zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

Persisten adalah Perjalanan Menemukan Ritme

Dalam bukunya yang berjudul "What I Talk About When I Talk About Running", Murakami menganalogikan berlari sama saja dengan menulis. Saya belum membaca buku tersebut, namun saya juga beranggapan demikian. Biar saya ceritakan.

Persisten adalah Perjalanan Menemukan Ritme
Saya cenderung payah dalam berlari. Ketika teman saya sudah selesai tujuh kali memutari lapangan sepakbola, saya masih berada diputaran kelima dan masih terus berjuang agar nilai saya tidak lebih jelek dari nilai lari perempuan. Karena hal tersebut, saya kemudian belajar lari.

Target pertama, saya mencoba mendapatkan lima putaran pertama tanpa berhenti. Alhamdulillah, saya bisa mendapatkanya secara praktis meski harus ngos-ngosan setelahnya. Target berikutnya adalah mendapatkan 5 kilometer pertama, yang dimana kalkulasi lima putaran yang saya dapat hanya setengah dari jarak tersebut. Artinya, saya mesti mendapatkan sekurang-kurangnya 10 kali putaran.

Saya berhasil mendapatkan 5 kilometer pertama dengan sangat bahagia. Itu adalah pertama kalinya saya merasa benar-benar berhasil tanpa bantuan orang lain. Setidaknya begitulah yang saya pikirkan. Disisi yang lain, saya mulai aktif nge-gym lagi. Meski kerapkali berbenturan dengan kuliah online, saya berusaha untuk tetap fleksibel.

Saya percaya, setiap orang punya ritme yang berbeda. Ritme apapun. Ritme menulis, ritme lari, ritme gym, ritme bekerja. Setiap orang punya ritmenya masing-masing. Saya cenderung pelari yang lambat. Makanya, saya sangat jarang mengajak teman untuk berlari. Saya takut menghambatnya atau malah menghambat saya.

Banyak orang kesulitan karena belum menemukan ritme. Sama seperti saya yang terlalu fokus mendapatkan lima putaran dalam waktu yang singkat. Ternyata itu salah. Saya bukan teman saya, dan melakukan ritme yang dia punya hanya akan membuat saya capek sendiri. Dia pelari cepat dan napasnya panjang, saya pelari lambat dan punya napas yang lumayan pendek.

Saya mengakalinya dengan berlari pelan, mengatur tempo agar pernapasan bisa lancar sehingga akan membuat waktu lari saya menjadi panjang. Dengan latihan seperti itu, saya bisa meningkatkan ritme lari setelahnya secara pelan-pelan. Tidak perlu buru-buru, karena musuh terbesar adalah pencapaian diri sendiri.

Begitu juga dengan hal yang lain. Gym, misalnya. Saya tidak bisa menetapkan kapan waktu terbaik untuk latihan untuk semua orang. Waktu terbaik yang saya punya, belum tentu jadi terbaik untuk semua orang. Saya hanya mencoba menyesuaikan dengan kewajiban saya sebagai mahasiswa. Jika ada kuliah sore, saya nge-gym dipagi hari. Begitupun sebaliknya.

Menemukan ritme memang sulit. Cara terbaik menemukan ritme hanyalah dengan persisten. Persisten lari, persisten gym, persisten menulis. Sehingga, kita bisa mengevaluasi. Oh, sepertinya menulis pada jam sekian membuat saya jadi semakin semangat. Oh, berlari pada jam sekian bisa saya lakukan karena bla bla bla. Oh, gym pada jam sekian membuat saya semangat karena pengunjung belum terlalu banyak.

Semua itu tergantung pada individu masing-masing. Ada yang punya ritme menulis baik untuk setiap hari, ada yang tidak. Ada yang punya ritme menulis pagi, ada yang siang, sore, maupun malam dan itu tidak masalah. Dengan menemukan ritme, itu membuat kita tidak lagi membanding-bandingkan kapasitas yang kita punya dengan orang lain.

Misalnya ada yang punya ritme latihan 8 jam sehari, sedangkan kita punya ritme latihan hanya 2 jam sekali. Ketika orang yang punya ritme 8 jam lebih berhasil dan jago ketimbang orang yang latihan 2 jam sekali, itu menjadi bentuk pemakluman dan apresiasi. 

"Orang tersebut memang layak, ia mempunyai ritme dan waktu yang lebih mapan ketimbang saya. Untuk bisa menandingi atau bersanding dengannya, saya mesti meningkatkan ritme saya. Bukan mengikuti ritme latihannya."

Related Posts

6 comments

  1. yess dan setiap orang punya kemampuan sendiri sendiri dan hanya dia sendiri yang bisa tau kapan bisa mencapai titik tertingginya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pada intinya ngga usah terlalu fokus dengan apa yang orang lain capai ya kak Ainun. Garis start, rute, maupun medan tiap orang juga kan beda-beda

      Delete
  2. Saya kira Mas Rahul udah membaca bukunya, penasaran ingin tau gimana pendapat Mas Rahul :D

    Setuju banget nih soal ritme. Sejak anak kedua lahir, saya juga lagi berusaha menemukan ritme baru untuk menulis. Susah-susah gampang karena sekarang waktunya tersita. Perlahan-lahan saya coba aja menjalani hari-hari seperti biasa. Ternyata ya nemu aja ritmenya. Belum cocok banget sih, masih terus beradaptasi. Jadi memang tiap orang itu harus punya ritmenya masing-masing ya (:

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belum kak Jane, baru pulang dari KKN beberapa waktu lalu. Belum sempat baca buku lagi.

      Nah, itu dia. Tiap orang punya jalan hidup masing-masing. Menyesuaikan ritme hidup kita dengan yang lain hanya bikin kita capek. Mending membentuk kebiasan dan jadi ritme untuk kita sendiri

      Delete
  3. Kamu harus segera baca buku itu Hul. Bener-bener mantap buat menjiwai gimana caranya bertahan dalam pekerjaan dengan trek panjang hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siap, Rob. Segera saya baca. Untuk sementara, saya keep dulu di daftar belanja. Ha ha ha

      Delete
Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.