zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

Klasifikasi Buku Sastra dan Buku yang Dianggap Sampah Tapi Best Seller (Bersama Yoga Akbar)

Selamat datang kembali disegmen Perspektif Majemuk dipenghujung bulan April ini. Belakangan, saya lagi jarang update karena kesibukan KKN dan lain-lain. Mengingat segmen ini banyak ditunggu, saya bela-belain ngedit disela-sela waktu kosong. Lagipula, saya tak perlu mikir terlalu banyak. Tinggal ngedit dan jawab pertanyaan dari narsum, yang dimana kali ini kita kedatangan Yoga Akbar Sholihin dari blog Sublimasi Meditasi.

Senang sekali bisa berkolaborasi dengan bang Yoga, mengingat saya adalah penikmat tulisan-tulisan beliau. Di blognya, bang Yoga sedang giat menerjemahkan tulisan dan tetap menulis cerita-cerita fiksi yang sampai saat ini masih jadi perdebatan apakah itu adalah kisah nyata atau hanya fiksi.

Dari tiga nama yang berhasil menebak kolaborator episod sebelumnya, kak Eya berhasil keluar sebagai pemenang yang beruntung. Selamat!!!
Klasifikasi Buku Sastra dan Buku yang Dianggap Sampah Tapi Best Seller (Bersama Akbar Yoga)

Seperti biasa, kolom biru adalah jawaban saya dan kolom merah adalah jawaban bang Yoga. Sila dinikmati dengan posisi yang paling nyaman menurutmu, episod kali ini sepertinya akan lebih panjang dari biasanya.

Berhubung kamu kuliah Jurusan Sastra (ini benar kan ya?), bagaimana pandanganmu tentang klasifikasi atas buku yang dianggap sastra banget, sastra, dan sebagian lainnya malah enggak dianggap, seperti buku-buku yang populer itu?

Seorang dosen pernah berkata bahwa karya sastra yang baik adalah yang bisa memberikan pesan yang baik juga. Hal itu kemudian dianalogikan dengan lagu-lagu Indonesia dengan lirik yang yah, hanya bertahan beberapa waktu saja. Lihatlah lagu Alamat Palsu yang dipopulerkan Ayu Tingting, katanya, sembari menyanyikan penggalan lirik lagu tersebut. Sekarang sudah tidak lagi terdengar, sambungnya.

Saya juga pernah melihat ada satu diskusi tentang perdebatan novel erotis apakah tergolong sastra atau hanya cerita esek-esek saja. Saya sendiri penikmat cerita erotis sejak kecil, membaca buku yang orang kategorikan teenlit, sekalipun membaca buku terjemahan sastra klasik yang cukup dielu-elukan. Apalah arti memperdebatkan karya sastra, toh A. Teeuw dalam bukunya, juga dengan tegas mengungkapkan pada bab pertama bahwa sangat sulit mengetahui batas tersebut.

Kalau bagi saya, persetanlah dengan sastra. Semua itu tidak lebih baik sejauh saya mengenal istilahnya. Hal terpenting bagi saya, adalah membaca hal yang saya inginkan. Ketika orang memperdebatkan bacaan saya sastra atau bukan, saya memilih menikmatinya saja.

Memandang atau menilai sesuatu hal sepertinya merupakan kejadian yang alami atau bisa dibilang sudah menjadi bawaan manusia. Masalahnya, dalam penilaian maupun klasifikasi atas buku—bisa juga produk seni lainnya, menurut saya jelas ada kepentingan politik di dalamnya. Siapa coba yang berhak menentukan buku ini sastra, sedangkan buku itu bukan sastra? Biasanya hal itu dilakukan oleh para petinggi sastra atau sastrawan. Mereka seolah-olah diberikan kuasa buat membentuk selera pasar. Anggaplah dengan cara diadakannya sayembara menulis novel tingkat nasional, lalu begitu diumumkan pemenangnya dan buku itu diterbitkan, para pembaca buku lazimnya akan penasaran dan mencoba membeli buku para pemenang tersebut. Namun, setelah dibaca kita bisa saja kecewa atau merasa enggak cocok atau ragu dengan selera jurinya. Kenapa buku itu bisa memenangkan sayembara? Apakah sastra kelas tinggi di mata juri adalah cerita yang seperti itu? Pada satu sisi, kita bisa tetap percaya dengan preferensi pribadi karena membaca adalah kegiatan personal—sebelum mendiskusikannya bersama teman atau siapa pun, sehingga kalau memang enggak suka sama buku itu walaupun telah jadi pemenang sayembara, ya sah-sah aja. Sementara di sisi lainnya, bisa saja kita jadi merasa kerdil. Misalnya, apakah kemampuan otak saya terlalu payah buat mencerna buku sastra macam begini? Secara enggak langsung kita juga bisa menganggap buku bagus tuh yang model begitu. Jadi, selera dan penilaiannya tentang buku bagus, buku sastra, atau jenis klasifikasi lainnya jadi terbentuk oleh hal-hal semacam itu.

