zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

Nolan yang Bikin Pusing hingga Jokan yang Jadi Angin Segar Film Indonesia (Bersama Aina Awliya)

Selamat datang semua! Kembali lagi di BBF, segmen Bincang-Bincang Film dimana saya akan ngobrolin soal film dan series bersama kolaborator-kolaborator keren. Kali ini, kita kedatangan blogger perempuan favorit saya, Aina Awliya dari blog justawl.com. Diblognya, ia banyak bicara soal kehidupan sebagai seorang perempuan, sesekali ngobrolin apa yang ia suka, salah satunya film dan series.

Nolan yang Bikin Pusing hingga Jokan yang Jadi Angin Segar Film indonesia (Bersama Aina Awliya)

Mengindahkan respon dan saran dari teman-teman pada episod perdana kemarin, saya mengambil beberapa saran untuk diterapkan pada episod kali ini. Salah satunya adalah mengubah tulisan dari rata tengah menjadi rata kiri. Mudah-mudahan lebih nyaman untuk dibaca ketimbang sebelumnya. Ohya, saran dan masukan tetap saya terima. Perbaikan akan saya update setiap episod.

Selamat menikmati obrolan kami!

Aina
Halo, Rahul!
langsung disini aja ya?
Rahul
Halo, Aina
Aina
Jadi, kira-kira mulai dari mana nih, Hul😁
excited banget saya kalau ngomongin film
Rahul
Kayaknya saya akan mulai dari jawab pertanyaan kamu kemarin dulu
Aina
oh iyaa oke oke

Standar dan Ekspektasi

Rahul
Kemarin kan kamu sempat nanya, apakah penting untuk film memiliki keterikatan dengan penonton? Bukan hanya dari segi tema dan cerita, tapi juga soal nilai-nilai atau prinsip hidup. Ataukah cukup sebagai sarana hiburan saja?
Pertanyaan yang menarik, Aina
Aina
Iyap, betul Rahul
Rahul
Saya percaya bahwa film mempunyai berbagai macam fungsi untuk penonton. Baik yang didesain sama filmakernya, atau memang kita asumsikan sendiri. Ada film yang saya tonton hanya untuk hiburan, ada juga film yang saya tonton untuk riset macam dokumenter, dan lain-lain
Tak jarang, film yang saya tonton untuk hiburan malah ngasih insight lebih untuk saya
Terlepas dari itu didesain atau tidak oleh filmaker, menurut saya hal ini sangat fleksibel
Kalau pertanyaannya apakah mesti ada keterikatan penonton atau sekadar sarana hiburan, saya jawab dua-duanya bisa saja terjadi. Baik itu memang diniatkan oleh filmakernya atau tidak. Pengalaman menonton, selera, bahkan interest akan sangat berpengaruh dalam memandang hal ini
Itu dari saya, AIna
Mungkin kamu mempunyai pandangan lain
Saya ingin mendengarnya
Aina
In general saya juga setuju, Rahul. Memang nggak ada patokan sebuah film harus begini, harus begitu, atau harus bisa menggapai hati masyarakat sepenuhnya—walaupun mungkin keinginan kesana ada. Tapi, adanya keterikatan juga bisa jadi nilai plus buat film itu sendiri. Karena itu berarti filmmaker ini berhasil membuat karya sesuai dengan tujuannya, atau mungkin lebih dari itu. Mungkin ini bakalan terdengar egois atau seperti karen kali ya, haha entahlah, tapi buat saya faktor ini jadi salah satu yang penting untuk menandai "kesuksesan" film yang saya tonton. Ibaratnya nih, kalau aspek lain ada yang kurang (misal sinematografi, atau visual effect nggak mumpuni), at least ada sesuatu yang bisa saya dapatkan dari film itu. Tentu, selain pesan yang bisa saya ambil. Selebihnya, soal kebutuhan masyarakat itu sendiri saya setuju sih. Karena perihal selera, beda-beda kan yaa. Pastinya fleksibel. Toh, saya juga suka sesekali nonton film untuk hiburan, dan ada keterikatan atau nggak, pasti pada akhirnya ada sesuatu yang bisa saya pelajari.
Rahul
Oh, i see
Aina
Contohnya, ada satu film yang saya ingat pernah tonton hanya karena penasaran dan kebetulan lagi happening waktu itu, judulnya Kim Ji Young; Born1982. Saya rasa Rahul pasti tau, sih😁 Itu juga yang saya cantumin di kuesioner. Awalnya saya udah tau film ini bernafaskan feminisme, tapi nggak banyak ekspektasi. Nggak taunya, hampir dari pertengahan film sampai akhir saya nangis nggak berhenti karena saking merasa relatenya dengan kehidupan di sekitar saya. Jadi, yang awalnya niat untuk hiburan, malah muncul keterikatan itu sendiri. Yaa kurang lebih hampir sama dengan statement Rahul.
Rahul
Nah, gitu maksud saya Aina. Saya jarang (jika tidak ingin menyebut tak pernah) memberi beban yang berat kepada film. Saya selalu datang hanya untuk mendapatkan tontonan, cukup. Terlepas dari itu menghibur, ngasih insight, atau bahkan memperlihatkan hal yang selama ini denial, itu adalah hal yang lain
Ketika datang dengan ekspektasi yang paling rendah, saya dapat menikmati film tanpa perlu merasa kecewa
Aina
Exactly!
Lebih sering kecewa dipatahkan kalau kita berharap terlalu tinggi terhadap suatu film. Ngomong², adakah film yang pernah Rahul tonton, namun kecewa dengan hasilnya karena nggak sesuai ekspektasi?
*maksudnya ekspektasi dipatahkanπŸ˜†
Rahul
Maksud pertanyaannya, apakah saya pernah kecewa oleh suatu film karena ekspektasi?
Aina
Iyap, itu dia maksudnya
Rahul
Karena ekspektasi sulit untuk dikontrol, pastinya pernah. Misalnya, ada satu film yang katanya bagus dan lagi rame. Setelah saya nonton, saya ngga nemu bagusnya di mana. Ada juga ekspektasi yang terbentuk karena standar. Nah, kalo ini kasusnya baru kemarin. Setelah nonton Vincenzo dengan segala keseruannya yang rame, saya nonton serial yang vibes-nya agak mirip, Lupin. Terus ada perasaan kecewa karena tidak seheboh Vincenzo meski temanya sama-sama balas dendam. Padahal, serial ini cukup rame diperbincangkan kemarin
Terus apakah yang salah serialnya? Menurut saya tidak
Standar saya yang salah. Saya tidak bisa menempatkan Lupin ke standar Vincenzo. Itu salah. Lupin bagus pada standarnya, Vincenzo pun begitu
Aina
Ah iyaa, menurun standar itu kadang-kadang perlu ya. Sama kayak minum kopi filter, misalnya, biasanya kita dikasih air putih dulu buat menetralisir rasa yang nempel di lidah kita nanti. Supaya nggak ada "intervensi" dari makanan atau minuman yang kita minum sebelumnyaπŸ€”
Rahul
Nah, kurang lebih seperti itu

