zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

Melihat Toleransi dari Kacamata Alien

Tumbuh besar di lingkungan yang satu warna membuat saya terlambat belajar tentang makna toleransi. Saya tumbuh besar dengan percaya bahwa agama yang paling baik adalah agama yang saya yakini, Islam. Saya tumbuh besar dengan percaya bahwa suku yang paling keren adalah suku yang mengalir dalam diri saya, Bugis. Saya tumbuh besar dengan meyakini apa yang saya punya adalah hal yang benar, keren, seakan tidak ada lagi yang bisa mengatakan hal itu ketimbang saya. Seakan-akan, diluar dari itu semua adalah turunan dari hal baik dan benar yang saya punya.

Sampai akhirnya saya sekolah. Masuk ke TK yang kurang lebih dua ratus meter dari rumah saya. Tiga hari pertama diantar oleh Mama dan Tante sampai kemudian saya memberanikan diri untuk berangkat sendiri. Disanalah saya pertama kali menyadari bahwa ada yang beda selain saya. Teman saya, namanya Joko. Tergambar dari namanya, dia memang Jawa tulen. Berbicara dengan dialek Jawa yang kental. Kami sampai sering mengejeknya ketika melafalkan kata yang mengharuskan lidahnya medog.

Masuk SD, saya kembali menyadari ternyata ada lagi yang berbeda selain saya. Beribadah lima kali sehari ternyata bukan satu-satunya agama yang diyakini di dunia, khususnya di lingkungan saya. Teman saya, Ira, seorang perempuan pemeluk agama Kristen. Saya tau Ayah dan Ibunya mempunyai agama berbeda setelah kami tumbuh dewasa dan ngobrol. Saya pikir, ia lebih dewasa dalam membicarakan hal ini. Ira punya sepupu, akrab dipanggil Eko. Saat SD, saya tahu banyak tentang Ira lewat Eko. Kadang-kadang, lewat Eko juga kami dipanggil ke rumah Ira untuk merayakan hari natal. Kami saling pandang saat itu. Pikiran anak SD saat itu: pergi ke rumah teman yang beragama Kristen apakah akan membuat kami Kristen? Apalagi saat itu, kata “anjing” dan “babi” sangat keras sekali dilantangkan saat pelajaran Agama. Asumsi akan diberi makan binatang haram itu menghantui pikiran kami. Sampai akhirnya kami sepakat untuk datang, namun hanya minum Fanta dan kue Kastanggel yang dijamu oleh Ira. Saya rasa saat itu Ira juga mengerti.

Karena menyadari pikiran tersebut, saya akhirnya ingin lebih terbuka dengan berbagai macam pikiran yang masuk saat SMP. Saya punya teman beragama Kristen lagi di sana. Ketika natal, kami datang tanpa pikir panjang. Membicarakan lelucon tentang Agama dan menyenangkan. Saya tidak masalah dengan ucapan selamat natal. Saya melakukan itu meski mayoritas muslim percaya itu salah. Saya rasa, ucapan selamat natal adalah bentuk ekspresi kasih sayang. Sama seperti agama Kristen, Hindu, Budha, atau Kong Hu Cu mengucapkan selamat idul fitri. Kenapa itu harus dikotak-kotakkan?

Tidak sampai disitu, saya masuk ke SMA dengan kepala sekolah beragama Hindu. Saya senang pribadi beliau. Ia baik, tegas, dan bijaksana. Sampai akhirnya harus diganti saat saya naik ke kelas tiga, semua orang bersedih dan membuat semacam acara perpisahan. Poin saya adalah, inidividu itu bukan dinillai dari agama dan sukunya. Sentimen untuk mengukur seberapa baik orang dari kepercayaan dan suku adalah hal yang masih saya bingungkan.