Arthur Schopenhauer, filsuf dari Jerman, pernah bikin esai tentang membaca buku dan pada salah satu kalimatnya dia kira-kira bilang begini: 'Kau harus ingat bahwa dia yang menulis untuk orang bodoh selalu menemukan masyarakat yang lebih luas'. Nah, saya sendiri agak bingung siapa orang bodoh yang dimaksud, dan apakah itu semacam buku-buku picisan yang banyak digandrungi? Bisa dibilang beberapa penulis yang tulisannya menurut kamu bagus kok bukunya justru kurang laku, sementara yang kamu anggap sampah bisa banyak penggemar dan best seller.

Apakah kamu setuju dengan pernyataan dia yang seperti itu? Atau kamu mau mendebatnya? Memberikan pendapat lain?

Sebenarnya, saya tidak kompeten untuk jawab pertanyaan ini. Tapi kalo untuk saya, bacaan romansa, horor, ataupun cerita esek-esek yang rame di Wattpad memiliki banyak pembaca karena adanya piramida bacaan. Saya tidak ingin menyebut itu hierarki, tapi bacaan ringan secara logika punya banyak pembaca karena tidak perlu berpikir untuk menikmati bacaan tersebut.

Malah, saya tertarik oleh hal yang dikategorikan sampah. Kalo kata Hemingway, draf pertama sudah pastilah sampah. Kalau yang dimaksud adalah draf tulisan pertama, saya bisa saja setuju sekalipun pada belasan draf sebuah tulisan tidak ada jaminan untuk menjadi bagus. Kalau yang dimaksud sampah adalah bacaan yang dianggap ringan, hal itu terlalu personal dan subjektif. Bacaan yang saya anggap ringan (dalam artian mudah mencernanya), bagi orang lain mungkin adalah bacaan yang cukup menyulitkan. Saya sebenarnya malas mengatakan hal ini, membuat saya seolah-olah merendahkan bacaan orang lain. 

Dari perspektif penulis, saya sudah kelar dengan hal itu. Terlalu pusing dengan hal itu malah membuat saya tidak menghasilkan apa-apa. Lebih mending saya membuka Microsoft Word, dan kembali menulis. Lagipula, saya beberapa kali dicecar dengan ragam hal pertanyaan klasik seperti bahasa yang tidak baku, tidak sesuai PUEBI dan KBBI, atau SPOK yang berantakan.

Saya bukan ingin bersembunyi dari tameng kebebasan itu. Tapi saya memegang prinsip sederhana, jika tulisan saya masih bisa dimengerti oleh diri saya sebagai pembaca, mudah-mudahan bisa dimengerti oleh orang lain sebagai pembaca. Orang yang mempermasalahkan itu mungkin adalah kritikus, karena itulah kerja-kerjanya. 

Saya bahkan sangat setuju karena banyak sekali remaja yang membela habis-habisan karya idolanya ketika ada yang mengkritik buku tersebut. Contoh paling gampang yang saya temukan dalam setahun terakhir: buku puisi PoemPM yang sempat viral di Twitter. Sekalipun banyak yang bilang bahwa puisi adalah ungkapan personal penulisnya, tapi ketika karya itu dilepas ke publik jelas menjadi milik siapa pun. Para pembaca tentu boleh mengomentarinya sesuka hati. Abaikan soal etika dalam mengkritik yang diprotes netizen supaya berkomentar dengan santun, sebab setahu saya di Goodreads pun para peraih nobel sastra bukunya juga masih kena caci-maki. Saya kira pasti ada orang yang bertanya, itu aktris ngapain sih bikin buku puisi? Apakah penghasilannya dalam dunia seni peran masih kurang? Apa sungguh-sungguh ingin berkarya di bidang lain? Saya sendiri dengan sok tahunya menyimpulkan begini: Mumpung si aktris punya banyak penggemar, ya penerbit buku pastilah memanfaatkan celah itu ketika tahu ada tulisan yang bisa dikomersialkan.