Nolan dan Jokan

Aina
Saya juga ada satu film nih, yang nggak perlu pikir panjang kalau ditanya soal kecewa atau nggak. Judulnya Tenet, film keluaran tahun kemarin. Awalnya nonton karena lagi suka banget sama film yang isinya "kejar-kejaran" gini, dan kebetulan pas dicek review-nya pun banyak yang bilang bagus. Setelah ditonton, kok ya saya pusing sendiri sama perpindahan yang terlalu cepat, alur maju mundur yang bertumpuk-tumpuk dan nggak jelas. Akhirnya nggak selesai nonton, cuma sampai pertengahan. Kayaknya saya bakal salut banget sama orang-orang yang ngerti dan suka dengan film iniπŸ˜‚
Lagi-lagi masalah selera
Rahul
😌
Saya tadinya mau nyebut merk, tapi ngga jadi. Sampai akhirnya kamu nyebut salah satunya
Saya suka hampir semua film Nolan, terkecuali Tenet yang tidak saya tonton sampai habis
Aina
Hahaha, nggak apa-apa kan ya Rahul terlanjur sebut merk?
Rahul
Inception bikin pusing, tapi masih bisa saya nikmati
Ngga masalah, Aina
Aina
Nah, itu dia. Sutradaranya juga jadi salah satu faktor kenapa saya berekspektasi sama film ini, ternyata..
Rahul
Di sini mah bebas
Kata orang-orang yang suka dengan filmnya, kita baru bisa ngerti pas dua kali nonton. Tapi sekali aja saya udah nyerah
Bicara soal menyerah dengan film, saya pernah membuat satu tulisan tentang ini setelah gagal menikmati American Psycho
Aina
Masalahnya, kita bisa nonton film lebih dari satu kali itu kalau memang tertarik, kalau nggak ya susah jugaπŸ˜…
Kalau boleh tau tulisan yang mana, Rahul?
Rahul
Saya merasa, film yang gagal kita nikmati perlu kita beri jarak untuk menikmatinya. Mungkin setahun-dua tahun, setelah menonton Tenet, saya bisa menikmati
Aina
Iyaa juga, kalau diberi jarak mungkin masih bisa yaa menikmati
Rahul
Maap kalo jatuhnya saya numpang promosi, tapi ini link tulisannya https://www.rahulsyarif.com/2021/02/fenomena-tilik-stigma-bollywood-dan.html
Aina
Apalagi kalau memang ada sesuatu yang mendasari kenapa ingin nonton film itu
Wah, oke Rahul. Nanti saya coba baca hehe
Rahul
Bicara soal Nolan, kemarin kan kamu bilang salah satu penggemar film-filmnya. Kalo boleh tau, film favorit kamu yang mana? Terus alasanmu suka dengan film-filmnya kenapa?
Aina
Maaf, Rahul. Kayaknya kemarin saya nggak tulis nama Nolan
Rahul
πŸ˜‚
Ah, sori. Ketuker euy
Ha ha ha
Aina
Tapi untuk film Tenet tadi, saya sebatas tau bahwa Christopher Nolan itu salah satu sutradara hebat dan filmnya ada yang pernah menyabet Oscar—walaupun saya nggak nonton, jadi saya menaruh harapan besar sama film TenetπŸ˜‚
Hahaha gapapaaa Rahul
Rahul
Dengan pertanyaan yang sama, tapi Om Nolannya diganti Om Joko
Dari Hollywood kita geser ke Indonesia
Aina
Ah iyaa, saya suka dengan dedikasi dan idealisme beliau dalam memajukan perfilman Indonesia. Walaupun baru bener-bener kenal lewat film Pengabdi Setan, tapi saya sudah yakin saat itu kalau nama beliau di kancah film Indonesia akan jadi napas segar untuk genre-genre film yang lebih diverse dari sebelumnya. Dan rasanya saya bangga banget waktu pertama kali nonton Gundala. Akhirnya Indonesia punya film superhero yang worth watching—selain Wiro Sableng. Saya selalu ingin mengapresiasi seniman-seniman yang berdedikasi tinggi dan nggak pernah berhenti untuk keep on track seperti mas JokanπŸ‘πŸ»
Rahul
Ah, Iya, Gundala! Film Superhero Indonesia banyak yang lagi in development. Ngga sabar untuk nonton. Kalau tidak pandemi, mungkin kita sudah bisa nonton Sri Asih dan kawan-kawannya
Aina
Bener banget, Rahul. Padahal harusnya tahun ini jadi tahunnya film buat saya, sangat disayangkan sih banyak yang diundur🀧
Rahul
Masih soal Joko Anwar, film dia yang paling kamu suka apa?
Aina
Selain Gundala, saya suka banget sama film Perempuan Tanah Jahannam. Mungkin karena saya belum bener-bener sempet nonton semua film beliau, jadi saya nggak bisa claim film ini adalah yang paling bagus, sih. Tapi kalau disuruh pilih di antara film-filmnya Joko Anwar yang ingin saya tonton, mungkin pilihannya jatuh ke Rumah Dara. Liat trailernya aja saya udah kagum banget sama Shareefa Daanish dan suasana gore-nya. The best emang Bang JokoπŸ‘πŸ» *lah tadi mas sekarang bang hahaha
