zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

Jumlah Koleksi, Harga Ideal, dan Buku yang Bikin Cinta Buku (Bersama Haris Firmansyah)

Tidak terasa, kita sudah berada di episod enam Perspektif Majemuk, segmen blog saya yang ngomongin berbagai macam topik dari berbagai perspektif. Perlu saya katakan bahwa segmen ini awalnya didesain untuk tayang seminggu sekali, tapi setelah saya lihat kayaknya konten ini cukup eksklusif. Jadi mesti dikasih jarak dengan tulisan yang lain.

Sekali sebulan mungkin terlalu lama, jadi saya tetapkan menjadi dua kali sebulan, atau hitungan kasarnya tayang dua minggu sekali setiap hari Jumat. Orang-orang yang saya hubungi sejak Januari mungkin akan kaget saat saya menghubunginya beberapa bulan setelahnya. Mungkin mereka pikir,"oh, tulisan ini naik juga yah?"

Saya memang menghubungi teman-teman pada topik pertama (baca: buku), secara keroyokan. Hingga pada episod ini, masih ada empat nama seingat saya yang masih ada empat nama dari topik yang sama (baca lagi: buku) juga.

Setelah mengundang penulis buku Nikah Muda pada episod pertama, episod keenam ternyata saya berhasil mengundang bang Haris Firmansyah, penulis buku Date Note, 3 Koplak Mengejar Cinta, dan yang paling baru Petualangan Seperempat Abad. Selain itu, bang Haris juga aktif nulis di Mojok, Voxpop Indonesia, maupun Kumparan.

Jumlah Koleksi, Harga Ideal, dan Buku yang Bikin Cinta Buku (Bersama Haris Firmansyah)
Awal mula kenal bang Haris itu lewat blog juga, saat awal-awal main, bang Haris sudah aktif nulis blog dengan sentuhan komedi. Tak heran jika tulisannya sampai sekarang selain cukup banyak satirnya, tapi masih tetap meninggalkan garis senyum diwajah saya. Karena bang Haris juga, saya akhirnya beberapa kali ngirim artikel ke beberapa situs.

Kayaknya pengantarnya cukup, buat yang mau kenal dengan bang Haris lebih lanjut bisa main ke blognya, Harisfirmansyah.com, atau baca tulisannya dibeberapa situs seperti yang saya mention diatas. Seperti biasa, jawaban saya dikolom biru dan jawaban bang Haris dikolom merah. 

Berapa banyak buku yang kamu timbun?

Cukup banyak untuk bikin perpustakaan atau taman baca keliling. Mungkin hampir nyentuh 200 kalau dihitung dengan buku pegangan mata kuliah. Dulu memang cukup sering beli buku, sekarang aja nih mulai jarang karena kebutuhan makin banyak. Mulai dari biaya bensin atau kuota internet. Jadi paling saya belanja bukunya sebulan sekali.

Banyak banget. Kalau pensiun umur 40 tahun, saya nggak bakalan kehabisan bahan bacaan.

Berapa harga ideal sebuah buku?

Saya sih pengennya murah biar ngga tergoda beli buku repro atau bajakan. Tapi royalti penulis juga ngga gitu besar, jadi rada dilematis juga. Dulu jaman SMP, bawa uang 150 ribu bisa bawa tiga judul buku. Sekarang bawa uang segitu kayaknya syukur-syukur dapat dua judul buku. Kalo ditanya berapa harga ideal, kayaknya dulu harga buku masih cukup ideal dibandingkan sekarang.

50rb cukup.

Buku seperti apa yang kamu ingin baca?

Saya senang baca buku yang kalimat pembukanya menarik. Makanya, saya senang main ke toko buku cuma untuk nyari buku yang plastiknya sudah dibuka kemudian baca satu paragraf pembukanya. Kalo saya tertarik, biasanya saya bawa ke meja kasir. Tapi itu saja tidak cukup sih, saya juga mesti bertahan hingga akhir tulisan. Salah satu yang paling baru dan berhasil bikin saya tidak lepas hingga halaman terakhir adalah buku Harry Potter dan Batu Bertuah pemberian kak Jane.

Buku yang bikin saya nggak bisa melepasnya dari halaman pertama sampai penutup.

Buku yang kamu ingin bawa jika harus masuk penjara seperti film The Platform?