Berarti apa yang disampaikan Schopenhauer tentang menemukan masyarakat yang lebih luas itu sangat valid. Di Twitter, saya pernah menemukan istilah “dedek-dedek bloon”, dan saya kira itu kata yang cocok buat menggambarkan perkataan filsuf asal Jerman mengenai orang bodoh yang dimaksud. Setahu saya, mayoritas remaja wawasannya kan masih kurang dalam menilai sesuatu, masih labil, dan otaknya belum benar-benar berkembang. Jadi, buku-buku picisan atau teenlit yang targetnya adalah para remaja itu kemungkinan besar bakal menemukan pembaca yang lebih luas. Apalagi kalau di sampul bukunya ada embel-embel “sudah dibaca satu juta kali”. Buat apa coba menjelaskan sudah dibaca jutaan orang? Jika kita tunggu sekitar 5-10 tahun lagi, mereka mungkin akan cukup menyesal dengan tindakan bodohnya itu, karena bisa-bisanya pernah membela sang idola sampai sebegitunya. Kenapa dulu pernah memfavoritkan buku yang menurutnya karya luar biasa, padahal sebenarnya ampas? Contoh paling gampang tentu diri sendiri. Walaupun enggak sampai fanatik dan membela idola seakan-akan dia bebas dari dosa, tapi masa remaja saya rasanya memang sangat goblok dalam menakar suatu buku. Saya yakin jika diberi kesempatan membaca ulang buku 5 cm—yang pada masa remaja begitu saya sukai, pastilah sekarang saya ejek begini: Alah, buku motivasi tai anjing.

Siapa penulis perempuan favoritmu? Kamu jawabnya dua ya, satu dari Indonesia, satu lagi dari luar negeri. Lalu berikan alasan kenapa kamu menyukainya.

Kalau di Indonesia, saya membaca agak banyak penulis buku perempuan. Saya sangat menyukai Laut Bercerita karya Leila Chudori, tapi saya tidak bisa menafikan kalau pertama kali membaca kumcer Djenar Maesa Ayu membuat saya kagum dan jatuh cinta. Tulisannya yang keren dan gaya berceritanya yang eksperimental membuat saya beberapa kali berhenti hanya untuk bergumam 'anjing'.

Nah, kalau yang dari luar saya agak bingung karena saya hanya membaca beberapa buku perempuan, seingat saya. Saya mau mengatakan JK. Rowling karena akhir-akhir ini sedang membaca seri buku Harry Potter, tapi saya merekomendasikan Irshad Manji. Bukunya Beriman Tanpa Rasa Takut adalah salah satu kumpulan pemikiran yang keren tentang Islam. Bacalah.

Penulis Indonesia: Intan Paramaditha.

Saya bukanlah penyuka horor, tapi tulisan-tulisan Intan yang bernuansa horor itu mampu menyihir saya menjadi penggemar khususnya. Saya berkenalan dengan tulisan Intan pada buku kumcer Kumpulan Budak Setan. Saat itu saya sebenarnya cuma ingin membaca cerpennya Eka Kurniawan, yang setelah ditamatkan justru lebih terpikat oleh tulisan Intan. Jika boleh membandingkan ketiganya (penulis satunya lagi: Ugoran Prasad), cerpen-cerpen Intan di buku itu bakal saya nobatkan sebagai juaranya. Horor yang Intan tawarkan dalam buku itu dicampur aduk dengan dongeng masa kecil, filsafat, dan tentunya feminisme. Sejak itulah saya merasa ketagihan dan ingin mencoba karya Intan lainnya, yakni Sihir Perempuan (kumcer) dan Gentayangan: Pilih Sendiri Petualangan Sepatu Merahmu (novel). Ternyata kualitas tulisan Intan di buku tersebut sama mantapnya. Enggak mengecewakan saya.

Bagi saya, horor itu kan mengganggu dan mengusik, makanya saya malas menikmati horor. Saya enggak suka ditakut-takuti saat menonton maupun membaca horor karena sempat mengidap gangguan kecemasan. Saking cemas dan takutnya, kisah seram dan mencekamnya itu bisa-bisa akan terbawa sampai ke mimpi, sehingga bikin tidur saya enggak nyenyak dan mimpi buruk. Namun, sewaktu saya melahap tulisan-tulisan Intan, entah kenapa rasanya itu menjadi gangguan yang asyik. Perlahan-lahan saya juga bisa mengontrol rasa cemas dan takut itu ketika menikmati horor. Ini seolah-olah berkat membaca tulisan Intan saya malah sembuh atau bisa jadi terapi buat saya.