Too bad saya telat kenal Joko Anwar, Hul. Jadi sayang banget banyak film-film beliau yang saya harus cicil tontonπŸ˜‚
Kabarnya Modus Anomali juga baguss, film ini muncul pas dunia horror Indonesia lagi bobrok banget sama komedi-komedi dan adegan vulgar nggak jelas.
Rahul
Perempuan Tanah Jahanam itu keren. Saya suka pembukanya. Ohya, tapi Rumah Dara itu buatan Mo Brothers, Aina. Filmnya memang keren. Tonton
Aina
Wah, saya kira buatan Joko Anwar. Tapi apakah beliau ada andil di film itu?
Rahul
Modus Anomali itu salah satu film Joko Anwar pertama yang saya tonton. Kemudian nonton Kala dan Pintu Terlarang. Salah satu film romance buatannya adalah favorit saya
Aina
Pembukanya gilaaaaaa kerenn abiss, semua penonton di bioskop pada histeris. Inget banget euforia bioskop waktu itu, jadi rindu suasananya🀧
Rahul
Kalau sebagai produser mungkin ngga ada, tapi seingat saya dalam satu wawancara, Mo Brothers pernah bilang kalau mereka iri sama Joko Anwar yang saat itu ngebut film Kala, kemudian ada dorongan untuk bikin hal keren juga
Aina
Nah, dua judul itu juga saya familiar. Review-nya pun keren-kerenπŸ‘πŸ»
Berarti saya salah lihat waktu itu, di internet infonya campur-campur sihπŸ˜‚
Saya ada satu pertanyaan, kalau Rahul ada di kondisi apocalypse dan hanya punya satu kesempatan nonton film Joko Anwar, film apa yang mau Rahul tonton?πŸ˜†
Rahul
Kalau Wikipedia memang bisa diubah-ubah. Ngga heran. Ha ha ha
Aina
Iyaa kan, haha makanya saya waktu cari kumpulan film Jokan, ada poster Rumah Dara disitu lol.
Rahul
Ah, pertanyaan sulit. Menurut saya, film Joko Anwar itu keren. Tapi kalo konteksnya mau ditonton saat kondisi apokalips, saya agak bingung. Kayaknya akan pilih nonton yang ringan-ringan aja, saya bakal nonton A Copy of My Mind, yang juga salah satu film favorit saya
Aina
Iyaa ya, bukan jenis tontonan yang bisa ditonton dalam kondisi kayak gitu. Yang ada malah makin stress, wkwkw
Aina
A Copy of My Mind salah satu film yang juga dapet banyak penghargaan kan, ya? Saya belum pernah nonton, penasaran juga haha. Btw garis besarnya tentang apa sih, Hul?
Rahul
A Copy of My Mind itu singkatnya kisah cinta antara pembuat subtitel film bajakan sama perempuan panti pijat yang doyan nonton film
Filmnya keren sekali, Aina
Apalagi pake lagu Stars on Rabbit
Aina
Hoo, ini kedengerannya unik, sih. Banget. Saya nggak pernah ngira ceritanya ternyata tentang pembuat subtitle film sama perempuan panti pijat, lumayan out of the box yaπŸ˜πŸ‘πŸ»
Saya kira mirip-mirip Filosofi Kopi, buka usaha gitu. Mungkin karena sama-sama ada kata kopiπŸ˜†
Ha ha ha. Bisa gitu yah
Rahul
Premisnya menarik, eksekusinya keren
Kayaknya ada di Netflix
Aina
Iya Hul, saya jadi tertarik beneran sih, haha. Kayaknya setelah ini mau baca-baca dulu review-nya
Film Indonesia itu sebenernya banyak yang bagus, kalau jatuh di tangan yang tepat. Nggak cuma sutradara, produser, tapi semua perangkat produksi. Sayang dulu mungkin nggak terlalu ramai dan sering promosinya. Makanya saya salah satu yang sering ketinggalan info-info film IndoπŸ€”
Rahul
Faktanya, kebanyakan film yang kita nilai bagus itu lahir dari produksi yang sehat dan filmaker yang punya kapasitas dan selera yang bagus. Untuk dapat itu, salah satu yang mesti dicapai adalah budget yang tidak sedikit. Kebanyakan produser cenderung takut untuk mengambil langkah itu karena terlalu beresiko. Film A Copy of My Mind sendiri awalnya memang bukan film komersial. Itu film yang dibuat Joko Anwar khusus untuk festival. Budgetnya pun seingat saya hanya 250 juta. Dibanding film romance lain yang minimal 2 M, itu angka yang cukup mengagetkan bukan. Ha ha ha
Aina
Serius, Hul? Surprising banget sih cuma 250 juta
Rahul
😱
Iya, seingat saya budgetnya cuma segitu
Aina
Nah, itu dia maksud saya. Saya pernah denger salah satu filmmaker Indonesia yang bilang, bahwa sebetulnya banyak dari mereka yang sering terkendala budget. Sementara tekanan banyak datang dari tubuh internal sendiri, bahwa film itu harus bagus, harus begini. Akhirnya dipaksakan berjalan.

