya adalah berdasarkan keberuntungan arah mata angin saja. Jika beruntung dapat kartu yang bagus, kartu bisa mendapatkan posisi depan secara beruntun.

Karena termasuk jenis permainan keberuntungan, saya biasa mengakali beberapa pemain-pemain baru. Kadang saya menggandakan dua kartu dengan gambar yang sama agar pas dilempar ke udara dan mendarat, dua sisi kartu tetap mendapatkan posisi depan. Perbuatan curang ini lantas akan ketahuan jika bukan kita yang bertugas melempar.

Kadang kalo tugas melempar berganti, kita mesti cepat-cepat men-switch kartu kemenangan itu dengan kartu biasa agar cara ini tidak ketahuan. Kembali soal taruhan, kadang kalo musim kelereng tapi sedang tak ingin main kelereng, kami biasanya mengganti taruhannya jadi kelereng.

Sepak Bola Tiang Sendal

Saat lapangan besar dan sepetak tanah yang biasa jadi tempat main bola dikuasai orang dewasa, anak-anak yang doyan main sepak bola saat kecil dulu biasa menyulap jalan menjadi lapangan sepak bola. Panjang lapangan disesuaikan dengan jumlah pemain sementara lebar lapangan disesuaikan dengan lebar aspal. Tentu yang paling ikonik dari sepak bola jalanan adalah tiang gawangnya, yang terdiri dari sendal-sendal pemain.

Masa itu, kira-kira SD-SMP, saya keranjingan main sepak bola. Di sekolah, kami biasanya datang lebih pagi untuk main sepak bola. Pulangnya, ketika guru-guru sudah pulang kami biasa menggunakan halaman sekolah untuk bermain bola saat matahari tepat diatas kami. Karena hal itu, saya sering dipergok oleh Tante karena kelamaan pulang sekolah.

Biasanya ada satu teman yang akan berjaga. Ketika Tante saya datang, teman saya memberi tahu dan saya akan melewati gerbang sekolah sebelah untuk keluar dan lari pulang ke rumah melewati rute yang lain. Kalo sempat, saya bisa sampai lebih dulu dari Tante saya, masuk dari pintu belakang dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa.

Cerita-cerita semacam itu memang jadi kenangan yang lucu. Saya jadi ingat sinetron Tendangan Si Madun yang saat itu jadi tontonan favorit anak-anak. Saya merasa mirip karakter Madun, yang cita-cita pengen jadi pesepakbola tapi bertentangan dengan keinginan keluarga. Ha ha ha.

Benteng

Ini bukan ajang lomba dari acara Benteng Takeshi, ini permainan masa kecil yang sangat menyenangkan. Permainan ini terdiri dari dua kubu atau benteng. Biasanya, lima lawan lima adalah formasi yang sering digunakan. Tapi tetap menyesuaikan dengan pemain yang ada. Misalnya ada 12, artinya enam lawan enam tidak masalah.

Dua kubu itu berusaha saling memegang benteng yang lain. Tugas dari masing-masing orang adalah menjaga dan saling membantu untuk memegang benteng lawan. Pemain yang terakhir memegang bentengnya, bisa mematikan lawan yang keluar dari benteng selagi tidak memegang bentengnya. Pemain yang dipegang, akan disandera di dekat benteng lawan.

Pemain tersebut hanya bisa diselamatkan dengan disentuh, sama seperti tujuan utama untuk menyentuh benteng lawan. Permainan ini membutuhkan ketangkasan dan strategi yang kuat. Kalo misalnya awal-awal, strategi yang biasa digunakan tidak langsung menyentuh benteng lawan, tapi menghabisi para pemain terlebih dahulu.

Kalo pemain lawan tinggal sedikit, waktu yang tepat untuk mengubah strategi. Biasanya kubu yang dominan akan keluar semua, meninggal seorang untuk menjaga benteng dan para sandera. Pemain berusaha untuk memegang benteng lawan dengan mengepung benteng mereka. Permainan ini sangat seru pada masanya. Jarang dimainkan karena membutuhkan banyak pemain.