Penulis luar: Han Kang.

Kalau Tere Liye pernah saya anggap sebagai mbak-mbak cantik usia dua puluhan sebelum tahu dia adalah seorang bapak-bapak, sedangkan Han Kang awalnya saya pikir adalah seorang laki-laki. Saya baru tahu dia itu perempuan setelah menamatkan bukunya dan mencoba mencari ulasan tentang buku tersebut, lalu menemukan potret dirinya. Saya begitu suka dengan tulisan Han Kang di buku Vegetarian karena kisahnya punya karakter yang kuat. Saya masih enggak menyangka, jika sebuah perubahan kecil menjadi vegetarian dapat berdampak besar bagi orang-orang di sekitarnya. Saya mungkin tipe pembaca yang lebih sreg sama cerita yang bergerak karena didorong oleh ambisi atau kekuatan karakternya (sebagian pembaca mungkin lebih cocok dengan kisah yang digerakkan oleh permainan plot). Perubahan sudut pandang penceritaan dalam buku ini juga menjadi keasyikan tersendiri. Sejujurnya, saya menilai begini bukan lantaran buku tersebut memenangkan penghargaan. Biarpun bukunya enggak memenangkan penghargaan International Man Booker, saya kira saya akan tetap memfavoritkan dan menyukai penulisnya.

Omong-omong, sebelum menjawab Han Kang sebetulnya di kepala saya terlintas nama Hiromu Arakawa, si pencipta Fullmetal Alchemist. Kisah perjalanan kakak-beradik mencari batu bertuah demi mengembalikan tubuh mereka yang lenyap (gara-gara melakukan tindakan tabu bagi seorang alkemis) itu sampai sekarang pun masih cukup sulit tergantikan dari daftar sepuluh besar cerita favorit saya. Sayangnya, dia itu jatuhnya lebih ke komikus, jadi saya membatalkannya.

Saya sadar, jawaban tentang penulis perempuan (khususnya yang luar negeri) ini mungkin bisa lebih bagus lagi, tapi saat ini memang baru itulah yang bisa saya jagokan. Referensi saya dalam membaca penulis perempuan masih teramat minim. Saya bisa saja menjawab Sylvia Plath karena puisi-puisi sedihnya sungguh memikat saya, dan dia juga berparas aduhai. Saya juga bisa menjawab Lydia Davis, yang fiksi kilatnya secara tak langsung menyadarkan saya bahwa ide apa pun bisa diolah menjadi cerita, sekaligus mengajarkan saya untuk bercerita secara ringkas. Namun, saya sudah kadung memilih dan enggak mau membatalkannya. Paling tidak, saya cukup puas dengan jawaban itu. Saya enggak memilih jawaban paling aman dengan menyebut nama J. K. Rowling. Lagi pula, saya tak pernah benar-benar membaca karya Harry Potter sampai habis. Saya cuma pernah membaca buku pertamanya beberapa halaman, dan sisanya dinikmati lewat menonton filmnya.

Apakah kamu membaca karya Eka Kurniawan? Lebih suka tulisan dia dalam bentuk cerpen atau novel? Apa alasannya? Dari jawaban itu, kalau perlu sertakan satu judul buku dari jenis karya yang paling memikatmu untuk diulas, sehingga kamu benar-benar mengetahui: lebih menjagokan cerpen atau novelnya.

Saya malah tidak ingat pernah membaca cerpennya. Pertama kali membaca Cantik Itu Luka pas SMA, membuat saya jatuh cinta dengan gaya bercerita dan dunia dalam ceritanya. Sekalipun Lelaki Harimau itu intens dan seru, saya tetap menjagokan Cantik Itu Luka sebagai perkenalan saya dengan Eka Kurniawan yang menyenangkan.

Ohya, saya kurang pandai mengulas buku. Tapi itulah judul yang saya jagokan jika diminta.