[SPOILER ALERT] Ngomongin Ending The Call (2020)

Rahul
Ngomongin film romance, seberapa dekat Aina dengan film romance? 
Aina
Kalau dibanding sekarang, aura kompetisi di dunia perfilman kita beberapa tahun lalu malah nggak kelihatan
Hmmm, kalau dipersentasiin, kayaknya nggak lebih dari 50%. Selain drakor/series, saya termasuk yang jarang banget nonton film genre romance, bahkan saya nggak inget film romance yang paling saya suka apaπŸ˜…. Mungkin karena pada dasarnya saya cukup picky dalam hal film.
Apalagi kalau nonton di bioskop, saya akan prefer nonton film yang ceritanya berbeda, dimana probability untuk bikin saya bosannya lebih sedikit.
Drakor emang juaranya sih bikin saya—at least—bisa nikmatin genre romance, haha. Karena seingat saya cuma drakor yang romance-nya bisa saya tonton.
Rahul
Pantes, saya baca kuesioner kemarin genre favorit kamu ngeri-ngeri juga
Selain karena nyelipun romance, Drakor selalu ngebawa kebaruan dengan temanya
Aina
Hahaha, ngeri gimana, Hul🀣
Rahul
Genre pertama yang kamu sebutkan itu Psychological horror/thriller
Aina
Nah, persis banget! Meskipun romance, tapi itu bukan satu-satunya genre. Bisa diselipin di antara medical, history, sampai drama tentang politik.
Oh iyaaa, saya suka banget film yang bikin muter otakπŸ˜† Ada tantangan tersendiri rasanya. Film pertama genre ini yang saya tonton itu judulnya A Tale of Two Sister, film Korea.
Rahul
Salah satu film pyschological thriler favorit saya itu Unsane. Kalo ngomongin Pyschological thriller/horror, itu tidak lepas dari perkembangan psikologi pemainnya. Saya juga suka. Favorit kamu dari genre ini apa?
Aina
Saya suka film Call, sama-sama dari Korea. Ini film yang rilis tahun kemarin, Rahul.
Rahul
Ah, saya nonton itu, Aina
Bahas itu yuk
Aina
Ah iya, boleh Rahul!
Rahul
Tema lintas waktu dalam film bukan hal baru, tapi Call ini cukup spesial. Terlepas dari katanya itu film remake juga
Kamu masih ingat endingnya kah?
Aina
Kalau nggak salah Kim So-Yeon lagi ngunjungin makam ibunya, tapi di perjalanan pulang semacam ada glitching yang bikin ceritanya jadi open-ending. Bener nggak, Hul?πŸ€”
Dan ada post-credit scene juga kalau nggak salah, dimana So yeon lagi disekap di dungeon karena Young-sook ternyata masih hidup berkat bantuan diri Young-sook sendiri di masa depan. Mind blown kanπŸ˜‚
Rahul
Nah, itu
Kan, ceritanya jadi open-ending tuh
Asumsi Aina bagaimana?
Aina
Pastinya bukan ending yang diharapkan dari sepanjang alur yang memacu adrenalin banget, tapi di sisi lain, kalau endingnya dibuat happy sampai So-yeon bisa hidup bebas dengan atau tanpa ibunya, rasanya film ini bakalan jadi another thriller movie aja, sih. Karena peran Young-sook sebagai psikopat itu kuat banget, makanya open-ending ini pilihan yang tepat imo buat bikin orang lain kepikiran terusπŸ˜†
Dan itu salah satu yang bikin saya suka jugaπŸ€” setelah nonton dibikin, "woaaaah" gitu
Keren, tapi ingin mengumpat, hahaha
Kalau menurut Rahul gimana?
Rahul
Pendapatmu make sense sekali, Aina. Kalo dibuat happy ending, itu mah biasa aja. Akan jadi forgetable setelah nonton. Tapi karena ini ditutup dengan open-ending seperti ini, ruang untuk diskusi jadi terbuka lebar
Ini kayak pas lulus SMA dan berpikir akan merasa bebas, tapi pas kuliah strugglenya malah lebih besar
Ha ha ha
Aina
Bener banget🀣
Penonton jadi merasa diberi ruang untuk ikut memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di endingnya akan seperti apa.
Rahul
Nah, nah. Malah jadi kebuka ruang untuk bikin sekuelnya
Aina
Kyaaaaa itu dia yang saya tunggu-tunggu, Rahul. Entah sengaja dibuat seperti itu atau emang bakal ada sequelnya
Tapi, rata-rata kalau awalnya sudah bagus, akan susah untuk menyamai kesuksesan film pertama karena (lagi-lagi) ekspektasi bakalan lebih besar. Sama kayak film Train to Busan, yang disusul film Peninsula. Saya kurang begitu sreg sama ceritanya. Walaupun beda latarπŸ€”
Rahul
Seperti yang saya bilang tadi, hal itu karena standar. Standar yang menekan filmakernya untuk bikin lebih bagus, standar yang menekan produser untuk bikin yang lebih wah, standar penonton yang mau filmnya lebih bagus dari yang pertama
Tapi ngga bisa dipukul rata juga
Soalnya ada sekuel yang lebih bagus dari pendahulunya
Contohnya, saya lebih suka Thor Ragnarok ketimbang dua film pendahulunya
Aina
Iya juga, standar ini efeknya bisa nggak bagus juga buat filmmakerπŸ€”
Nah, sama kayak film favorit saya juga Rahul, Spiderman 2. Bukan berarti film pertamanya jelek, tapi sequelnya ternyata beyond dari apa yang saya pikirkan. Mungkin sama seperti Thor, bukan berarti pendahulunya jelek kan yaa
Rahul
Iya, Aina. Standar itu bisa jadi pisau bermata dua
Spiderman yang kamu maksud itu yang Tobey atau Andrew?
Aina
Yang Tobey, RahulπŸ˜†
Kalau Andrew jujur saya nggak ngikutin

