zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

Menulis Biografi Public Figure dan Buku yang Mengubah Hidup (Bersama Jane Reggievia)

Selamat datang April, selamat datang di Perspektif Majemuk episod 7, serial yang ngomongin berbagai topik dengan berbagai macam perspektif. Kali ini, kita kedatangan perempuan pecinta kopi, kak Jane Reggievia dari www.janereggievia.com. Diblognya sendiri, kak Jane banyak membahas buku, film, sampai kuliner. 

Menulis Biografi Public Figure dan Buku yang Mengubah Hidup (Bersama Jane Reggievia)
Episod kemarin, kak Eya dan kak Lia berhasil menjawab benar. Namun, setelah saya random pick name, yang keluar sebagai pemenang adalah kak Lia. Selamat!!! Untuk mengefisienkan waktu, langsung saja, mari sambut kak Jane Reggievia. Seperti biasa, jawaban saya adalah kolom biru dan jawaban kak Jane adalah kolom merah.

Sebutkan 1-2 judul buku yang ingin kamu wariskan pada anakmu kelak. 

Pertanyaan ini agak mirip dengan kak Tika. Jawaban saya tetap sama; Sabtu Bersama Bapak karya Adhitya Mulya. Sejauh ini, saya tidak nemu buku lain yang mau saya wariskan ke anak nanti. Sekalipun nanti anak saya suka baca, saya akan membiarkannya membaca apa saja. Kalaupun nanti dia ngga doyan baca, yah saya maunya ngga maksa juga. Mudah-mudahan tetap begitu. 

Sejauh ini baru ada satu judul buku, yaitu Wonder by R.J. Palacio. Wonder adalah sebuah novel yang menceritakan seorang anak bernama Auggie yang memiliki kondisi fisik wajah ‘berbeda’ dengan anak-anak lain pada umumnya. Isi novel ini menceritakan dari sudut pandang Auggie bagaimana ia menjalani kehidupan sehari-harinya di sekolah maupun di rumah. Seringkali ia merasa berbeda saat teman-temannya penasaran tentang wajahnya, namun dengan kasih sayang penuh dari keluarganya, pada akhirnya kepercayaan diri Auggie terus bertambah meski memiliki perbedaan tersebut.

Aku ingin banget anak-anakku kelak bisa baca buku ini, dengan harapan mereka bisa menghargai yang namanya perbedaan itu nggak berarti “aneh”. Mungkin mereka pun bisa dipandang “berbeda” oleh orang lain walau bukan secara fisik. Bisa aja mereka dipandang “berbeda” karena nilai-nilai hidup yang mereka pegang, hobi yang mereka kerjakan dan sebagainya, dan itu nggak apa-apa.

Sebuah buku yang berhasil mengubah hidup kamu (baik itu secara values, memotivasi terhadap sesuatu, dll) dan sejak saat itu kamu merekomendasikan buku tersebut pada setiap orang yang kamu kenal. 

Meski bukan alasan utama, The 100-Year-Old Man Who Climbed Out the Window and Disappeared adalah buku yang bikin saya senyam-senyum ketika Allan, yang berulang tahun ke-100 memilih pergi daripada menghadiri pesta yang diakan bersama Walikota. Sebagai orang yang sudah ngga senang merayakan ulangtahun, saya kepengen pas hari ulangtahun pergi ke satu tempat yang menyenangkan seorang diri. Bukan agar dicari, tapi lebih kepada sebagai bentuk raya syukur dan cara saya menikmati masa transisi antara kehidupan dan kematian.

Sebetulnya aku pernah jawab pertanyaan ini di blog sendiri, di mana aku baru sadar kalau jarang sekali merekomendasikan buku pada seseorang, kalau nggak ditanya langsung.