Iya, saya membaca karya Eka Kurniawan. Saya lebih suka cerpen-cerpennya, sebab ide-ide maupun penggarapannya lebih ciamik. Tapi, bisa jadi jawaban ini karena saya seorang penggemar cerpen ketimbang novel, novelet, atau puisi. Anehnya, jika disuruh mengulas saya pengin membicarakan O, yang mana sebuah novel. Alasan saya memilih O karena novel itu bagaikan beberapa cerpen yang coba dijadikan satu kisah utuh. Coba lihat saja, saking bercabangnya alur cerita di buku itu, ada berapa banyak kisah yang sebetulnya bisa berdiri sendiri? Sebelum menjawabnya, beberapa pembaca mengatakan novel itu seperti fabel. Ya, seingat saya di buku itu memang ada cerita tentang monyet, anjing, tikus peramal, burung beo, dan babi ngepet. Sekalipun tokoh-tokoh hewan itu terhubung, sebetulnya tetap ada kisah mereka masing-masing, kan? Itulah yang saya maksud ceritanya bisa tetap berdiri sendiri. Begitu pula dengan cerita manusianya. Ada polisi, buronannya, beserta perempuan di antara mereka yang membentuk cinta segitiga; pasangan pemulung; pasangan muda yang cintanya terhalang dan baru bertemu kembali setelah mereka renta, lebih-lebih saat si lelaki menjadi kiai buta dan sang gadis menjadi orang gila. Jika beberapa kisah sampingan itu dibuang atau dihilangkan atau dihimpun sendiri menjadi kumpulan cerpen, bukankah cerita utama dalam novelnya akan tetap bergerak?

Ketika kisah tentang anjing juga saya temukan di cerpen Setiap Anjing Boleh Berbahagia dalam kumcer Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi, saya mengira mungkin saja sebelum Eka menggarap novel O, kisah-kisah di dalamnya berangkat dari sebuah cerpen dan barulah dia mengembangkan kisah itu sekalian menggabungkannya dengan cerpen-cerpen lain. Analisis ini mungkin sok tahu, tapi begitulah saya melihatnya. Lalu, di buku kumcer yang saya sebutkan tadi, ada Cerita Batu yang menjadi favorit saya. Saya suka sekali dengan ide dan penggambaran benda mati yang memakai majas personifikasi sejenis itu. Mungkin itulah yang bikin saya menjagokan cerpen-cerpen Eka daripada novelnya.

Alasan yang mengurangi kesukaan saya pada novelnya: Cantik Itu Luka kentara sekali pengaruhnya dari Seratus Tahun Kesunyian karya Gabo alias Gabriel Garcia Marquez. Saya agak beruntung karena membaca novel Eka terlebih dahulu. Tapi jika saya lebih dulu membaca karya Gabo, mungkin proses membacanya bakal banyak terganggu. Tentu enggak ada yang salah dengan meniru atau menyerap ilmu penulis lain. Tulisan saya sendiri juga pastilah banyak menyontek dari berbagai bacaan.

Masalahnya, penilaian orang-orang yang saya dengar tentang novelnya terlalu berlebihan, dan jadinya saya sempat berharap banyak. Mau enggak mau saya dulu terpaksa sepakat bilang itu bagus banget karena belum berani memberikan pendapat berbeda kepada teman-teman di sekitar yang menyukainya. Pada pembacaan pertama Cantik Itu Luka sebelum membaca Seratus Tahun Kesunyian, sejujurnya sih saya suka. Tapi semakin ke sini, ada sesuatu yang membuat saya terganggu dengan ulasan yang pernah saya tulis di blog: Novel yang Saya Baca pada Tahun 2017. Kayaknya enggak sebagus itu deh bukunya, pikir saya. Demi meyakinkan penilaian yang mulai ragu, saya memutuskan buat membaca ulang, dan memang ada rasa kecewa yang sulit terjelaskan. Sebagaimana jawaban saya pada nomor 2 yang menyenggol 5 cm itu, terkadang membaca ulang buku yang pernah kita favoritkan dapat mengubah kesan dan penilaiannya. Biarpun Cantik Itu Luka tak separah itu, tetap saja ada pergeseran pandangan seiring bertambahnya referensi atau berubahnya cara berpikir.

Kalau tak salah ingat, kamu pernah menulis tentang satu pilihan menikmati karya film, buku, dan musik buat seumur hidup. Pada bagian buku, kamu memilih Dilan. Jujur aja, saya kaget dengan jawaban itu. Mungkin itu pilihan personal, ada alasan sentimental, dan saya enggak bermaksud mendebat seleramu, tapi apakah benar dari sekian banyak buku di dunia ini kamu tetap memilih buku yang satu itu? Jika saat ini harus merevisi jawabannya, kamu bakal ganti judul apa, dan kenapa?

