zsnr95ICNj2jnPcreqY9KBInEVewSAnK0XjnluSi

Rekap Vakum Sebulan

Setelah hampir sebulan vakum ngeblog, akhirnya saya mulai kembali membangun niat. Sedikit demi sedikit. Vakum itu tidak dalam rangka apa-apa, saya hanya ingin mengambil waktu yang lebih banyak untuk diri saya.

Menandai kembalinya kak Eno, rupanya saya tergerak untuk ikut kembali. Masa-masa vakum kemarin banyak saya isi dengan bermain dengan kawan-kawan masa SMA sampai menghadiri acara pernikahan sepupu. Akan saya rekap dalam postingan (yang mudah-mudahan) singkat ini.

Sharing Session

Sebulan kemarin, saya kembali main dengan kawan-kawan SMA. Maksudnya, kawan SMA kelas 1, sebelum pembagian kelas jurusan IPA/IPS. Semakin sering ngumpul, hubungan lama itu jadi semakin intim. Membawa kami pada sesi pembicaraan yang cukup dalam pada pengalaman masing-masing dari kami.

Rekap Vakum Sebulan

Awalnya, itu hanyalah diskusi biasa tentang dasar-dasar kehidupan yang coba kami jawab berdasarkan jurusan kami masing-masing. Mulai dari Iskar yang basisnya Ekonomi, Adit yang basisnya Hukum, sampai saya sendiri yang basisnya Sastra. Misalnya, saya bertanya kepada seorang teman jurusan Hukum; apakah ia pernah melanggar dan merasa tidak masalah karena pelanggaran kecil?

Sesi diskusi pelan-pelan bertransformasi secara tidak sengaja menjadi sesi curhat. Kami banyak mengobrol soal perempuan dan cara kami memandang hubungan. Kami mempunyai latar belakang hubungan yang sama-sama kacau. Tidak perlu saya jelaskan di sini, tapi itulah yang bisa saya katakan.

Diantara malam-malam yang panjang itu, biasanya kami isi dengan makan gorengan. Sering lupa pulang karena topiknya terlalu menarik untuk diakhiri.

Balada Vaksin

Setelah gerakan #MariVaksin sudah lama digemakan, saya baru tergerak ketika Iskar mengajak. Alasan saya menunda vaksin bukan karena saya anti vaksin atau semacamnya. Itu lebih kepada karena saya malas berada di situasi mengantre dengan puluhan orang. Apalagi solusinya mesti bangun pagi untuk menghindari antrean. Itu jelas bukan solusi yang bisa saya pertimbangkan.

Rekap Vakum Sebulan

Hari pertama, kami datang ke Perguruan Tinggi Bina Husada untuk melakukan vaksinasi. Kami datang agak telat, orang sudah penuh mengisi kursi antrean. Kami mengambil formulir dan meminjam pulpen dari peserta vaksin. Setelah mengisi data, kami menunggu. Karena gabut dan lapar, kami memutuskan untuk sarapan di kantin kampus yang jaraknya tidak jauh dari sana. 

Cuaca hari itu sangat tidak mendukung. Hujan turun ketika seorang teman KKN datang. Kami ngobrol banyak hal, dan menjadi gampang ketika teman dari teman kami sudah saling mengenal. Karena hujan, kami agak lama berada di sana. Hampir pukul 2 sore, baru kami kembali ke gerai vaksin. Antrean masing penuh diiringi suara yang memanggil nama peserta vaksin.

Di Bina Husada, kami bertemu teman SMA yang sekolah di sana. Kami menggunakan waktu antre dengan ngobrol. Sebelum akhirnya pengumuman dari sumber suara mengatakan bahwa dosis vaksin telah habis. Untuk peserta yang belum dipanggil, dipersilahkan besok datang kembali. Banyak peserta vaksin yang protes akibat sudah lama menunggu.

Kami pulang, tapi tidak benar-benar pulang ke rumah. Kami singgah di rumah seorang teman setelah membungkus nasi padang. Rencana vaksin akan kami lanjut besok. Saya bangun pagi-pagi sekali demi mendapatkan antrean paling awal. Berdua dengan Iskar, kami datang kembali ke Bina Husada. Sialnya, jadwal vaksin lanjutan kemarin diundur ke hari Senin.