Tadinya saya pengen jawab Al-Qur'an. Tapi sejauh yang saya ingat, sosok religius dalam cerita-cerita dystopian tidak ada yang menyenangkan. Lihat Gabriel dalam serial The Walking Dead. Saya pernah menulis jika hanya boleh membawa satu buku seumur hidup, saya akan membawa buku Dilan. Tapi kalo konteksnya macam film The Platform, kayaknya saya akan bawa buku catatan kosong dan pulpen.

Kitab suci. Biar bisa memperdalam agama.

Buku apa yang membuatmu mencintai buku? 

Pertanyaan sulit. Saya ngga tau, buku apa yang membuat saya cinta dengan buku. Saya tidak bisa bilang juga mencintai buku, saya hanya senang membaca cerita. Kebetulan formatnya buku. Kalo alasan saya mengoleksi, itu lebih kepada biar saat mau dibaca ulang gampang. Mungkin kalo pertanyaannya, buku apa yang bikin saya rajin beli dan baca buku, itu adalah Marmut Merah Jambu karya Raditya Dika.

Harry Potter. Beruntung sekali mengenal buku itu.


Senang sekali bisa mendapatkan pertanyaan yang menarik dari bang Haris. Seperti biasa, saya minta kolaborator untuk memberi lima judul buku favorit yang personal untuk mereka. Mungkin bisa jadi rekomendasi bacaanmu bulan ini.

Jumlah Koleksi, Harga Ideal, dan Buku yang Bikin Cinta Buku (Bersama Haris Firmansyah)

Harry Potter, JK Rowling
Kambing Jantan, Raditya Dika
Drop Out, Arry Risaf Risandi
Laskar Pelangi, Andrea Hirata

Sang Pemimpi, Andrea Hirata 

Sayang sekali, untuk kolaborator kemarin tidak ada yang bisa nebak. Seperti biasa, saya mencari orang yang bisa nebak kolaborator selanjutnya. Ada 25k saldo OVO untuk yang bisa menebak, agak berbeda dari clue sebelumnya, clue kali ini hanya berbasis gambar.

Related Posts

22 comments

  1. Wah haris Firmansyah nih... dulu saya kenal haris gara2 mention akun twitternya waktu baca tulisannya yang lucu di buku Si Jola. Setelah itu malah jadi sering ngobrol2 bahkan tuker-tukeran buku, sesekali jual beli juga.

    Btw, Haris sekarang jawabnya ngirit banget nih. Mungkin tulisan agak panjangnya mending dijadiin tulisan di Mojok ya hahaha

    Salah satu bukunya ada Drop Out, saya juga setuju kalau ini adalah buku terlucu yang pernah ada. Bahkan buku-bukunya Raditya Dika menurut saya masih kalah lucu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, ha ha ha, mungkin karena bang Haris waktu itu lagi sibuk-sibuknya.

      Saya jadi penasaran pas nyari sampulnya di internet. Dulu, kayaknya pernah liat jaman masih sering ke Gramedia. Mungkin sudah ngga dicetak lagi yang bang Dot?

      Delete
  2. Jujur, gue anak baru di dunia blog, dan gue juga baru beberpa kali ke blog ini dan juga blog Haris. Tapi segmen ini oke sih, membuat ngeblog jadi lebih seru aja.

    Kalo misalkan lu kenal N Firmansyah, mungkin yang selanjutnya adalah dia. Terlihat dari gambarnya yang B&W. Tapi gak tau juga hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah kalo segmen ini menarik untuk mas Dede.

      Saya kenal bang Firman dan udah nyatat Perspektif Majemuk untuk topik lain adalah dia, tungguin aja yah

      Delete
  3. Wah, pantas saja nggak ketebak, soalnya aku baru tahu beliau lewat tulisan ini jadi no idea sama sekali sebelumnya πŸ˜‚

    Beberapa jawaban di atas ada yang relate denganku. Menurutku harga buku juga kalau bisa lebih murah, lebih baik. Jadi bisa meningkatkan minat baca dan juga mengurangi pembajakan, cuma dilemanya sama pemasukan penulisnya ya πŸ˜…. Entah kenapa kalau aku lihat di luar negeri, harga buku bisa murah-murah dan itu bikin ngiler πŸ˜‚

    Lalu, Kitab Suci akan aku bawa juga kalau pergi ke tempat yang kayak penjara The Platform, walaupun aku harap nggak akan pernah masuk ke sana karena ngeri 🀣

    Untuk next kolaborator, tebakanku adalah Kak Jane Reggievia soalnya itu gambar dari Filosofi Kopi dan Kak Jane kan penggemar kopi bingit 🀭

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, sekarang bang Haris lebih sering nulis untuk Mojok dan Voxpop.