Menggunjing Silsilah Keluarga dalam Serial Dark

Rahul
Jadi pengen rewatch Spiderman-nya Tobey euy
Tonton deh, Hul, saya kalau lagi bosan dan gak ada pilihan film biasanya nonton ini😁
Aina kan sempat nonton Dark. Itu salah satu serial favorit saya juga. Saya sempat bikin teori sebelum season terakhirnya tayang
Kamu punya opini tidak populer tentang Dark?
Aina
Hm, kayaknya nggak ada deh, Hul. Atau mungkin saya lupa, karena udah hampir setahun juga yaa dari terakhir rilis? Haha. Tapi seingat saya, saya cukup puas sih sama endingnya. Nggak ada yang perlu saya komentari kayaknyaπŸ€”
Kalau menurut Rahul gimana tuh? dan soal teori itu, apakah ada yang sesuai dengan cerita setelah tayang?
Rahul
Seingat saya, dulu pernah ada yang nge-ganjal. Jadi lupa saking udah setahun lebih rilisnya. Ohya, sedikit saya luruskan kalo teori yang saya tulis itu teori yang sebagian saya baca di reddit
Jadi ada beberapa teori yang akurat kayak orangtua Noah dan Agnes
Aina
Mungkin kita harus rewatch dulu baru bisa nemu hal yang bikin ngeganjelnya, RahulπŸ˜‚ Karena 3 season ini, (dua pertama) sering banget ketuker di ingatan saya sendiri
Orangtua Noah dan Agnes itu siapa seharusnya?
Rahul
Orangtua agnes itu Bartosz sama Silja
Saking rumitnya, saya juga sampe lupa urutan waktunyaπŸ˜†
Aina
Bentar, kayaknya saya juga harus googling dulu karena lupa wajahnya yang mana haha. Kalau dulu silsilahnya aja bisa hapal kayaknya, sekarang boro-boroπŸ˜‚
Liat urutannya sedikit aja mulai terasa pusing haha. Keren sih, filmnya. Saluut sama penulis yang bisa menuliskan skrip serumit ini.
Rahul
Iya, Baran bo Odar mah gila
Aina
Rahul ada serial Jerman favorit jugakah? Kalau saya cuma tau Dark sih, itupun pakai yang english dub
Rahul
Kalo serial Jerman, kayaknya cuman Dark. Tapi film-film Baran bo Odar itu keren-keren
Mulai dari The Silence sampai Who Am I
Aina
Wahh, apa dua film itu masih di kisaran genre yang sama atau apa, Hul?
Rahul
Kalau The Silence kasus pembunuhan beberapa tahun yang lalu, Who Am I tentang hacker
Terakhir nih, saya pengen kasih game ke Aina
Aina
Hmm menarik juga
Wihh, game apa Rahul?πŸ˜†