Tapi jika sudah bermain, kalori yang dibakar sama dengan olahraga. Saya sangat menyukai permainan ini karena mengandalkan strategi dan pekerjaan kolektif. Salah satu tugas yang paling saya senangi adalah membebaskan teman-teman yang menjadi sandera. Saya jadi rindu main ini. Untuk ngumpul orang yang main saat itu saja susah, apalagi sekarang.

Enggo Sembunyi

Enggo sembunyi atau petak umpet biasanya adalah permainan alternatif yang dilakukan kalau pemain yang mau Main Benteng itu ganjil. Permainan ini tidak terlalu membutuhkan banyak orang. Empat atau lima orang saja sudah cukup untuk bermain.

Saya tidak perlu banyak menjelaskan karena enggo sembunyi sejatinya cuma nama lain dari petak umpet. Saya cuma mau bercerita bagaimana serunya permainan ini. Biasanya kami lakukan pada hari-hari biasa, tapi entah kenapa kalo ada resepsi undangan itu membuat tingkat keseruan enggo sembunyi jadi lebih menegangkan dan seru.

Jadi, biasanya acara resepsi dilaksanakan atau dilakukan di depan rumah masing-masing dengan memasang tenda sendiri. Hal ini dilakukan tentu atas persetujuan RT dan kebijakan tetangga. Ketika para orangtua ke pesta, anak-anak biasanya main di belakang tenda. Selain polisi dan pencuri, kami biasanya main enggo sembunyi.

Dengan suara dan lampu dari tenda resepsi, kami jadi tidak takut untuk bersembunyi. Kami biasanya sembunyi berdua atau bertiga, jarang sendiri karena membosankan dan tidak ada teman ngobrol. Kalau sembunyi, entah kenapa perasaan mau pipis itu selalu ada. Makanya, kami biasa saling menahan tawa kalau salah satu diantara kami atau semua yang ada disatu persembunyiaan kebelet pipis.

Kami biasanya bersembunyi tidak jauh dari titik Sang Pencari. Karena jika salah satu pemain yang bersembunyi berhasil memegang titik tersebut, permainan akan diulang dengan tugas yang sama, Pencari akan tetap jadi Sang Pencari dan Pengumpet akan tetap bersembunyi.


Kalo ngomongin permainan masa kecil tidak akan ada habisnya. Sebagai anak yang cukup bandel pasa masa itu, bisa dibilang saya hampir mencoba semua permainan yang ada. Selain dari lima itu, ada banyak lagi permainan yang tidak saya sebutkan. Mulai dari permainan ringan macam kengkeng atau engklek sampai permainan adrenalin yang lain macam boy dan kasti.

Melihat era sekarang, anak-anak sudah tak lagi sesering dulu bermain di luar rumah. Hape jadi hiburan utama mereka. Ada YouTube, TikTok, dan game mobile. Adik saya terutama yang cenderung lebih banyak main hape ketimbang main di luar rumah. 

Saya takutnya, mereka tumbuh dengan tidak memaksimalkan masa anak-anaknya. Bukan cuma anak-anaknya, tapi juga orang-orang sekeliling mereka. Saya jadi ingat video Moby, musisi Amerika yang bikin video kolaborasi dengan ilustrastor Steve Cutts. Videonya keren sekali, tiga menit tapi menampilkan banyak momen yang mengernyitkan dahi.


Makanya, saya mulai mengurangi bermain hape, apalagi saat ada pertemuan atau dalam situasi ngobrol. Salah satu cara yang saya lakukan adalah meng-uninstal beberapa aplikasi yang bisa bikin saya candu, termasuk game. Ini bukan alasan utama, tapi jadi faktor penting yang membuat pemikiran saya sampai saat ini.

Kalau sudah cerita begini, saya seperti mengingat masa-masa itu lagi. Saya seperti dibawa pada satu peristiwa dimana saya bersembunyi dan kebelet pipis. Atau selebrasi ala Christian Gonzales setelah mencetak gol ke gawang lawan.


Tulisan teman-teman dari tema ODOP hari ke-2 yang membahas permainan favorit masa kecil:

Related Posts

24 comments

  1. Baca tulisan Rahul ini langsung nostalgia waktu kecil banget. Tiap sore abis ngaji atau tidur siang biasanya main di depan rumah bareng temen-temen. Aku paling suka kalo main petak umpet atau engkek. Tanpa perlu janjian dulu pasti udah pada ngumpul sendiri ditemani orang tua yang kadang sibuk kasih makan adik2nya. Ya ampun kayaknya pemandangan ini udah lama gak aku lihat. Bahkan adikku sendiri kayaknya engga merasakan main sore depan rumah. Sekarang mereka mainnya pasti PS melulu tiap hari gak keluar rumah.