Untuk saat ini, tidak. Saya benar-benar ingin membuat orang paham alasan saya, tapi setelah berpikir lagi, kayaknya tidak perlu. Toh, ini sangat subjektif. Banyak buku keren yang saya sukai dan bisa saja membawa judul-judul lain kedalam buku favorit dari pertanyaan itu. Tapi ketika saya menulisnya dengan alasan paling keren dan edgy menurut saya, itu seperti menghianati hal-hal didalam diri saya. 

Secara tidak langsung, kisah romansa Pidi Baiq memang hal yang saya nikmati dan kebetulan memenuhi kebutuhan asupan bacaan transisi remaja saya waktu itu. Alasan kenapa saya memilih buku itu untuk dibaca seumur hidup, karena buku itulah yang paling sering saya baca dan tidak pernah membuat saya bosan. Gaya bercerita Pidi Baiq itu unik. Kadang terasa seperti reportase, kadang puitis, kadang juga nyeleneh.

Saat menjawab pertanyaan ini, saya berusaha membayangkan suasana yang berbeda-beda pada masing-masing produk.

Buku

Saya membayangkan akan hidup dalam sebuah penjara selama berpuluh-puluh tahun sebelum nantinya dihukum mati, dan sebelum masuk ke sel yang tak ada hiburannya, saya diperbolehkan membawa satu buku dari koleksi bacaan saya. Kondisi semacam itu mengingatkan saya dengan novelet Albert Camus, Orang Asing, dan otomatis saya juga akan memilihnya. Buku itu banyak yang bilang mengusung absurditas lantaran tokohnya memiliki pemikiran yang aneh. Tapi saking anehnya, saya justru suka. Pada awal-awal saya sungguh sulit mengerti, kok ada sih orang yang jalan pikirannya begitu? Setelah protagonisnya masuk penjara, terutama di bagian perenungan saat dia berada di penjara pada malam sebelum dihukum mati, saya mendadak takjub dibuatnya. Kalimat kesukaan saya di penutup novel: “Seakan-akan kemarahan yang luar biasa itu telah mencuci diriku dari kejahatan, mengosongkan diriku dari harapan. Di hadapan malam yang penuh dengan tanda dan bintang itu, untuk pertama kali aku membuka diri pada ketakacuhan lembut dunia ini.”

Namun, pilihan itu mungkin akan berubah seandainya saya sudah berhasil menamatkan Don Quixote karangan Miguel de Cervantes, The Brother Karamazov karya Fyodor Dostoyevsky, atau The Savage Detectives bikinan Roberto Bolano.

Film

Suasananya mirip seperti di bagian buku, dan saya pun diberikan hiburan dengan memilih satu film buat ditonton selama masa tahanan atau sebelum terjadinya eksekusi. Saya sempat memikirkan film The Green Mile (1999), dan saya pernah menuliskannya di blog begini: Seandainya saya berada di situasi semacam itu alias jadi terpidana mati, saya ingin sekali menonton filmnya sebelum koit. Namun, jawaban saya saat ini telah berubah. Film itu terlalu mengharukan dan bikin saya menangis. Saya enggak pengin mati dalam keadaan sedih. Saya pengin tertawa-tawa atau melepaskan semua beban dalam diri seakan-akan tak ada lagi hari esok. Jadi, jawaban saya: Kungfu Hustle (2004). Siapa coba yang tak terhibur saat menontonnya? Mungkin ada, tapi saya pikir lebih banyak yang menggemarinya, khususnya teman-teman di sekitar saya. Bagi saya, pesona film komedi itu masih tak lekang dimakan zaman. Stephen Chow menjadi protagonis yang konyol dan amat menghibur. Begitu pula tokoh pasangan induk semang, terutama istrinya. Adegan kejar-kejaran antara Stephen Chow dan ibu-ibu itu benar-benar mengocok perut. Adegan ibu-ibu itu merangkul petinggi geng kapak di mobil juga bikin rahang pegal. Bicara tentang geng kapak, tarian geng kapak dan musiknya yang khas itu benar-benar terasa aduhai sekali, ya Allah.

Selain itu, ada nilai sentimental tentang film tersebut. Kungfu Hustle adalah film yang akan selalu mengingatkan masa kecil saya yang sangat menggembirakan bersama Ibu. Harus saya akui, ibu saya bukanlah penikmat film. Saat menonton sinetron pun, yang biasanya jadi favorit emak-emak pada umumnya, ibu saya juga tampak kurang antusias. Tapi dalam seumur hidup saya, di ingatan saya telah terpatri bahwa film Kungfu Hustle adalah satu-satunya film yang bikin ibu saya rela menunda tidurnya, dan mau-maunya menemani saya zaman SD-SMP buat menonton bareng. Film itu tak akan tergantikan di hati saya.