This or That

Rahul
This or that Aina
Tapi wait yah
Aina
Oh, oke bhaiqq
Nanti saya langsung jawab gitu atau kasih penjelasan, Hul?
Rahul
Boleh dikasih penjelasan, boleh tidak
Aina
oke kalau gitu, Rahul
Rahul
Horor / Thriller?
Aina
Thriller, karena lebih variatif ceritanya dan kadang unsur horrornya juga dapet
Rahul
Film / Series?
Aina
film, biar lebih cepat selesaiπŸ˜† Jujur sekarang susah banget fokus untuk nonton series, apalagi yang episodenya banyak. Nonton The Crown aja kemarin banyak diskip.
Rahul
Harry Potter: Buku / Film?
Aina
buku! karena pembaca seakan diberi lebih banyak ruang untuk membayangkan setiap adegan yang detail dalam cerita, dimana detail-detail ini nggak semuanya ada di dalam film
Rahul
Cerita / Akting?
Aina
wahh pertanyaan ini sulit bangetπŸ˜†
tetep cerita sih, definitely. karena itu fondasi yang harus bisa attract penonton.
Rahul
Underrated Movie / Unforgetable Movie?
Aina
underrated movie, karena film-film yang bagus memiliki potensi juga harus mendapatkan tempat di hati masyarakat sih, imo
*yang bagus dan memiliki potensi tapi terhalang beberapa faktor juga harus mendapatkan tempat
Rahul
Wah, terimakasih atas waktunya Aina
Maaf kalau menganggu aktivitas kamu
Aina
Terima kasih kembali, RahulπŸ™ŒπŸ»
Gapapaa, saya lagi free kok. Semoga berjalan lancar dan sukses segmen barunya, yaaa😁
Rahul
Aamiin
See you Aina
Aina
Okee Rahul, stay safe and stay healthy as always yaπŸ™πŸ»
Rahul

Siap, Aina. Kamu juga

--

Selain perubahan tulisan menjadi rata kiri, saya juga membuat sub-pembahasan agar memudahkan teman-teman dalam mencerna obrolan pada setiap kolaborator. Saya masih membutuhkan saran dan masukan untuk membuat segmen ini jadi lebih nyaman untuk dinikmati. Kalau ada pendapat lain dari teman-teman, boleh layangkan komentar di kolom komen tulisan ini. Terimakasih. 

Sampai jumpa di episod berikutnya!

Related Posts

24 comments

  1. Membaca percakapan kalian berdua, rasa-rasanya kalian sangat faham dan ekspert mengenai dunia perfilman yaak..
    Saya jarang menonton film, dan banyak yg tidak mengertti apa yg kalian perbincangkan di isi tulisan ini hehee

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dibilang eksper sih ngga juga mas Dodo. Kami cuma kebetulan dua orang yang punya ketertarikan pada film, jadi ngomongnya nyambung. Mungkin setelah ini, mas Dodo bisa jadi tertarik

      Delete
  2. Belum nonton Tenet, kak. Cuma aku rata-rata suka karya Nolan dimulai dari Memento. Mind blowing banget. Kadang walau sutradara besar ada naik turun dalam karya. Yang konsisten enak menurutku Woody Allen, Quentin Tarantino, dsb.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memento itu salah satu fiilm Nolan pertama yang saya tonton. Awalnya ngga ngerti, setelah nonton lagi, baru mulai ngeh

      Delete
  3. Yeayyy akhirnya naik juga episode kedua! Sebenernya masih banyak yang bisa diulik, tapi nanti khawatir kepanjangan ya Hul, kayak bikin makalahπŸ˜‚ Saya jadi kepikiran untuk buat postingan terbaru tentang film juga, tapi mungkin berupa questions tag. Kayaknya seru, heheπŸ˜…

    Anyway, Hul, kalau saran dari saya nggak ada sih. Paling ada beberapa chat yang seharusnya bagian saya atau masih bagian Rahul, tapi namanya sudah diganti jadi either Rahul, atau saya. Tapi nggak mengganggu juga sih, masih bisa dipahamiπŸ€”

    Ditunggu episode selanjutnyaaa Rahuul, semangatt!!πŸ‘πŸ»πŸ’ͺπŸ»πŸ˜†

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, takutnya malah kelar-kelar jadi skripsi. Tinggal nambah dapus dan minta acc ke dosbing. Ha ha ha. Untuk idenya menarik, saya tunggu Aina. Bacaan tentang film selalu menarik untuk dibaca.

      Nah, iya, saya baru engeh pas baca kembali. Terimakasih sudah mengingatkan

      Delete
  4. Baca ini tuh kayak lagi dengerin talkshow antara Rahul dan Awl, seru bangeeet... Dan yes, aku suka juga formatnya begini, lebih nyaman dibacanya Rahul πŸ‘πŸ‘πŸ‘

    Ngomongin Nolan, kalian berdua udah nonton Dunkirk? Dari semua filmnya Nolan yang biasanya bikin hah heh selama nonton, kayaknya Dunkirk ini yang paling mudah dinikmati menurutku ahaha

    Btw, Awl kayaknya wajib banget nonton Modus Anomali dan A Copy of My Mind. Kalau buat aku pribadi, itu dua film Jokan terbaik. Tapi kalau terfavorit kayaknya Gundala karena itu yang udah ditonton berkali-kali dan membuka jalan buat aku lebih pengin kenal sama superhero buatan Indonesia (udah baca komiknya Godam dan Si Buta dari Goa Hantu dua-duanya baguuuss) 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. AH IYAA!! Dunkirk! Aku hampir lupa sama film ini, padahal cukup amazed juga pas nonton tahun lalu di sela-sela quarantine. Sejujurnya waktu itu nggak ngeh kalau directornya Christoper NolanπŸ˜† Fix ini jadi salah satu film perangnya Nolan kesukaanku. Kalau nggak salah yang main ada Tom Hardy sama Harry Styles kan ya? Endingnya haru tapi satisfied banget. Thanks udah ngingetin, kak Eya!🀣