    Waktu-waktu yang bikin kange banget emang....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, saking senang main saya sampe pernah nangis karena disuruh ngaji dulu baru bisa main. Ha ha ha. Padahal teman-teman sudah ngumpul dan nungguin. Sekarang mah sulit untuk liat hal kayak gini, paling hanya dibeberapa tempat saja

      Delete
  2. Kak Rahul ini sepertinya memanfaatkan peluang yang ada ya, hahaha 不 Bagus juga kalau diteruskan, biar jadi pebisnis kelereng. Hahaha 不

    Diantara mainan di atas, Syifana tau semuanya. Dan yang lucu adalah sepak bola tiang sandal. Entah bagaimana ceritanya dan siapa yang mengusung idenya, tapi anak laki-laki ternyata kreatif juga ya! 不 Lalu lucunya, kalau main bola di jalanan aspal nanti permainan harus berhenti sebentar semisal ada motor yang hendak lewat hahahah 不

    Benteng sendiri juga terakhir Syifana mainkan waktu SD. Malam hari mainnya, sehabis tarawih ketika bulan puasa. Itu mantap sekali sih Kak. Pulang-pulang bajunya basah kena keringat 不

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sayangnya musim keleren sudah tidak serame dulu Syifana. Ha ha ha.

      Nah, kalo main di jalan itu kalo ada motor ato orang lewat kita bilangnya,"berhenti, iklan dulu". Ha ha ha. Mau kesal juga itu jalanan umum, jadi mau tidak mau sering berhenti pas mau nyetak gol.

      Maen pas tarawih memang seru. Pernah sekali waktu ngga ikut taraweh karena keasikan main. Terus sama yang jaga masjid ditegur. Ha ha ha

      Delete
  3. Wow jagoan kelereng rupanya! Papaku punya kelereng sepeti! Papa bilang dia juga dulu jago main kelereng. Sayang bakatnya ga turun ke aku 不 Lagipula, pada masaku, jarang anak yang main kelereng. Jadinya lebih memilih main yang lain.

    Kartu buang itu di lingkunganku disebutnya Tos-Tosan. Main pakai kartu-kartu yang didapat dari makanan ringan ituu. Ada yang dari plastik, ada yang dari besi. Kalau yang dari kartu plastik itu, temanku ada tuh yang curang kaya kamu! Haha sebel banget pas tau kalau dia curang
    Kecil-kecil sudah curang yak! Jangan diulangi #eh

    Aku pun pernah tuh main sepak bola dengan sendal sebagai tiangnya. Aku biasanya jadi kiper karena aku ga jago menggiring bola. Lapangannya di gang sebelah rumah. Iya gang. Meski sempit, tapi seru juga dipakai main bola. Hehehe
    BTW saat aku jaga gawang, pahaku pernah ketimpuk bola. Sungguh sakit sekali. Tapi berkat itu, bola ga masuk ke gawang. Cukup handal juga aku jadi kiper. Hehe

    Ah bener kata Rahul, kalau lagi sembunyi gitu, entah mengapa bikin kebelet pipis. Hihihi lucu yak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Agak beda dengan tos-tosan kak Frisca. Tapi sistem mainnya memang sama. Kalo ini yah dibuang ke udara. Waktu itu ngga kepikiran untuk berbuat curang, cuman gimana bisa terlihat keren aja bisa menang terus. Ha ha ha.

      Handal dan apes beda tipis yah? Ha ha ha. Kalo main sepakbola, biasanya kami gantian jadi kiper. Paling malas kalau dapat tugas jadi kiper, biasanya disengajain gol aja biar ganti tugas jadi penyerang atau back

      Delete
    2. Kartunya lempar ke atas gitu y? Trus liat dia buka apa tutup?