Lagu
Jika dalam buku dan film saya sempat kepikiran jawaban alternatif, pada bagian lagu ini pikiran saya ternyata hanya mengarah ke lagu Explosions in the Sky – The Only Moment We Were Alone.

Sudah sampai dipenghujung segmen, seperti biasa, ini adalah buku-buku rekomendasi dari bang Yoga yang bisa jadi rekomendasi bacaan untukmu.

Klasifikasi Buku Sastra dan Buku yang Dianggap Sampah Tapi Best Seller (Bersama Akbar Yoga)

Roberto Bolano - Between Parentheses 
Subagio Sastrowardoyo - Dan Kematian Makin Akrab
Osamu Dazai - Gagal Menjadi Manusia
Haruki Murakami - Dunia Kafka

A. S. Laksana - Creative Writing

Sampai jumpa diepisod Perspektif Majemuk selanjutnya bulan depan. Untuk clue kolaborator berikutnya masih akan berbasis gambar.

Klasifikasi Buku Sastra dan Buku yang Dianggap Sampah Tapi Best Seller (Bersama Akbar Yoga)

Related Posts

12 comments

  1. Mau nanya kak Akbar. Seriuskah memilih Orang gagal menjadi buku favorit?? Saya baru selesai baca buku ini 2 hari yang lalu, dan buku itu bikin saya habis berkata-kata hahaha, entah susah dijelasinnya. Saya kasian sama Yozo tapi kadang jengkel juga dengan sikapnya.

    Aku pas baca semua pertanyannya, antusiasmenya kak Akbar kayak kelihatan sekali disini ya haha. Kalau soal buku sastra atau sastra banget, aku nyerah. Doh perdebatan semacam ini pasti akan selalu hadir. Rasanya malas berkutik kalo udah menyangkut hal-hal kayak gitu. Jadi biasanya aku diam saja menikmati buku bacaanku sendiri 🤣

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau ditanya ulang sekarang kayaknya pasti berubah deh daftar dari 5 itu. Osamu Dazai bakal saya coret. Haha. Tapi kalau emang mau mengacu ke masa menjawabnya itu, sekitar tahun baru, 5 buku yang muncul di kepala saya memang salah satunya itu.

      Alasan kenapa saat itu memfavoritkannya: saya belum lama namatinnya pada akhir 2020, kesan bagusnya masih menempel, dan ada bagian-bagian dalam buku itu yang terasa dekat buat saya.

      Saya pernah merasa terasingkan dari masyarakat, seperti yang dirasakan Yozo. Kayak ada rasa gagal juga menjadi manusia, jika makna menjadi manusia itu kudu mengikuti standar masyarakat, sementara pikiran saya tentang hidup amat berbeda dari mereka.

      Sebetulnya ada rasa jengkel juga kenapa manusia yang termasuk golongan tajir (bapaknya semacam pejabat gitu kan) kayak Yozo ini bersikap begitu. Apalagi kasus bunuh dirinya yang berkali-kali. Apa iya hidup sebegitu mengerikannya?

      Tapi ya, manusia itu rumit kan. Berhubung saya pernah berada di fase suicidal thought kayak si tokoh maupun Dazai, saya kira perasaan ganjil, gejala kecemasan, ketakutan akan hidup di buku itu benar-benar menggambarkan kalau sisi kelam manusia nyata adanya. Penyakit mental ya memang ada. Dulu mah boro-boro ngerti psikologis manusia. Haha.

      Bicara mengenai tokohnya itu, yang kata kebanyakan orang ada cerminan dari hidupnya Dazai sendiri alias semi biografi, sebetulnya kasihan banget. Masa kecilnya dilecehkan, demi bisa diterima masyarakat kudu jadi manusia palsu, dan ketika udah komitmen mau bunuh diri sama pasangannya, malah gagal dong. Si pasangannya tewas, dia selamat. Dia mau bunuh diri aja gagal lho, gimana enggak menderita coba itu? Jatuh-bangun dalam hidup si tokoh pokoknya terasa relate. :)

      Entah ocehan barusan menjawab atau enggak, seenggaknya saya udah coba menjelaskan.