Masuk ke lingkungan universitas, saya melihat adanya lintas budaya. Teman saya kebanyakan mempunyai suku Muna, dan karena ini membuat saya lebih banyak tahu lagi selain hanya kasuami dan kabuto yang saya kenal dari tugas prakter saat SMA. Saya jadi belajar dialek dan Bahasa mereka. Sampai dikehidupan sehari-hari, saya mulai menggunakann kata pisa atau pis yang sering digunakan oleh sekelompok teman yang bersuku Muna. Kemudian saya tahu, arti pisa atau pis adalah sepupu yang merujuk pada kekeluargaan. Sama seperti kata bro dan kanda.

Terlepas dari suku mayoritas itu, saya juga bertemu dengan teman suku Papua. Salah satunya Deki. Saat insiden George Floyd yang terjadi di Amerika, saya adalah orang yang bersuara tentang hal ini. Melantangkan argumen bahwa kita harus mengayomi teman-teman minoritas dalam pelukan toleransi. Bahwa pada akhirnya, aksi nyata yang saya lakukan saat itu adalah membiarkan ia (masyarakat Papua) berada di lingkungan UHO untuk menempuh pendidikan.

Kemana saya selama ini, kemana pikiran itu membawa saya pada bias yang menghancurkan saya dari dalam. Kita sering terjebak pada makna sempit toleransi, termasuk saya. Hal-hal diatas dulu sepenuhnya saya anggap toleransi. Toleransi tai kucing atas nama kebaikan, atas dorongan untuk mengatakan,”lihat, saya tidak anti toleransi”. Padahal sejatinya, toleransi adalah keadaan saat kita berhak menolak, tapi dengan sengaja tidak kita lakukan dan memberi hak kita. Misalnya saat saya berpikir bahwa membiarkan Deki berada di lingkungan kampus untuk menempuh pendidikan. Itukan memang hak dia, sebagai warga negara untuk memiliki pendidikan. Atau contoh kasus pada lingkungan terdekat saya, di kompleks atau lorong tempat yang saya tinggali seringkali menyulap jalanan menjadi tempat acara nikahan. Hanya dengan beberapa tiang besi dan tenda biru jadilah tempat yang bisa digunakan untuk pesta. Sebagai tetangga, kita berhak melarang, karena misalnya, akan menganggu kenyamanan. Tapi kita sudah paham dan mengerti dan membiarkan itu terjadi. Lagipula, biasanya kita juga berada dalam daftar tamu undangan.

Contoh lain, saat salat eid di tempat saya. Sejak beberapa tahun terakhir, saya biasanya salah eid di lapangan benu-benua. Tepatnya di samping. Tepat di jalan raya depan gedung sekolah SMAN 9. Orang lain berhak melarang itu karena yang digunakan adalah jalanan poros, jalanan umum. Contoh lagi, saat Ibadah Minggu pagi di gereja Immanuel, tepat bersampingan dengan Mesjid Akbar. Biasanya, kebanyakan jemaat yang datang membawa mobil, jadi tempat parkir di halaman gereja penuh dan ada beberapa mobil yang parkir sampai di halaman Mesjid Akbar. Umat Muslim yang bertanggung jawab di Mesjid Akbar bisa saja menolak agar mobil jemaat tersebut dipindahkan, tapi itu tidak dilakukan. Itu baru toleransi.

Saya menyadari banyak hal yang dulunya saya anggap sebagai bentuk toleransi hanyalah kewajiban yang memang perlu saya lakukan. Selain kesalahpahaman tersebut, beberapa orang kerapkali menggunakan tameng toleransi sebagai alat pembungkaman untuk mengungkapkan pendapat. Ini bisa kita temukan dalam cerita Irshad Manji dalam Beriman Tanpa Rasa Takut. Bagaimana ia sampai pada satu keadaan untuk dicekoki bahwa jika kau beriman tidak harusnya berpikir, kalau kau berpikir maka kau tidak beriman.

Seperti pernyataan,”opinimu memang bagus dan masuk akal, tapi bisakah kau menyimpannya untuk dirimu sendiri agar dunia tidak kacau?”. Itu bukan toleransi, itu pembungkaman. Ada satu kutipan yang cukup mewakili hal ini dari Voltaire,”Saya tidak menyukai pendapatmu, tapi saya akan bela hakmu untuk berpendapat.”.