Pada dasarnya buku bagus itu, kan, relatif yaa. Manfaat yang dirasakan juga pasti berbeda tergantung kebutuhan orang tersebut. Tapi kalau memang harus menjawab, aku akan merekomendasikan judul “Tak Mungkin Membuat Semua Orang Senang” karya Jeong Moon Jeong yang mendapat predikat best self-improvement book versi Reading Wrapped 2020 Jane From The Blog. Tanpa sadar kita cenderung ingin menyenangkan semua orang, walau kenyataannya tentu mustahil untuk dilakukan. Buku ini layak dibaca oleh siapapun sebagai pengingat bahwa kita memang nggak bisa menyenangkan semua pihak. Hidup akan jauh lebih sederhana kalau kita bisa mengurangi “noise” di sekitar dan fokus pada prioritas pribadi (:

Jika diberi kesempatan untuk menulis buku biografi SIAPAPUN (public figure, sahabat, keluarga), ingin menulis tentang siapa? (nggak perlu sebut nama jika tidak nyaman :D)

Belum kepikiran akan nulis buku biografi, tapi sepertinya menarik. Kalo dikasih kesempatan, saya pengen bikin biografi salah satu Paman saya yang sudah almarhum. Masa tuanya menurut saya sangat menarik. 

Sejujurnya aku menyelipkan pertanyaan ini khusus untuk Mas Rahul aja, karena yakin doi pasti punya jawaban yang menarik. Mana sangka ternyata aku harus ikut menjawab daftar pertanyaanku sendiri. Kejadian JanexLia Answered episode pertama terulang kembali deh *kualat episode kedua* XD

Jujur, aku nggak tahu ingin menulis tentang siapa HAHAHA. Tapi kalau dipaksa jawab, mungkin aku ingin menulis tentang Tiffany Young aka my biggest female role model ever. Kalau riset tulisan ini mengharuskan aku mengikuti keseharian Tiffany; mulai dari dia bangun, menjalankan rutinitasnya, pergi ikut rekaman, syuting dan sebagainya, I won’t mind at all, sih. Kapan lagi bisa ngintilin idola huahahaha. Dan sejujurnya, aku ingin tahu juga kebiasaan-kebiasaan yang dia lakukan hingga bisa mencapai kesuksesan seperti hari ini. Punya kesempatan emas untuk fangirling, belajar sekaligus menulis tentang role model itu kayaknya sama seperti tiba-tiba kejatuhan emas dari langit XD

Penulis buku yang ingin sekali ditemui secara langsung (baik yang masih hidup maupun sudah meninggal)

Pertama kali baca Tenggelamnya Kapal Van der Wijck membuat saya terkagum-kagum dengan indahnya buku itu. Bagaimana Buya Hamka menggambarkan kisah cinta yang tragis yang kemudian dimirip-miripkan dengan film Titanic. Tapi dari rentang waktu, buku Tenggelamnya Kapal Van der Wijck jauh lebih lama ketimbang film Titanic. 

Saya sangat ingin bertemu dengan Buya Hamka. Saat dengar kabar film biografinya mau dibuat, saya senang dan menanti update info produksinya.

Waduuu, siapa ya?

Kalau boleh sombong dulu *ehem*, sebetulnya aku pernah berjumpa langsung dengan penulis idolaku, she is Alanda Kariza. Nggak hanya sekali, namun aku pernah berjumpa dua kali dengan sosok Alanda ini. Pertama kali saat menghadiri sebuah workshop menulis, kedua kali di acara serupa yang diadakan di Bali. Kesempatan kedua itu yang membuatku lebih banyak ngobrol bareng Alanda (bahkan foto bareng!).

Satu karakter buku yang mempunyai hubungan hate&love relationship dengan kamu? 

Dengar pertanyaan ini, saya langsung kepikiran Profesor Snape pada buku Harry Potter dan Batu Bertuah. Dari yang awalnya kesal karena terlalu membenci Harry Potter tanpa alasan yang jelas, sampai akhirnya mulai ngerti dengan jalan pikirannya. Pas bagian final fightingnya, saya menitikkan air mata pas tau latar belakang Snape yang sebenarnya.  

Kayaknya hampir semua tokoh utama perempuan di novelnya Ika Natassa deh. Salah satu sisi kagum dengan esensi girl power yang mereka miliki, tapi salah satu sisi dalam hal percintaan kok kayaknya mereka terlalu menye-menye. Cuma mungkin itu lah manusia termasuk perempuan yaa. Sometimes we can’t have it all. Mungkin kita bisa “gahar” dalam pekerjaan, namun lemah dalam soal percintaan *halah*.