      Dan yass btw dua film Jokan itu dari dulu mau nonton nggak jadi-jadi mulu, haha. Gundala emang keren banget, nggak sabar ingin nonton film BCU yang lainnya juga😭 Semoga bisa segera tayang😭😭

      Delete
    2. @Eya: Wah, alhamdulillah kalau begitu. Saya memang mengonsepkan segmen ini jadi kayak talkshow. Makanya, dua episod ini saya masih meraba-raba forrmat yang menarik dan nyaman untuk dibaca.

      Saya sudah nonton Dunkirk dan malah sudah agak lupa ceritanya. Menurut saya, cerita Nolan yang paling ringan itu malah Trilogi The Dark Knight. Jadi pengen rewatch lagi.

      Nah, kan, dapat rekomendasi A Copy of My Mind lagi dari kak Eya tuh. Ha ha ha

      Delete
    3. @Aina: Gara-gara pandemi, harusnya kita sudah bisa nonton Sri Asih :(

      Delete
  5. Aku langsung keinget Endgame-nya Pak Gita Wirjawan bacanya hahahaha. Anyway format yang sekarang rata kiri dan ada subbab bahasannya bikin lebih nyaman dan ngerti topik besar yang dibahas mas Rahul. Good Job.

    Dari film-film yang kalian bahas, aku relate sama The Call, Kim Jiyoung Born 1982 sama Spiderman. The Call aku suka banget, deg-degannya dapet, terus nggak terlalu bingungin juga. Walaupun ada yang mereview alur ceritanya nggak konsisten tapi aku nggak merasakan itu.

    Kim Jiyoung Born 1982 waktu nonton filmnya vibenya kayak baca bukunya. Jadi merenung dan ada rasa jengkel juga ke sistem patriarki hahahaha.

    Sama kayak Awl aku juga nggak ngikutin Spiderman yang udah diperanin sama Andrew. Kalau salah ini tu ceweknya Emma Stone kan, yang jadi Gwen. Awalnya gemes terus kok kayak...ah nggak asik ah. xD Soalnya Gwen meninggal bukan sih? Cmiiw.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salah satu referensi yang saya adopsi memang datang dari obrolan podcast dan YouTube. Salah satunya yah Endgame-nya Gita Wirjawan itu. Salut saya, belio bisa ngobrol panjang lebar tapi topiknya rapi dan ngga lompat-lompat.

      Belum nonton Kim Jiyoung, tapi The Call memang salah satu thriller favorit saya tahun ini. Keren. Yap, benar sekali kak Endah, Emma Stone disitu memerankan Gwen

      Delete
  6. Rahul dan Awl pernah nonton i’m thinking of ending things? Aku mau rekomendasiin film ini semisal kalian belum nonton..

    Tenet itu....agak aneh, filmnya keliatan kayak berbelit-belit kalo dibandingkan sama Inception, inception masih nyaman untuk di tonton sampai abis. Kayaknya mesti rewatch Tenet lagi nih πŸ‘€

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belum nih, kak Rekaa. Tapi seingatku film ini pernah aku masukin wishlist bareng sama film The Devil All the Time (awalnya nonton yang ini dulu), dan kayaknya kelupaan nggak pernah cek list lagiπŸ˜‚ Makasi rekomendasinya kak Rekaa!!😍

      Delete
    2. @Haloreka: saya belum nonton kak Reka, tapi sudah tau filmnya. Belum ada kepikiran untuk nonton dalam waktu dekat, kata orang pacenya lambat dan dialognya mayan berat. Sekarang lagi nyari yang ringan-ringan dulu. Ha ha ha.

      Karena belum nonton sampai selesai, saya belum bisa kasih komentar. Tapi setengah jam pertama masih bisa saya nikmati

      @Just Awl: The Devil All the Time itu bagus. Vibesnya mirip-mirip seri Counjuring yang baru

      Delete
  7. Wah, dari semua judul film yang dimention, kebanyakan aku hanya tahu aja, belum pernah nonton kecuali Gundala yang memang bikin bangga banget sama Indonesia sewaktu nonton filmnya, sampai terharu banget karena Indonesia akhirnya punya film superhero yang berkualitas dan bikin aku pribadi pengin ngikutin kelanjutannya gimana πŸ₯ΊπŸ‘πŸ»
    Ehiya sama Thor. Kemarin itu aku baru nonton Thor 1 karena selama ini belum pernah nonton. Jika dibandingkan sama Thor Ragnarok, jauh bangettt. Thor Ragnarok jauh lebih keren dan bikin aku suka karakter Thor. Jadi kadang sekuel lebih bagus dari film pertamanya, hal ini juga aku rasakan hahaha

    Anyway, format kali ini udah lebih nyaman dibaca, Hul 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gundala memang keren. Saya menyimpan banyak harapan untuk BCU yang punya aset IP yang cukup untuk membuat universe yang keren. Treatment yang digunakan Taika Waititi sangat fresh dan bikin Thor Ragnarok jadi film yang menyenangkan.