Pertanyaan selanjutnya, apakah batas toleransi?

Batas toleransi itu tidak ada, batasnya hanya lawan katanya itu sendiri. Makanya, saya juga masih belajar untuk lebih peka terhadap sekitar. Apakah saya memang sudah toleransi atau hanya membiarkan orang melakukan haknya. Saya juga tidak ingin menjadi orang yang membungkam suara dengan tameng toleransi. Seakan-akan, keimanan saya akan goyah hanya karena pandangan orang lain.

Melihat Toleransi dari Kacamata Alien
Ada satu film yang sangat saya suka dalam menggambarkan toleransi dan kebebasan berpendapat, film itu adalah PK arahan Rajkumar Hirani. Sederhananya film itu bercerita tentang seorang alien yang turun ke Bumi, remot kontrol atau alat untuk berkomunikasinya dicuri saat ia hendak bertegur sapa dengan manusia pertama yang ia jumpai. Perjalanannya kemudian dimulai untuk mencari remot kontrolnya. Dalam pencarian itu, ia bertemu banyak agama dan keyakinan yang mengatakan,”Hanya Tuhan yang tahu dimana remot kontrol itu,” atau “Mana saya tahu? Coba tanya Tuhan,”. Ia mengikuti segala anjuran tersebut, mulai dari masuk ke kuil, gereja, sampai ke Mesjid. Tapi ia banyak mendapatkan banyak pertanyaan dikepalanya. Ia menangis dan bertanya, siapakah Tuhan yang menyembunyikan remot kontrolnya? Ia bingung karena perbedaan agama dalam menerjemahkan Tuhan. Ada satu analogi yang benar-benar saya suka: “Agama itu perusahaan, Tuhan sebagai CEO, dan pemuka agama sebagai Manajer.”

Dalam satu dialog, alien yang akrab disapa Pemabuk atau PK, curhat kepada Tuhan,”Ada Manajer yang mengatakan harus lepas sandal di rumah ibadah, manajer lain mengatakan pakai sepatu pun tidak masalah. Ada manajer yang mengatakan untuk melipat tangan saat berdoa, ada manajer yang mengajarkan untuk berlutut. Aku bingung, Tuhan.”

Komedi satir arahan Rajkumar Hirani itu memang sangat kontroversial meski banyak digemari. Rajkumar Hirani tahu betul dalam membongkar masalah tersebut lewat tokoh alien polos yang mencari sosok Tuhan. Saya tidak bilang bahwa itu adalah rujukan utama untuk belajar toleransi, tapi itu bisa jadi pintu gerbangnya.


Tulisan ini adalah bagian dari tugas semester 5. Sudah lama berada didalam draft post, tapi saya rasa mem-publishnya sekarang adalah momentum yang tepat mengingat kejadian beberapa waktu silam. Semoga menjadi bijaksana dalam membaca.

Related Posts

14 comments

  1. Baca ini saya jadi sambil ikut refleksi, Rahul. Kebetulan banget, barusan saya habis lihat postingan di salah satu akun keorganisasian yang memposting ucapan peringatan Isa Al-Masih. Belum ada yang like, jadi saya like pertama. Terus sempat tersenyum dan agak merasa lega dalam hati, karena ini kali pertamanya saya lihat akun itu memposting sesuatu yang di luar dari agama mayoritas. Bahkan menaruh ayat khusus dari bible di caption-nya. Mengingat banyak juga anggota di dalamnya yang beragama lain. Lalu saya baca tulisan Rahul, dan tiba-tiba tersadarkan juga. Kalau dipikir-pikir, itu memang sudah sepatutnya kita lakukan mengingat bahwa kita tinggal di negara yang beragam, dan mengakui lima agama secara resmi. Kenapa pula saya merasa ini sebuah hal yang istimewa sementara cukup banyak privilege yang kita dapatkan selama ini sebagai mayoritas? Dan saya setuju sekaligus percaya, menjunjung toleransi nggak lantas mengubah keyakinan saya tentang agama saya yakini. Ternyata, mungkin memang lingkungan yang membentuk selama ini yang secara tidak langsung menggeser nilai-nilai toleransi sesungguhnya🙄