      Aku tetap menyebut diriku handal #plak
      Wah posisi kiper malah paling males ya buat anak cowo? Haha
      Tapi buatku itu posisi favorit hehehe
      Seneng banget bisa mastiin bola ga masuk ke gawang hehe
      Tapi kalo gawang sepak bola beneran, susaaah wkwkw
      Soalnya lebar

      Delete
    3. Nah, kurang lebih seperti itu kak Frisca.

      Kebanyakan pengen unjuk gigi nyetak gol biar bisa selebrasi. Kalo gawang beneran mah lebar juga

      Delete
  4. Cerita Rahul dan kelereng ini seru kayaknya kalau dibikin jadi komik, mengingat biasanya komik-komik shonen banyak mengangkat tema from zero to hero, dan si karakternya akan melawan banyak jagoan. Jadinya bakal Indonesia banget yaa kalau tema yang diangkat permainan kelereng

    Eh ini sama bangeeet! Dulu depan rumahku termasuk yang sepi dan kalau siang ke sore jarang ada kendaraan lewat, jadi anak-anak cowok suka main bola dengan gawang yang disusun dari sendal. Lucu yaa kok bisa keidean begini?

    Kenapa yaa anak-anak suka main petak umpet pas kondangan? WKwkwk apakah adrenalinnya jadi lebih terpacu?? Dan setujuuu ngumpet enakan beramai-ramai terus saling membantu biar si pencari kebagian jatah mencari lagi wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tema from zero to hero memang masih digunakan, tapi saya ngga kepikiran buat permainan kelereng ini jadi komik. Menarik juga. Nanti saya tanya ke teman kalo mau dan bisa jadi ilustrator dulu. Ha ha ha.

      Untuk anak cowok, ngga pernah kepikiran sapa yang bikin ide seperti itu. Kayaknya karena keterbatasan aja sih. Kalo tidak bisa bikin tiang gawang, cari yang gampang aja pake sendal atau batu.

      Nah, petak umpet ato enggo sembunyi juga termasuk permainan strategi. Gimana bisa sembunyi tapi bisa bikin yang jaga terus jadi penjaga

      Delete
    2. Aku juga sempet ngebatin kaya Mba Eya Seru jg itu permainan kelereng diangkat ke cirita anak2 dg nuansa lokal yg kental. Pasri jd banyak yg merasa ikut nostalgia jadinya

      Delete
    3. @Thessa: Menarik juga. Kok belum ada yang kepikiran yah?

      Delete
  5. Saya sudah pernah baca tulisan mas Rahul soal kelereng hahaha, jago banget memang, jadi business begitu Memang jika kita ahli dalam suatu hal, harus terus diasah, agar kita become spesialis, dengan begitu, kita akan lebih mudah menjual

    Eniho, baca cerita mas Rahul soal Benteng, jadi ingat, dulu jaman SD, saya lumayan sering main benteng, kadang bisa sampai bersepuluh orang. Ramai-ramai hahahahaha. Seru siiiih, apalagi bagian berusaha menyelamat teman yang ditahan lawan Dan memang permainan lapangan jaman dulu tuh sudah seperti olahraga yaaaa, kita bisa sampai berkeringat

    Sekarang bahkan, mau cari lapangan untuk main anak-anak saja susah. Kayaknya lebih banyak playground instead of lapangan biasa Kecuali dalam komplek perumahan yang memang menyiapkan hahaha. Terus teruuus videonya kok sedih bingits, entah kenapa membuat saya jadi mengimajinasikan ulang masa kecil saya 之

    Terima kasih sudah berbagi cerita, mas 戊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ilmu bisnis yang ada sejak kecil yah? Ha ha ha. Dulu, saya tidak sampai berpikiran seperti itu. Intinya kalo jago bisa ngumpulin uang dari jual beli kelereng.

      Nah, serunya memang di situ. Selain bermain juga kayak olahraga karena bisa sampai keringat dan bikin baju basah. Saya sendiri senang sekali bagian menyelamatkan teman yang disandera. Ha ha ha.