      Wah, saya malah nyangkanya harga buku di luar itu lebih malah ketimbang di sini. Ini yang kak Lia maksud buku fisik atau ebook?

      Untuk tempat semengerikan di film The Platform, saya juga ngga berani meskipun sehari.

      Untuk jawabannya saya keep dulu yah kak Lia

      Delete
    2. Memang pemasukan penulis dari buku itu berapa persen sih dari harga bukunya kang Rahul? πŸ€”

      Delete
    3. Beda-beda. Setau saya, penulis yang sudah punya nama bisa dapat 10% ke atas. Tergantung kesepakatan dengan penerbit. Selebihnya yah dibawah itu

      Delete
  4. Ahahahaa pantas enggak ketebak jugaa, ini aku juga baru tau Bang Haris dari sini Rahul wkwk. Mungkin pernah baca tulisan beliau di Mojok kali yaa, aku sering baca-baca di Mojok soalnya.

    Pertanyaan soal buku yang dibawa kalau dipenjara ini bikin rada mikir... Hmmm kayaknya aku pengin bawa komik-komik yang menghibur aja kali yaa kayak Miiko, Yotsuba atau Nozaki, biar menghibur sedikit kalau lagi dipenjara hahaha kebayang stres duluan pasti apalagi kalau sejenis di film The Platform πŸ˜‚

    Next kolaborator hmmm aku juga mikirnya Jane niih kayaknya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untuk yang sering baca Mojok, mungkin pernah baca tulisan bang Haris karena ia cukup aktif nulis di sana.

      Kemanapun perginya, komik Miiko tetap yang utama yah. Ha ha ha. Saya jadi penasaran, kok banyak yang suka dan merekomendasikan komik ini. Sebagai orang yang jarang baca komik, saya jadi tertantang.

      Jawaban kak Eya saya keep dulu yah :D

      Delete
  5. Waw network mas Rahul memang mantap! Aku pun sama kayak Lia, belum pernah mendengar nama bang Haris sebelumnya. Jadi tau setelah membaca tulisan ini.

    Berhubung aku belum pernah nonton The Platform jadi nggak ngerti gimana ngerinya hahahaha. Buku yang aku bawa kalau misalnya dipenjara...bukunya Habib Jafar yang judulnya Tuhan Ada di Hatimu biar jadi alimπŸ€ͺ

    Wah aku pun suka buku-buku karya Andrea Hirata yang tetralogi Laskar Pelangi, bacanya sampai nangisπŸ˜‚

    Untuk next collaborator aku tadi udah kayak...astagaaa pakai clue kata aja aku gabisa nebak lha ini malah gambar. Terus baca komennya Lia, oh iya bener juga sih itu jawabannya kali yaπŸ˜… langsung ngeh sama cewek aja yang fotonya berwarna dan ada kopi-kopinyaπŸ€£πŸ‘

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bang Haris mah memang keren. Saya kenal bang Haris sudah cukup lama, saya senang baca tulisan-tulisannya karena komedi. Sempat beli bukunya juga.

      Menarik tuh. Keluar-keluar jadi alim, ketemu teman lama jadinya kaget kok ada yang beda. Ha ha ha.

      Saya sendiri ngga baca Laskar Pelangi, tapi baca Sirkus Pohon. Tiap babnya pendek-pendek, tapi bikin susah berhenti.

      Kebanyakan jawabannya sama, tapi apakah cuma kak Jane perempuan yang suka ngopi? Saya jadi mikir nih. Ha ha ha

      Delete
  6. Wow nggak terasa juga yaa Perspektif Majemuk sudah masuk episode keenam. Jujur ini segmen yang saya tunggu-tunggu di blognya Mas Rahul, karena kontennya menarik 😁

    Dan idem sama Lia, saya baru tahu nama beliau karena diundang Mas Rahul untuk episode ini πŸ˜‚ *salim dulu sama Mas Harris* sayang beliau jawabnya irit hahaha padahal pertanyaannya cukup okee. Apalagi tentang jumlah buku yang ditimbun. Kalau usia 40 udah pensiun nggak akan kehabisan bacaan, berarti koleksi buku beliau sebanyak apa 😱