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seharusnya memang kita bisa lebih fleksibel dalam hal seperti ini. Beberapa orang memilih untuk tidak mengucapkan selamat natal, tapi saya memilih untuk mengucapkannya. Apapun yang kita terima, yang mengontrol hati dan pikiran kita adalah kita sendiri. Sederhananya seperti itu untuk saya

      Delete
  2. Mungkin karena Islam adalah agama mayoritas, kemudian masih banyak yang "sepenaknya" sendiri.

    Bahkan di lingkungan rumah pun, ada yang non muslim dan sayangnya Syifana rasa banyak yang melabeli dengan hal-hal yang rasanya tidak pantas diucapkan.

    Syifana sendiri juga sejak dulu selalu berusaha untuk memahami mereka yang berbeda dengan Syifana.

    Sebenarnya kalau untuk masalah agama, sejak SD juga sudah banyak teman non muslim. SMA jauh lebih banyak lagi.

    Bahkan bukan hanya perihal kepercayaan atau berbeda suku, Syifana juga punya beberapa teman yang jelas penganut LGBTQ. Ada juga yang agnostik, atheist sampai pindah kepercayaan. Dan itu tidak cuma satu dua. Apakah merasa risih? Aneh?

    Oh tentu saja, waktu pertama kali perasaan tidak enak itu muncul menghampiri. Dan menurut Syifana itu wajar, sebab kita baru menjumpai hal yang berbeda dan sedang mencernanya. Toleransi itu dipupuk, perlahan dan tumbuh.

    Usut punya usut, setelah berbincang dengan mereka yang punya perspektif beda dengan Syifana, akhirnya Syifana paham bahwa ada alasan mengapa mereka demikian. Kita semua lahir dari orang tua yang berbeda, tumbuh dan dibesarkan dengan pola asuh yang berbeda pula, bahkan pengalaman setiap individu juga berbeda. Maka sejatinya dari lahir tiap manusia itu sudah berbeda.

    Untuk ukuran benar dan salah, itu kembali lagi ke setiap individu. Tentunya benar dan salah suatu perbuatan bergantung siapa yang memandangnya.

    Hahaha 🤣

    ReplyDelete
    Replies
    1. Manusia memang cenderung lebih berani dan semena-mena jika berkelompok. Tidak heran juga, sih, Syifana.

      Terlepas dari kebenaran yang saya yakini, tidak masalah jika mesti hidup berdampingan. Toh, tidak menganggu keyakinan saya. Toleransi memang tumbuh dari kebiasaan

      Delete
  3. Saya biasa ada di lingkungan yg majemuk walaupun mayoritas yg dekat masih sepemahaman. Kadang memang harus selow saat ada kritisi tentang kepercayaan. Bahkan saya suka melihat perspektif seseorang, tanpa harus menanggalkan prinsip yg dipunya. Menambah wawasan saja...tapi menurut saya lho ya kita akan menjadi seseorang dimana kita lebih banyak berinteraksi. Dan itu akan melonggarkan beberapa batasan. Bgmn menjelaskannya itu panjang sendiri. ��

    Menurut mas Rahul sendiri toleransi seharusnya seperti apa?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dengan memperdalam pemikiran memang penting, tapi dengan menambah wawasan akan membuat kita jauh lebih bijaksana.