Apakah kamu punya kebiasaan menulis book report setelah membaca sebuah buku? (semacam review namun untuk ditulis bagi diri sendiri, seperti what do you think about the book, how you feel, what you learn dll)

Saya jarang melakukan hal itu, tapi jika menemukan bacaan atau tontonan menarik, saya bisa mencari hal-hal yang berkaitan dengan bacaan atau tontonan tersebut. Mulai dari ulasan sampai teori.

Sebelumnya saya menerapkan kebiasaan ini khusus untuk buku non fiksi. Namun pelaksanaannya ya semau-mau gue aja alias kalau rajin πŸ˜‚ Tapi untuk tahun ini saya sedang berusaha membangun kebiasaan baru menulis book report, baik untuk buku non fiksi maupun fiksi. Alasannya, supaya apa yang saya dapatkan dari buku tersebut nggak "hilang' begitu aja. Book report ini juga memudahkan saya saat menulis ulasan buku di blog.

Kalau kamu adalah seorang guru bahasa Indonesia/Inggris di sebuah SMA, buku apa yang ingin kamu tugaskan bagi murid-murid untuk membacanya? 

Pertama, saya tidak ada pikiran menjadi seorang guru dan kedua, saya tidak pernah memikirkan hal tersebut. Tapi saya sangat tidak senang dengan kegiatan literasi membaca di sekolah saya dulu, yang mewajibkan membaca bacaan yang bermanfaat. Bacaan seperti komik, adalah larangan keras. Jika saya menjadi guru dan mengadakan literasi membaca, saya akan membebaskan semua anak murid saya untuk membawa buku apa saja untuk dibaca. 

Terdengar sok liberal, tapi satu hal yang saya percaya bahwa jika ingin menumbuhkan minat baca adalah dengan menemukan ketertarikan kita pada bacaan. Jika pertama kali membaca kita sudah tidak menemukan ketertarikan, bagaimana mau menumbuhkan minat baca.

Biasanya guru bahasa pasti akan memilih judul-judul klasik sebagai tugas membaca bagi murid-muridnya. Tapi kalau saya sepertinya akan menugaskan mereka membaca karya fiksinya Ruwi Meita, yaitu Rumah Lebah. Sepertinya bakal seru deh kalau membahas ini dengan kacamata para remaja di sekolah. Tapi genre ini cocok nggak ya buat anak SMA? Nanti kalau mereka nggak bisa tidur atau mimpi buruk, saya yang dituntut 🀣


Seperti biasa, penutup Perspektif Majemuk adalah rekomendasi buku dari kolaborator. Inilah 10 judul buku rekomendasi kak Jane.

Menulis Biografi Public Figure dan Buku yang Mengubah Hidup (Bersama Jane Reggievia)

Lima judul buku favorit sepanjang masa atau dalam setahun belakangan ini, Mas? Kalau ultimate favorit ini list-nya πŸ˜‚

1. Lukisan Hujan (Sitta Karina) 
2. Safe Haven (Nicholas Sparks) 
3. Chicken Soup for the Souls: Stay at Home Moms 
4. For One More Day (Mitch Albom) 
5. Young Travel (Alanda Kariza)

Kalau dalam 1-2 tahun belakangan ini, list-nya beda lagi πŸ˜‚

1. Tak Mungkin Membuat Semua Orang Senang (Jeong Moon Jeong)
2. Men without Women (Haruki Murakami) 
3. Simple Guide to Minimalist Life (Leo Babauta) 
4. Into the Magic Shop (James R. Doty) 

5. Filosofi Teras (Henry Manampiring) 

Itulah Perspektif Majemuk bersama kak Jane Reggievia. Untuk kolaborator berikutnya, seperti clue episod kemarin, kali ini saya masih akan berbasis gambar.

