zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

Sandiwara Sastra "Malam Pengantin Aisyah"

Saya rindu kerja kolektif. Menulis cerita maupun blog adalah tentang ego saya sendiri. Meski saya orangnya cukup individualis, saya senang bekerja secara kolektif. Saat akhir SMP, saya mulai membuat film pendek bersama teman-teman saya. Masuk ke SMA, saya juga membuat beberapa film pendek. Bahkan kuliah, saya sempat membuat film pendek sebagai tugas mata kuliah.

Selain senang dengan kerja-kerjanya, saya juga cukup tertarik melihat transformasi bentuk dari tulisan saya menjadi bentuk yang lain. Dalam hal ini, mungkin audiovisual. Saya senang bagaimana mesti mengarahkan mereka sesuai imajinasi dari hasil tulisan saya. Saya senang ketika merasa exciting saat mengedit dan memotong filmnya sendiri. Membuat poster dan trailer secara individu.

Saking rindunya, pada satu ujian final mata kuliah saya menyarankan kepada teman-teman kelompok saya untuk membuat film pendek saja. Naskah, editting, dan lain-lain biar saya yang urus. Mereka tinggal menghapal naskah dan memainkan perannya masing-masing. Meski nilai kami tidak sesuai dengan ekspektasi, tapi itu adalah salah satu ujian final favorit saya.

Lama tak merasakan hal itu lagi, saya kembali merasa rindu. Waktu-waktu pandemi, saya banyak mengisinya dengan menulis blog, membaca buku, dan bermain. Dulu kalau liburan, saya men-WhatsApp teman-teman saya, menanyakan waktu kosong mereka untuk membuat film pendek. Gairah itu masih ada, bertahan dan terus membesar. Tapi energi untuk melakukannya sudah sangat sedikit, apalagi mengumpulkan orang-orang bukan hal yang mudah.

Sampai suatu waktu, LPM Katharsis, organisasi pers kampus yang saya ikuti membuat acara launching buku dengan segmen Sandiwara Sastra didalamnya. Setelah naskah jadi, para pemain yang mengirimkan rekaman suara yang dikumpulkan. Saya diamandatkan menjadi penanggung jawab suara. Meski didalam credit title saya sebagai ilustrasi musik, saya lebih nyaman disebut penata suara.

Sandiwara Sastra yang dimaksud bukanlah pementasan panggung, melainkan pemutaran suara yang biasanya dialihwahanakan dari sebuah karya sastra. Dalam hal ini, karya sastra yang diambil adalah cerita pendek Malam Pengantin Aisyah karya Faika Burhan, dari kumpulan cerita Malam Pengantin Aisyah yang akan launching pada hari yang sama.

Sandiwara Sastra "Malam Pengantin Aisyah"
Setelah hampir dua minggu latihan dan reading, saya mengusulkan untuk membuat semacam rekaman demo terlebih dahulu. Mengedit film pendek berbasis video, itu memang hal yang akrab dengan saya. Tapi ini basisnya audio, lebih sulit ketimbang video menurut saya. Secara tidak langsung, saya mesti melakukan pemanasan terlebih dahulu, dan pembuatan demo itulah fungsinya.

Setelah hampir dua hari dua malam mengedit, demo audionya jadi. Berada pada durasi 18 menit 15 detik, dengan beberapa kali pengeditan ulang untuk memastikan potongannya sempurna. Sejujurnya, pekerjaan ini melelahkan. Ada begitu banyak aspek yang terlihat sederhana dimata orang awam tapi percayalah, itu lebih sulit ketimbang memotong dan menggabungkan video.

Hanya rasa lapar bertahun-tahun itu yang membuat saya punya gairah. Ada semacam perasaan bahwa kerja-kerja kolektif adalah pekerjaan yang tidak selesai pada saat pengeditan naskah. Itu akan berubah saat proses latihan sampai editing. Mungkin mengalami penambahan atau pengurangan, tergantung kebutuhan dan situasi di lapangan.

Makanya saya tidak terlalu tertekan mengambil pekerjaan ini. Saya masih punya andil untuk membuat versi terbaik dari diri saya kedalam bagian editing audio ini. Bukan hanya sekadar menerima tugas dan pekerjaan untuk diedit sesuai keinginan naskahnya. Saya sempat mengambil inisiatif sendiri untuk mengutak-atik posisi dialog dan naratornya.

Selain karena kepentingan suara, itu juga lebih kepada hal teknis. Belajar dari demo itu, jari jemari saya akhirnya mulai awas dan tahu apa yang mesti saya kerjakan. Tools dan fungsi aplikasi yang baru saya instal beberapa hari sebelum pengambilan demo, akhirnya perlahan saya kuasai. Saya sudah tahu basicnya, jadi gampang untuk meraba dan mempelajarinya.