      Pandangan Coki soal toleransi itu menarik. Saya setuju dengannya. Bahwa toleransi adalah membiarkan hak kita untuk kepentingan orang lain

      Delete
    2. Setuju, namun sejauh mana kemajemukan itu perlu dirangkul? Apa dampaknya? Saya mengundang mas Rahul untuk membahas itu di tulisan saya di link reply. Sangat menarik tulisan mas Rahul membuat saya jadi bahas pertanyaan berikutnya..��

      Delete
    3. Ini jawaban yang cukup personal. Kalo untuk saya, ada batas antara kenyamanan dan keamanan. Selagi masih punya salah satu itu, yah tetap 'dirangkul'. Dampaknya juga sangat personal sekali. Mungkin akan saya bahas pada tulisan berbeda. Kebetulan, tempat KKN saya punya lokasi yang cukup strategis untuk riset hal ini

      Delete
  4. Menurutku lingkungan jelas sangat berpengaruh kayaknya yaa dalam membentuk toleransi seseorang. Seperti cerita Rahul waktu kecil dan belum kenal dengan orang-orang yang berbeda, pasti ada sedikit rasa aneh atau risih.

    Makanya bener yaa ada ungkapan tak kenal maka tak sayang.. Gimana mau belajar toleransi kalau untuk mengenal sedikit aja udah ga mau 😅

    Dan penting juga buat seseorang punya pemikiran yang terbuka, mencari tau apa yang sebelumnya dia ga tau juga bisa membantu membentuk toleransi sih, jadi ga cuma menerima apa yang dikasih sama lingkungannya sejak kecil.

    Film PK ini memang film yang bagus. Aku selama ini merasa udah cukup toleransi, tapi pas nonton PK tetap merasa tersentil ahaha. Kayak yang Rahul bilang, apakah kita memang sudah bertoleransi atau cuma membiarkan orang lain mendapat haknya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, itu maksud saya kak Eya. Mempertajam pemikiran memang keren, tapi memperluas wawasan adalah jalan menuju kebijaksanaan.

      Film PK memang salah satu film favorit saya. Menjadi pintu masuk untuk memahami perbedaan

      Delete
  5. Tulisan yang menarik Mas Rahul. Aku juga sampe SD sekolah ga jauh dari rumah, dan taunya orang2 yg homogen juga. Tp orangtua aku sengaja masukin SMP yg agak jauh, SMA bahkan di luar kota, agar aku bisa melihat lebih banyak lagi. Karena dg melihat dan bertemu banyak orang, kita juga akan belajar buat lebih berempati dan bertoleransi.
    Btw, aku baru tau filmnya. Kayanya seru yaa.. Walaupun bbrapa komedinya agak satir, dan mungkin buat bbrapa orang jd terdengar tidak sesuai ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah. Mudah-mudahan seperti film itu, tulisan ini bisa jadi jembatan untuk menemukan kebaikan-kebaikan di luar sana

      Delete
  6. Aku seneng baca tulisan ini mas Rahul. Arti toleransi yg sesungguhnya.

    Aku besar di lingkungan keluarga yg majemuk. Ada yg menganut Kristen, ada yg muslim. Temen2ku juga gitu. Aku terbiasa sekolah di lingkungan beragam. Cuma pas SMU kls 3 aja aku dimasukin ke sekolah Islam Al Azhar. Tp selebihnya aku selalu di sekolah ato kampus yg muridnya berasal dr berbagai etnis dan agama. Jadi buatku, menghormati keyakinan mereka, menghargai saat mereka beribadah, udh biasa buatku.

    Makanya pas muncul larangan mengucapkan selamat HR besar yg berbeda dari agamaku, aku kok ga ngerasa kalo itu intinya. tau sendiri, banyak banget ayat yg diplintir, dipotong, diterjemahkan, sehingga artinya berbeda. Dan aku ga mau terjebak di situ.

    Pake logika aja. Emangny mengucapkan ucapan begitu, masuk ke tempat ibadah agam lain, bakal bikin imanku goyah gitu??? Ato saat puasa, trus melihat temen yg berbeda agama makan, bakal bikin aku tergoda?? Imanku ga selemah itu :D.

    Jd buatku, mengucapkan, ato membiarkan temen2 yg tidak berpuasa utk tetep makan ato membuka usaha warung makannya, bukan masalah. Imanku ga akan goyah hanya dengan hal remeh begitu :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, itu dia poinnya kak Fanny. Mereka terlalu khawatir dengan keimanan hanya karena ucapan kasih sayang manusianya

      Delete
Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.