    Tentang harga ideal sebuah buku itu memang dilema banget. Royalti penulis kita tuh masih minim πŸ˜” terkadang saya merasa novel lokal seharga 100k ke atas aja udah mahal sekali. Padahal dulu bisa didapatkan dengan harga di 50-60k. Dan yang saya dengar pendapatan penulis melalui platform ebook pun nggak seberapa. Benar-benar dilema banget πŸ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih kak Jane sudah menanti segmen ini, saya jadi makin semangat untuk nyari topik dan kolaborator baru.

      Jawabannya memang agak ngirit, tapi pertanyaannya menarik. Saya harapnya, jawaban teman-teman bisa ngasih perspektif lain juga.

      Iya, mungkin rumah mas Haris isinya buku semua. Ha ha ha. Kalo bicara soal distribusi buku, memang sulit euy. Orang yang ngerti aja masih kebingungan, gimana sayanya. Syukur-syukur beberapa penerbit masih bisa survive, jadi kita bisa terus dapat asupan baca

      Delete
  7. saya pembaca baru di blog ini. suka sama tulisannya. keren. btw samaan nih buka favoritnya, Harry Potter, itu adalah buku yg membuat aku jatuh cinta sama membaca dan menulis.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harry Potter memang keren. Agak menyesal baru baca sekarang. Terimakasih sudah membaca pos ini kak

      Delete
  8. Hehehe maaf jawabannya jadi irit. Jujur nggak tahu kalau dijadikan postingan sendiri. Kirain bakalan dibarengi sama temen-temen yang lain dalam satu postingan.

    Tapi makasih Rahul buat slot episode ini. Semoga lima pertanyaan saya bisa memancing yang lain untuk menjawab versi masing-masing juga. Biar perspektif semakin majemuk.

    Untuk harga buku ideal sepertinya saya masih belum update. Sekarang harga buku rerata udah di atas 100k. Butuh bantuan pemerintah ini untuk subsidi buku. Terutama harga kertas yang naik terus.

    Btw, ternyata saya masih butuh banyak exposure. Soalnya pertanyaan yang jawabannya adalah saya, nggak ada yang bisa jawab. πŸ˜‚

    Salam kenal buat semuanya. Namaste.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ngga apa-apa bang Haris. Jawabannya tetap menarik dan on point. Selain dari bang Haris, tujuan segmen ini juga lebih jauh memang untuk ngeliat perspektif teman-teman yang lain.

      Sekarang, kebanyakan buku memang harganya diatas 100k. Apalagi yang novel dengan jumlah halaman diatas 200-an.

      Mungkin circlenya mesti diperluas lagi bang. Ha ha ha. Setidaknya jadi penulis skrip Ikatan Cinta biar nambah-nambah CV. Mewakili teman-teman, terimakasih untuk insightnya bang

      Delete
  9. Wow luar biasa mas Rahul bisa kolaborasi dengan haris Firmansyah, siapa sih yang tidak kenal beliau, aku beberapa kali baca tulisan beliau. Salut buat mas Rahul πŸ‘

    Untuk buku dulu waktu bujangan beberapa kali beli karena memang masih sendiri, tapi sejak menikah sudah jarang beli novel, kalaupun beli buku biasanya malah komik πŸ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah bang Haris masih punya dan menyediakan waktu untuk berkolaborasi dengan saya.

      Waktu masih bujang memang ngga ada tanggungan apa-apa, jadi kebutuhan hobi masih bisa jalan

      Delete
  10. rekom buku buku favorit mas haris, aku suka semua, andrea hirata,raditya dika
    dan nggak asing sama nama mas haris, mungkin pas awal awal warung blogger dulu
    harga ideal buku ehmm susah juga nentuinnya, tiap penerbit pastinya punya pertimbangan sendiri kenapa buku itu dihargai segitu
    duluuuu pas masih jaman masih piyik, harga buku 20-30ribuan udah biasa,makin tambah taun memaklumi juga kalau rate buku rata rata 60an ke atas

    ReplyDelete
    Replies
    1. Meski tidak pernah ada diera harga segitu, tapi 50ribuan sudah sangat terjangkau untuk saya waktu itu kak Ainun

      Delete
Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.