      Btw, terimakasih kak Lia. Secara bertahap masih akan terus saya kembangkan

      Delete
  8. hai haiiii

    akhirnya ada Aina disini.
    untuk tampilan barunya, aku suka, dibikin sub sub gini jadi lebih spesifik dan terarah pertanyaannya.

    dari sekian judul film yang disebut, belum pernah ditonton dan cuman filosofi kopi aja yang aku tau
    film keluaran korea sepertinya memang bagus bagus dan satu yang dari dulu pengen aku tonton, yaitu Parasit.
    film yang dapet penghargaan di ajang film internasional saking bagusnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah. Segmen ini akan terus berkembang kak Ainun. Mudah-mudahan tetap menarik dan menyenangkan.

      Parasite itu film bagus. Dari filmaker Bong Joon-ho, yang bikin banyak film keren. Kalo mau tontonan bagus, mungkin bisa coba salah satu film Bong Joon-ho

      Delete
  9. Aku uda nonton Tennet sampe abis!! Betul-betul dibuat pusing karena lebih pusing daripada Inception hahaha.... Sejujurnya yang nonton baru setengah jalan, mending dilanjutin sampe akhir karena pas uda kelar baru dah lebih tercerahkan. Tapi memang nonton Tennet kayanya ga cukup sekali. Butuh sekali lagi biar lebih paham... Hehehe... Tapi menurutku kalo disuruh pilih mending Tennet ato Inception, aku akan pilin Inception. Hehehe

    Buat Call juga aku sudah nonton... Ini menegangkan banget!! Nontonnya aku ga full sih. Keskip hal-hal lain dan yak endingnya yang gantung begitu bikin aku sebel dan bertanya-tanyaaaa... Hahaaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maksudnya, kak Frisca nontonnya dilompat-lompatin?

      Iya, saya memang ada kepikiran untuk nonton ulang meski belum dalam waktu dekat. Masih ada beberapa watchlist yang numpuk

      Delete
    2. Buat nonton Call aku ga fokus haha karena yang nonton sbenernya adek aku. Nah aku tu lagi mainan HP gitu, tapi jadi keikut nonton karena suaranya bikin mancing aku pengen nonton hahaha

      Delete
  10. Saya termasuk penggemar Nolan sejak trilogi Batman. Menurut saya, kunci menonton filmnya cuma tetap fokus biar bisa paham dan enggak terlewatkan detail. Dia kan gemar menyebar potongan-potongan informasi di sepanjang filmnya.

    Itu serius pusing nonton Inception, Hul? Bukannya itu masih tergolong mudah dan normal, ya? Apakah bingungnya di bagian bedain mana nyata dan mimpi? Atau konsep waktu yang berjalan? Film ini justru jadi karya Nolan favorit saya. Apalagi sejak sadar kalau totem Cobb itu cincin kawinnya. Yang gasing kan punya istrinya. Atau setiap kali muncul tokoh bapaknya (Michael Caine), itu kejadian di realitas. Sial, segampang itu buat dipahami. Konsep menyelundupkan gagasan lewat mimpi tentu sungguh keren.

    Terus terkait enggak kelar menonton Tenet, bagi saya, sih, Tenet termasuk lebih mudah diikuti ketimbang Memento. Walaupun setelah akhir film ada bagian yang perlu saya putar ulang lagi, ya. Haha. Agar lebih yakin kalau adegannya memang begitu. Coba tonton lagi aja, nanti akan kagum sendiri. Intinya, sejak awal film, misi si protagonis itu udah selesai, dunia udah baik-baik aja, dan cuma membuat si protagonis memahami seluruh kejadian.

    Sementara Memento, istigfar saya nontonnya. Sudah nonton dua kali masih terasa mumet. Ketiga kalinya baru bisa terbiasa dan paham semuanya. Yang penting ingat clue dan bisa bedain urutan kejadian lewat cerita yang dipisah dua bagian: layar hitam putih dan berwarna. Yang satu berjalan maju, lainnya mundur.

    Tapi paling aman mah nonton trilogi Batman aja. Asyik tanpa harus pusing. Apalagi tokoh Joker terbaik sejauh ini ada di film itu.

    Kalau soal Dark, udah malas membahasnya, tapi saya kira agak terburu-buru penggarapannya (efek pandemi juga, sih). Andai ditambah satu episode lagi mungkin rasa mengganjal di hati itu bakal hilang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, awal-awal nonton masih agak bingung membedakan mana nyata dan mimpi. Tapi setelah nonton ulang, baru ngeh setelah memperhatikan detil-detilnya.

      Kalo Memento, kebetulan pas nonton sekali sudah paham dan teman yang sudah nonton lebih dulu juga ngejelasin beberapa detil yang kelewat. Konsep Memento menurut saya malah yang paling simpel dengan pembagian cerita hitam putih. Nonton ulang cuma untuk memastikan penjelasan dari teman saya.

      Sudah agak lupa detilnya karena pas nonton kayaknya pas SMP. Kalo soal The Clown Prince of Crime, saya setuju dia Joker yang paling keren. Tapi soal development karakter, saya masih senang film Joker.

      Kalo mau pembelaan, ada misteri yang memang hanya jadi misteri. Ha ha ha. Ohya, memangnya Dark terkena efek pandemi yah?

      Delete
Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.