Tanggal 15 Maret kami masuk dapur rekaman. Datang pagi sekali untuk mengambil suara, ternyata bukan hal yang mudah meski sudah lebih dulu membuat demo rekaman. Mungkin karena belum sarapan atau hal lain, saya merasa pengambilan suara lebih bagus saat didemo rekamannya. Makanya, saya mulai kurang antusias. Keluar sesekali karena mulai merasa ada yang salah, namun itu bukan tanggung jawab saya untuk menghentikan dan mengarahkan mereka.

Sandiwara Sastra "Malam Pengantin Aisyah"
Ketika selesai, saya sempat merasa sangat capek. Saat kami dipanggil ke Rumah Bunyi, saya sempat merasakan sakit kepala yang sangat hebat. Mungkin karena panas matahari dan perut yang kosong, atau karena hal lain. Meski berkata ingin pulang dan istirahat, tapi saya berpikir akan menjadi pecundang jika memulai sesuatu tanpa mampu mengakhirinya.

Setelah makan dan mandi, saya ke Rumah Bunyi. Memberi tahu uneg-uneg dan hal apa saja yang mesti dilakukan. Saya sempat memberi saran agar semua pemain melakukan take ulang, tapi jalan tengah yang diambil adalah pengisi suara Aisyah dan kakak ditukar untuk melakukan pengambilan suara kembali guna mendapatkan emosi yang diinginkan.

Karena tempat kami mengambil rekaman adalah sebuah percetakan, kami mesti menunggu rukonya tutup dulu. Itu mungkin pukul 12 lewat, dan akhirnya bisa melakukan pengambilan audio. Meski perannya diganti, namun tidak serta merta membuat prosesnya menjadi mudah. Apalagi Sandiwara Sastra ini benar-benar mengandalkan suara.

Saya ikut mengawasi untuk menjaga emosi yang mereka bawa. Dengan pegangan dari arahan sutradaranya, saya kembali mengingatkan mereka ketika berada diluar jalur. Saya tahu kapasitas saya, itu bukan tugas saya. Ini hanya perpanjangan tangan dari penulis naskah dan sutradaranya. Meski mengalami banyak kendala, take ulang bisa selesai pukul 3 pagi, dengan martabak dan terang bulan yang dibeli Ferdian.

Setelah mendapatkan mentahan, saya pulang dan langsung tidur. Bangun pagi untuk kuliah dan bikin kopi, kemudian bersiap untuk mengedit. Sebenarnya, saya punya tim editing. Tapi saya menggunakan mereka sebagai pencari ilustrasi musik dan sound effect saja. Meski senang bekerja kolektif, tenggat waktu membuat saya mesti melakukannya sendiri.

Profesi editor menurut saya adalah pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan seperti ketika mengerjakan hal lain. Saya rasanya mesti menyelesaikannya sekali duduk meski harga yang harus dibayar adalah jatuh sakit. Ketika selesai menyusun draf 1 editting, itu mencakup penyusunan dialog dan naratornya, saya akhirnya istirahat sebentar.

Kemudian lanjut draf 2 untuk mulai memasukkan ilustrasi musiknya. Ini hal yang cukup sulit karena mengandalkan durasi dialog dan penggalan tiap kata yang mereka ucapkan. Kemudian masuk ke draf 3 sebagai bentuk penyempurnaan. Kalo dalam Master Chef, mungkin bagian ini istilahnya plating

Setelah berhasil menyelesaikan, saya mandi dan makan. Kemudian istirahat sejenak untuk menimbang-nimbang apakah mesti hadir pada acara nanti malam. Sebagai editor, tugas saya sudah selesai. Tapi sebagai divisi perlengkapan, ternyata saya masih punya tugas di sana. Setelah siap-siap, saya jalan sore sebelum maghrib dari rumah.

Di Madecca Coffee, beberapa teman sudah berada di sana menyiapkan dekorasi dan peralatan. Saya membantu yang lain jika dibutuhkan. Melihat berbagai hal yang bisa dikerjakan kalau memang ada. Kemudian menyiapkan rekaman yang sudah berhasil publish di Spotify. Meski terkendala oleh sound, akhirnya ditengah acara bisa teratasi oleh genset yang dibawa Arjun.

Sandiwara Sastra "Malam Pengantin Aisyah"
Itu adalah rencana yang baik karena pemutaran Sandiwara Sastra mesti menggunakan kualitas suara yang bagus dengan volume yang agak besar. Beberapa menit sebelum pemutaran, lampu dimatikan. Saya duduk tepat disamping pengeras suara, mengawasi kalau-kalau ada suara aneh yang luput saya dengarkan. Ternyata tidak ada. 