      Perihal antusias, saya akan selalu antusias terhadap hal-hal yang jadi kegemaran saya, apalagi buku. Atau mungkin saya emang doyan ngebacot. :D

      Delete
    2. Bisaa dipahami kok alasan dari kak Akbar.

      Traumatis, pengalaman trauma masa lalu buat sebagian orang sangat berpengaruh juga nantinya dari bagaimana dia bertindak, memberi keputusan, dan terutama gimana caranya dia menghadapi peristiwa yang sama (bisa kegagalan, kecewa, peristiwa gak enak) untuk yang kedua atau bahkan lebih lagi. Nah apalagi Yozo pake pura-pura, menutupi apa yang sebenernya dia rasa, dari sini aja udah jadi masalah sih. Sedih baca ending dari bukunyaa.

      Btw saya juga penasaran sama tokoh Dazai dari anime BSD. Apa emang terinspirasi dari Dazai osamu sang penulis novel ini?😁

      Delete
    3. Diskusi yang menarik. Pertama kali tau anime BSD itu, saya langsung kepikiran apakah setiap nama karaktet yang digunakan itu diilhami dari biografi tokoh aslinya. Mesti nonton dulu ini mag

      Delete
  2. Baru kali ini aku baca perpektik majemuknya Mas Rahul butuh konsentrasi lebih. Baca jawaban2 Mas rahul dan Mas Akbar bikin aku ikut mikir juga. Mulai dr karya2 yg dianggap sastra, sampai satu buku yg akan dibawa menemani. Klo Al quran bisa dianggap buku, karena sampai skrng aku blm pernh menamatkan baca terjemahan dan tafsir al quran. Baru khatam yg arabnya aja 😆 (jawaban edisi ramadhan. Hehehe..)
    Buat tebakanny, aku blm kebayang nih klu nya. Yg pasti klo liat fotonya itu kontributornya laki2 yaa. 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya pikir, kak Thessa punya perspektif yang menarik soal pertanyaan-pertanyaan itu. Mungkin bisa dijawab juga.

      Kalo untuk kontributornya, cluenya memang laki-laki

      Delete
  3. Samaan kayak Mba Thessa, aku baca Perspektif Majemuk episode ini butuh konsentrasi lebih juga haha... Soal sastra atau bukan sastra ini sempat ngikutin perdebatannya di twitter dan capek sendiri ahahaha... Kayaknya sampai kapanpun bakal selalu ada orang yang mendebatkan hal ini 😂

    Arakawa Hiromu dan Fullmetal Alchemist-nya memang ga bisa dilupakan. Dulu pertama kali kenal Fullmetal Alchemist (yang bukan versi Brotherhood) sempat ga mengira kalau komikusnya perempuan. Setelah tahu, ga heran di Fullmetal Alchemist banyak karakter-karakter perempuan hebat yang rasanya sama sekali ga kalah dibanding karakter laki-lakinya. Tapi menurut pendapat pribadiku (yang lebih banyak menikmati komik daripada novel) komikus mungkin bisa dibilang penulis juga, karena sebelum menggambar komiknya, mereka juga merancang ceritanya kan? 😁

    Tebakannya kali ini aku ga bisa jawab hahhaa. Sempat googling via google image dan karakter itu dari serial Breaking Bad yaa? Tapi kok kayaknya aku ga kenal blogger yang berhubungan/suka dengan Breaking Bad 😅

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, makanya kak Eya, perdebatan macam ini tuh untuk saya bukan nyari benar-salah, tapi untuk memperkaya perspektif aja.

      Setau saya, ada komikus yang memang ngebuat ceritanya tapi tak jarang juga yang fokusnya cuma gambar cerita yang dibuat orang atau penerbit komiknya. Tapi kalo secara harafiah, sekalipun begitu, komikus juga menerjemahkan cerita dari skripnya. Jadi lebih masuk akal disebut pencerita, ketimbang penulis

      Delete
    2. Iya, itu Jesse Pinkman dari serial Breaking Bad. Mungkin kak Eya perlu memperluas kemungkinan-kemungkinannya 😆

      Delete
  4. Uhuy keren ya konten kolaborasi gini wkwkw, aku tau juga tuh yogaakbar wkwkw

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah. Mudah-mudahan dinikmati. Terimakasih

      Delete
  5. Huehehe, baru baca ini dan disebut salah satu irisan buku yang pernah kita baca: Dunia Kafka! Hahahah nggak tau kenapa, excited aja bacanya. Saya sedikit lupa alur cerita bukunya. Terima kasih Rahul \o/

    ReplyDelete
Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.