Menulis Biografi Public Figure dan Buku yang Mengubah Hidup (Bersama Jane Reggievia)
Newest Older

Related Posts

9 comments

  1. Huaaa thank you so much, Rahul! Nggak nyangka bisa menang giveaway πŸ₯Ί. Semoga blog Rahul sukses selalu dan KKN Rahul dilancarkan ya πŸ™πŸ»

    Aku jadi kangen deh lihat konten buku dari Ci Jane πŸ˜‚ berharap Ci Jane bisa segera comeback hahahaha.

    Buku Wonder ini udah direkomendasiin sama temanku sejak lama, tapi aku belum tertarik banget untuk baca sampai akhirnya baca tulisan ini, aku malah jadi pengin baca sekarang karena Ci Jane bilang ingin direkomendasikan untuk anaknya kelak hahaha latah banget aku nih πŸ˜…

    Terus, aku juga nggak punya book report. Kayaknya bagus kalau bisa punya book report, patut dipertimbangkan nih 🀭

    Terakhir, Men Without Women udah ada di rak bukuku karena racun dari Ci Jane. Semakin nggak sabar untuk bisa segera baca cuma sekarang lagi jeda dulu baca Murakami karena yang kemarin cukup menguras energi hahaha.

    Clue kolaborator selanjutnya, apakah Mas Yoga Akbar? 🀭

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tunggu aku kembali yaa 😝

      Btw, Wonder oke kok, Lii. Cuma mungkin karena aku bacanya dari perspektif seorang ibu juga, bacanya jadi termewek-mewek 🀧

      Wiih selamat membaca Men without Women! Ditunggu review dari kamu, Lii 😁

      Delete
    2. Aku juga nunggu nih kak hihihi

      Delete
  2. Yuhuuu finally naik tayang juga ya, Mas Rahul! 😁 Sekali lagi terima kasih untuk kesempatan berbagi dalam Perspektif Majemuk. Senang bangettt bisa saling mengenal kawan lainnya melalui apa yang mereka baca (:

    Ngomongin soal Prof Snape, itu yang saya rasakan juga di akhir-akhir sekuel. Saya pun sejak awal nggak paham niat doi baik atau buruk. Setelah baca sekian banyak teori dari Potterhead lainnya, ternyata menjadi seorang Snape nggak mudah, masa kecilnya aja udah sulit, ehhh masa akhir hidupnya pun berat banget 😒

    Dan soal tugas membaca di sekolah, iya jugaaa. Kenapa nggak membebaskan murid-murid untuk membawa judul pilihan mereka ya πŸ˜‚ good idea tuh, Mas Rahul. Kita memang nggak pernah bisa memaksakan orang untuk senang membaca, tapi bisa lah mulai dari apa yang disuka dulu hihi

    Untuk clue tamu berikutnya, awalnya saya kepikiran Mba Intan yang menyukai yoga. Tapi ngintip jawaban Lia di atas ada benarnya juga ya 😜

    ReplyDelete
  3. Pertanyaannya kak Jane seru-seru banget!!

    Oiya Rahul, aku sempat baca buku who man climbed itu tapi belom selesai udah keburu abis masa berlakunya karena pinjam di ipusnas, kayaknya nanti bakal dilanjutin lagi..

    Wonder!! Bahkan filmnya berhasil bikin aku nangis kak Jane! Kurasa kalau ini juga akan menjadi buku yang aku pilih untuk diwariskan ke anak nanti😁

    Loh ternyata men without woman masuk ke list favorit bukunya kak Jane πŸ˜†, kalo gitu aku mau kasih rekomendasi kumcer Haruki untuk Rahul dan Kak jane hahaha. Kota kucing dan kisah-kisah lainnya, buku ini boleh di tengok.