      Lapangan tempat main sepakbola waktu kecil saya sudah jadi rumah juga. Beberapa tempat yang jadi tempat main juga sudah disulap jadi bangunan. Jadi memang fasilitasnya sudah tidak ada. Videonya memang bikin kita jadi kilas balik masa kecil. Sedih euy :(

      Delete
  6. Sebentar hul aku mau ketawa dulu ya, momen nahan pipis ketika main petak umpet lucu bangett, ketawa ngingetnyaa. Kondisi kepepet antara nahan buang air dan ketangkep temen haha

    Dulu sih permainan paling sering dimainin pas jaman sekolah itu polisi maling dan galasin, mainnya sampe nyasar ngumpet di ruang guru segala lol.

    Kita ada kesamaan soal aplikasi game, aku juga sama, gak punya sama sekali aplikasi games di hp. Selain karena candu, aku gampang bosen main games sekarang yang kebanyakan iklannya. Mau ngeresume permainan mesti nonton video dulu, hadeeh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu memang masa-masa menyenangkan untuk dikenang. Eh, tapi itu nyasar sampe ke ruang guru gimana ceritanya? Ha ha ha.

      Nah, salah satu yang dimalesin juga itu. Sekarang lagi nyoba beberapa game rekomendasi teman-teman

      Delete
  7. Saya juga waktu kecil suka main kelereng kang Rahul, cuma ngga sampai tahap jago, kadang menang tapi seringkali kalah sih, jadinya tidak ada kelereng untuk dijual lagi dan dapat duit.

    Kalo enggo sembunyi atau petak umpet mah sering itu, apalagi kalo mainnya malam hari dan waktu bulan purnama, enak banget buat sembunyi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo Rahul kecil dulu ngeliat mas Agus sebagai sasaran empuk langganan bisnis. Ha ha ha.

      Nah, seperti Syifana, paling enak main malam sebelum taraweh

      Delete
  8. Hi Rahul, akhirnya aku bisa mampir ke sini juga .
    Aku masih ingat cerita Rahul yang jadi juragan kelereng itu hahaha, salah satu momen yang membanggakan dan membahagiakan banget pada masanya ya .

    Aku jadi ingat waktu aku SD juga ada permainan Kartu banting ini, biasanya kartunya adalah hadiah dari Ciki yang kadang bentuknya kartu pokemon atau yang kepingan besi gambar pokemon. Terus mirip seperti Rahul yang lama-lama jadi juragan kelereng, ada juga yang jadi juragan kartu karena sering menang hahaha. Awalnya aku pikir, dia punya banyak kartu gara-gara sering makan Ciki 不 padahal karena dia sering menang aja wkwk. Aku juga inget kartu yang dipakai untuk dibanting sampai udah nekuk dan penyok bagian tengahnya karena trik bantingnya harus seperti itu agar bisa menang, lama-lama ada peraturan nggak boleh menekuk bagian tengahnya 不.

    Kalau main Benteng, aku pernah juga tapi selalu jadi anak bawang padahal aku ingin ikut jadi pemain beneran 之. Memang sih, tiap kali baru main, aku kena mulu 不 karena badanku kecil dan larinya juga lambat jadi kena mulu hiks.

    Kalau petak umpet mah, jangan ditanya, rasanya ini mainan yang nomor 1 terlintas di pikiran tiap kali melihat ada ruangan luas dan padat barang 五.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dulu permainan bukan hanya seru-seruan, tapi jadi ajang menunjukkan skill dan jam terbang. Kasta bisa dilihat dari seberapa sering kita digosipkan. Ha ha ha.

      Biasanya, ada yang kepingan besi ada juga yang kertas biasa. Kalo yang kepingan besi itu sudah kayak pembatas di binder, punya kasta yang cukup tinggi. Selain kartu banting, sebenarnya kartu itu bisa juga dimainkan dengan cara tepok. Sistem kalah-menangnya tetap sama, tapi biasanya kecurangan lebih sering terjadi kalo pake cara itu.

      Biasanya yang badannya kecil itu yang jago lari. Makanya Harry Potter alih-alih dihukum atau dikeluarkan, ia malah ditunjuk jadi Seeker-nya Gryffindor untuk main Quidditch. Ha ha ha

      Delete
  9. Kalau lihat anak-anak sekarang, biasanya ngumpul sambil nontonin smartphone masing-masing. Mereka bertualang juga sih, tapi bertualangnya di dalam layar ya. Tapi untungnya nggak semua anak-anak begitu, karena di lingkungan sekitar rumah saya masih banyak yang mainnya nggak pakai smartphone. Saat mengetik ini sekarang pun, di bawah kedengaran anak-anak yang sedang main polisi-polisian.