Karena tidak mau pulang dengan sia-sia, kami mencari gerai vaksin yang tersedia hari itu. Setelah mencari kemana-mana, akhirnya pemberhentian kami berujung di UMK. Kami kembali mengambil formulir, namun hanya mengisi formulir antrean karena formulir biodata dari gerai Bina Husada mirip dengan gerai di UMK. 

Meski rame, antrean di gerai UMK cukup bagus dan terstruktur. Tidak butuh waktu lama hingga nama kami dipanggil dan melakukan pemeriksaan standar. Setelah itu, kami akhirnya benar-benar telah divaksin. Sempat terjadi perdebatan ketika suster yang menangani saya berkata untuk jangan tegang. Saya berusaha untuk rileks. Suster berkata lagi jika saya tetap tegang jarum suntik bisa tertinggal. Saya makin panik.

Rekap Vakum Sebulan

Setelah vaksin, kami melakukan pengecekan dan penginputan data. Untuk efek sampingnya, saya hanya merasa agak berat dibagian lengan. Beberapa orang menganjurkan untuk mencerna air kelapa setelahnya. Karena tak tahu mesti beli di mana, kami ke kantin Fakultas Hukum untuk sarapan dan minum susu. Saya pikir, susu sudah bagus sebagai pengganti air kelapa.

Resepsi Pernikahan

4 September kemarin, saya dan beberapa kawan pergi menghadiri resepsi pernikahan keluarga. Dengan pembatasan sosial, resepsi dilakukan secara sederhana dan tidak mengundang banyak orang. Perjalanan dari rumah ke tempat resepsi memakan waktu kurang lebih setengah jam. 

Rekap Vakum Sebulan
Karena ngantuk dan gabut saat acara, saya mengajak seorang teman untuk mencari warung. Balik dari warung, acara sudah hampir kelar dan perjamuan akan dilakukan. Kami makan dengan jamuan yang sudah disediakan. Kemudian naik ke atas panggung untuk berfoto dengan kedua pengantin sebelum akhirnya pulang.


Begitulah rekapan vakum sebulan dalam postingan pendek ini. Ada banyak peristiwa yang terjadi, tapi saya pikir itu sudah cukup untuk saat ini. Mudah-mudahan ada waktu biar saya bisa persisten untuk nulis lagi di blog ini. Ciao!!

Newest Older

Related Posts

6 comments

  1. Bentar, bentar... Ini hal baru. Emang iya ya jarum suntiknya bisa ketinggalan?? Kok serem ya 😭😭

    Tapi emang sih makin tegang kulit, makin susah disuntiknya. Yang penting, udah beres dosis pertama ya iniii? 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya cuma buat becandaan saja kak Mega. Ha ha ha.

      Iya, rencananya vaksin kedua bulan depan. Jadi kayaknya akan saya update lagi di blog ini

      Delete

  2. Wadduh??? Serem amat itu, jarum suntik ya bisa ketinggalan. Tapi, yang penting sudah vaksin kan ??? Kalau saya belum vaksin, soalnya sistem imun tubuh belum benar - benar fit.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, vaksin pertama sudah kak Enda. Teman saya juga masih belum vaksin karena belum fit. Intinya mah ngisi kuesionernya jujur aja, biar ketahuan layak vaksin atau tidak

      Delete
  3. Yaaaay, ayo kembali menulis yang banyak, mas Rahul 😆

    By the way, as usual, seru baca cerita mas Rahul, khas kegiatan anak muda 😂 Jadi ikut membayangkan obrolan sharing session sama teman-teman jaman sekolah. Seems fun 😍

    ReplyDelete
  4. Wiiiiih, munculnya barengan Kak Eno. Pantesan tab reading listku penuh lagi wkwk.

    Btw, pas baca bagian Resepsi Pernikahan kirain kamu yang nikahan wkwk.

    Welcome back yaaa! Saya juga lagi berusaha membangun niat buat nulis lagi.

    ReplyDelete
Terimakasih sudah membaca. Sila berkomentar terkait tulisan ini.