    ReplyDelete
  4. Huhuhu kangan Ci Jane, baca ini jadi sedikit terobati sekaligus merasa bersalah karena buku Travel Young sama Tidak Mungkin Membuay Semua Orang Senang baru aku baca sedikit dan belum selesai :))) *digetok Ci Jane*

    Btw itu ide nulis seleb K-Pop bagus ugha hahahahaha, dapat kesempatan ngikutin di seleb ngapain aja sehari-hari. Yoxy Ci Jane has galaxy brainπŸ‘πŸ‘πŸ‘

    Aku pernah mas Rahul pingin beli yang buku The-100-Years-Old Man part 1 dan 2 cuman maju mundur terus sampai sekarang😁 terus untuk buku yang ditugaskan ke murid seandainya hadi guru, aku setuju dengan mas Rahul, komik pun sebenarnya nggak apa-apa. Menurut aku, komik itu juga buku. Beberapa orang jadi keder sama hobi baca mungkin karena pembatasan genre ini juga ya, yang baca komik dipandang sebelah mata. Padahal ya bisa jadi membaca komik ini jadi pintu pembuka menuju genre bacaan lain. Yang penting seneng aja dulu baca, genre akan mengikuti.

    Tentang book report, aku selalu nulis tiap selesai baca wkwk. Biar nggak ngerasa rugi habis baca sebuah buku, biar kalau lupa bisa lihat catatan lagi. Membuat report ini juga bermanfaat mengurangi beban otak dalam menyimpan memori, imo.

    Untuk kolaborator selanjutnya aku nebaknya mba Intan Rastini, karena sering tuh tulisan tentang yoganya lewat di reading list-ku. :p

    ReplyDelete
  5. Aku sempet nebak Mba Jane juga di postingan sebelumnyaa pas liat orang lagi ngopo.. Tp jawabnya dalam hati, dan waktu itu lg ga sempet negtik jawabannya. hahahahha.... Ternyata tebakan aku bener. :D

    Hate love sama Snape akan terus Mas Rahul rasakan sampe buku ke 7. Ada part yg bikin keseeel bgd sama dia, ada juga yg bikin malah makin suka. Yang pasti di buku ke 7 semua akan terjawab. Jadi semangat buat beresin baca series ini ya Mas Rahul. Hehehe.. ^^
    Btw, kita sama2 suka buku2 Buya Hamka yaa ternyataa. Tenggelamnya Kapal Van der Wick itu mnrt aku jaaauuuu lbh baik dari Titanic. Dan aku baru tau loh ternyata ada dibuat film biografinya juga. Aku emang kudet nih tentang perfiman..

    ReplyDelete
  6. Enggak pernah kepikiran jadi guru (apalagi jenjang SMA), bahkan membuat kelas menulis pun belum terbesit di pikiran, tapi saya bakal merekomendasikan buku The Catcher in the Rye karya J. D. Salinger kepada anak sekolah karena itu temanya coming of age. Haha. Tadinya pengin Dunia Kafka, tapi unsur mesumnya jadi bahan pertimbangan.

    Beberapa penulis yang pengin saya temui sudah pada meninggal. Salah satunya Bolano. Hm.

    Itu gambarnya orang meditasi, apakah kolaborator selanjutnya pemilik blog Sublimasi Meditasi, Hul?

    ReplyDelete
  7. Ahahahaa bener Jane ternyataaa πŸ˜†πŸ˜†

    Aku sepemikiran sama Jane, kalau mau warisin buku ke anak, kayaknya Wonder bakal jadi buku pertama deh. Ceritanya sendiri yang isinya banyak ngasih tau soal memilih untuk berbuat baik yang bikin aku berpikir seperti itu πŸ˜†

    Soal Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck yang dimirip-miripin sama Titanic ini sempat bikin kesel, ini kayaknya komentarnya muncul sejak ada film adaptasinya yaa? Mengingat film adaptasinya baru muncul beberapa tahun ke belakang ini, jadi orang yang memang enggak paham buku (atau sastra klasik Indonesia) mungkin enggak tahu asal muasal cerita dari film ini hhhh...

    Love hate relationship dengan karakter ngingetin ke yang lagi aku rasain juga selama inii ke Eren Yeager hahaha.. Pertanyaan-pertanyaannya Jane menarik dan bikin mikir semua ini hahaha kepikiran soal nulis biografi dan buku yang bakal ditugaskan ke murid kalau jadi guru bahasa πŸ˜†

    Kolaborator berikutnya aku kepikirannya 2 orang nih antara Mba Intan Rastini atau Mas Akbar Yoga? Wkwkwkwk

    ReplyDelete
Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.