Meski belum puas dengan hasilnya, saya rasa itu adalah hasil terbaik yang bisa saya kasih dalam waktu segitu.

Sandiwara Sastra "Malam Pengantin Aisyah"

Acara berjalan dengan baik dan lancar. Tamu undangan beserta dosen menikmati acara dengan khidmat. Semoga senang dan menikmati, dari apapun tidak bisa kami capai itu adalah hal terbaik yang bisa kami lakukan. Saya kayaknya mesti istirahat sejenak. Setelah pulang, tidur saya jadi lebih nyenyak dari biasanya.

Untuk yang mau mendengarkan hasilnya, bisa play dibawah ini.

Related Posts

6 comments

  1. Saya baru selesai dengar podcast-nya, Rahul. Kerenn!!๐Ÿ‘๐Ÿป Konsep sastra seperti ini harus diperbanyak lagi๐Ÿ˜, supaya penikmat-penikmat karya sastra yang lain bisa punya pilihan lebih banyak untuk akses di platform manapun. Soalnya setau saya kalau yang konsepnya monolog memang banyak, tapi yang dalam bentuk tim seperti ini masih jarang, *atau saya aja yg kurang update ya, Hul?๐Ÿ˜‚

    Mendengarnya saya jadi teringat segmen cerita-cerita atau "film", pendek di radio. Dulu waktu kecil saya sering dengar segmen seperti itu, drama tapi dalam bentuk audio. Walaupun gak ada visualisasi, dengan semua kelengkapan dan usaha yang dimasukan ke dalam audio itu ternyata bisa juga berhasil menggambarkan visualisasi sendiri di kepala saya. Karena itu, saya bisa mengerti repotnya gimana. Sugohaseyo, Rahul๐Ÿ‘๐Ÿป๐Ÿ˜

    Semangat terus berkaryanya, dan ditunggu episode terbaru๐Ÿ˜†

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, terimakasih Aina. Terimakasih. Konsep Sandiwara Sastra ini memang jadi hal yang baru untuk sekarang padahal sudah ada sejak dulu. Kalo Aina suka, mungkin bisa dengar Sandiwara Sastra yang diluncurkan Dirjen Kebudayaan bersama Titimangsa. Itu keren.

      Saya sendiri senang konsep Sandiwara Sastra ini karena kita, sebagai pendengar, diajak untuk membangun theater of mind sendiri. Sama ketika membaca buku. Tapi itu tentu saja kerumitan tersendiri untuk pembuatannya.

      Mudah-mudahan akan ada lanjutannya meski saya tidak ada lagi

      Delete
  2. Whiah, Aisyah itu salah satu nama favorit saya.

    Proyek yg keren.. bangga lho dengan anak2 muda zaman skrg yg makin kreatif.

    Baru mulai dengerin nih. Yg jelas kualitas audionya jernih. Dan saya jd tahu nama lengkapnya Rahul.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih kak Nisa, semoga menikmati hasilnya. Ohya, Aisyah juga mirip sama nama kak Annisa.

      Iya, tumben-tumben tuh nama asli saya kepake. Formalitas aja itu mah. Ha ha ha

      Delete
  3. Kak Rahul!!! Baru saja selesai dengerinnya!!! Keren banget!! Aku suka!! Berkat kerja keras Kak Rahul, dan teman-teman Kak Rahul aku jadi bisa membayangkan adegan demi adegan dalam kepalaku! Apa ada Sandiwara Sastra episode berikutnya? Atau ini hanya project satu kali Kak Rahul? Kalau ada, aku pasti akan balik untuk dengerin lagi!

    Dulu sebelum pandemi, daripada nonton bioskop, aku lebih sering nonton teater. Bahkan ada beberapa teater yang dipatok dengan harga yang lebih mahal daripada tiket bioskop. Haha ๐Ÿคฃ Tapi mau bagaimanapun, tetap dibeli karena saking sukanya sama seni teater.

    Dengerin podcast Sandiwara Sastra jadi sedikit mengobati kerinduanku akan panggung teater. Haha

    Terimakasih atas kerja kerasnya Kak Rahul! ๐Ÿ˜Š

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rencananya sih begitu, Syifana. Akan ada alih wahana lain lagi, mungkin bentuknya bukan Sandiwara Sastra dan bukan saya lagi yang jadi penanggung jawab audio. Tapi tetap akan ada.

      Waktu awal pandemi, saya juga senang nonton pemutaran ulang teater dari Titimangsa. Kebetulan waktu itu pemutaran Teater Bunga Penutup Abad gratis. Kalo Syifana suka dengan Sandiwara Sastra, mungkin bisa dengan versi dari Kemendikbud, itu juga keren-keren

      Delete
Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.