    Kartu buang tuh bentuk judi usia dini kayaknya ya (HAHAH).

    Kalau dari games yang di atas, saya paling suka benteng-bentengan nih, Rahul. Permainan ini tuh can make it or break it yak? Kalau ada yang kalah tuh kadang bisa terjadi perpecahan politik yang berpengaruh sampai beberapa hari ke depan. Nggak terima kalau dia kalah. Saya juga termasuk yang suka ngambek karena itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, kebetulan kemarin jalan-jalan ke sekitar rumah. Masih ada beberapa anak yang main kelereng ternyata. Salut. Jadi pengen iktu nimbrung, nanyain siapa yang jago main terus dilatih biar jadi gembong kelereng juga. Ha ha ha.

      Kayaknya, hampir semua mainan dulu tuh bentuk judi usia dini. Bahkan, sesimpel main layangan aja bisa jadi judi karena saling adu layangan. Ha ha ha.

      Nah, makanya, kalo kalah biasanya satu tim jadi menimbulkan perpecahan. Saling lempar kesalahan sampai akhirnya ada rematch lagi biar ngebuktiin kalo yang kemarin itu masih pemanasan. Ha ha ha

      Delete
  10. Ya ampun iya bentengan, hahahahah seru banget lari-larian gitu, ngos-ngosan terus kzl kalo jadi sandera hahahaha. Padahal itu waktunya istirahat kan, tapi kalau anak kecil mah nggak suka kalau nggak lari-lari. xD

    Aku pas kecil punya banyak banget kelereng walau nggak pernah main kelereng :p yang main kelereng rata-rata anak cowok ya. Kakak laki-lakiku dulu hobi banget main kelereng, kayaknya sebelas dua belas sama mas Rahul dan teman-teman.

    Petak umpet itu mainnya seru kalau pas hari gelap. xD tapi takut juga kalau sembunyi terus tiba-tiba ada ular gitu kan di semak-semak wkwk.

    Oh iya bener dulu anak-anak laki gawangnya pake sendal. xD keterbatasan membuat mereka jadi kreatif hahahaha.

    Baca tulisan mas Rahul kalau dari TK-SMP belum ada smartphone, aku langsung ngitung mundur kapan aku terakhir belum ngerasain smartphone, dan itu waktu...kuliah. xD

    Bener sih suka kayak kangen gitu sama masa kecil di mana kalau ke rumah temen itu ngafalinnya sendal, terus heran juga lho aku dulu kok bisa janjian tepat waktu sama banyak orang tuh padahal nggak ada telepon wkwkwk. Ya memang semuanya juga nggak ada telepon sih jadi ya mau nggak mau perilakunya sama lah ya.

    Dan video itu aku juga pernah nonton mas Rahul, ngeri juga. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biasanya, kalo sanderanya banyak bisa saling pegangan biar jarak dari benteng lawan agak jauh. Ha ha ha.

      Kalo main kelereng, itu sudah jadi permainan favorit saya pas masih kecil. Kebanyakan yang main memang anak laki-laki. Tapi tak jarang juga ada cewek satu-dua orang nyempil main.

      Pas kecil, saya takutnya malah bukan karena ular. Tapi karena ditakut-takutan kalo main petak umpet nanti disembunyiin hantu. Ha ha ha.

      Kalo benar-benar smartphone basis android, pas SMA. Hape pertama yang bangkainya masih tersimpan. Kalo jaman SMP, Blackberry bisa disebut smartphone kah?

      Nah, karena kemudahan itu malah yang sekarang jadi boomerang. Dulu, karena akses komunikasinya tidak semudah sekarang, jadi orang punya effort lebih untuk tepat waktu dan tidak menunda. Kalo main, langsung ke lapangan biasa. Tanpa sms, telepon, atau WhatsApp, jam 3 lebih sedikit yang di lapangan sudah banyak. Lebih dulu datang, lebih besar kesempatan mainnya.

      Kalo menjadikan itu sebagai gambaran masa sekarang dan yang akan datang, memang video itu mengerikan sekali kak Endah

      Delete
Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.